Kecepatan Berita Versus Kecepatan Virus

Kompas.com - 01/04/2020, 15:00 WIB
Gambar emoticon analysis terhadap berita corona Depok. Facebook Damhuri Muhammad/Drone EmpritGambar emoticon analysis terhadap berita corona Depok.

Pada Februari 2020, virus Covid-19 sudah keluar China tetapi belum masuk ke Indonesia. Pemerintah, khususnya Menteri Kesehatan, masih menganggap enteng masalah ini.

Duta besar negara-negara sahabat dan perwakilan WHO mendesak Indonesia agar bersikap lebih serius dan segera mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

Masyarakat mulai khawatir, berita-berita ancaman Covid-19 menyebar di jejaring komunikasi interpersonal. Harga masker mulai naik, empon-empon banyak dicari. Virus Covid-19 belum masuk tapi infeksinya mulai terasa.

Pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia yang menimpa 2 orang WNI di Depok. Berita ini menjadi headline di semua media massa tanah air.

Ketakutan menyebar dengan cepat, hal ini seperti terekam dalam peta emosi percakapan di Twitter oleh mesin Drone Emprit.

Kampus-kampus mulai melakukan antisipasi dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Harga masker semakin mahal dan mulai jarang di pasaran. Kasusnya baru 2 orang tetapi beritanya telah menginfeksi ketakutan dan antisipasi.

Pada 12 Maret 2020, organisasi kesehatan dunia WHO menyatakan wabah virus Covid-19 sebagai pandemi, yang artinya virus Covid-19 sebagai wabah patogen baru yang menyebar dengan mudah dari orang ke orang di seluruh dunia.

Data-data penyebaran Covid-19 hingga akhir bulan Maret 2020, menunjukkan penyebaran Covid-19 di Indonesia dan di dunia semakin meningkat. Beberapa model matematika mengenai pola penyebaran Covid-19 dari para ahli beredar di grup-grup media sosial.

Semua model penyebaran Covid-19 menggambarkan pola yang sama, yaitu kenaikan penyebaran Covid-19 secara eksponensial.

Kekhawatiran publik meningkat dengan berita-berita bergugurannya tenaga medis di lapangan serta kekurangan alat pelindung diri (APD) dan fasilitas penunjang kesehatan lainnya di rumah sakit-rumah sakit berbagai daerah.

Berita ini memicu solidaritas sosial. Banyak komunitas masyarakat mengambil inisiatif dengan menyelenggarakan pengumpulan dana untuk membantu tenaga medis di lapangan.

Sebagai mana Rogers dan Siedel dalam penelitiannya diatas, respon orang terhadap berita yang mengkhawatirkan salah satunya adalah memunculkan solidaritas dan aksi sosial.

Di luar isu kurangnya APD dan fasilitas kesehatan lainnya, isu lockdown mulai meningkat. Berita mengenai beberapa negara yang telah mengambil langkah lockdown menyebar di media massa dan grup-grup media sosial.

Kelompok-kelompok masyarakat seperti organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, dan individu-individu warga negara menyerukan diterapkannya kebijakan lockdown segera oleh pemerintah pusat. Di media sosial, isu lockdown kemudian menjadi isu yang kontroversial.

Dari rekaman mesin DroneEmprit yang diambil dalam rentang waktu 20 – 27 Maret 2020, total pembicaraan mengenai lockdown di Twitter mencapai 391.411 percakapan, dengan pola pro-kontra yang jelas.

Peta Social Network Analysis mengenai pro-kontra isu lockdown di Twitter.Facebook Ismail Fahmi Peta Social Network Analysis mengenai pro-kontra isu lockdown di Twitter.

Menurut Elizabeth Noelle-neumann (1974), pro-kontra sebuah isu merupakan prasyarat terbentuknya opini publik. Pro-kontra akan meningkatkan aliran informasi di jejaring sosial karena baik yang pro maupun yang kontra akan aktif mengeskpresikan pendapatnya. Artinya, penyebaran berita mengenai lockdown akan lebih cepat dan menjadi perhatian publik.

Dari uraian di atas, penyebaran virus Covid-19 memang sangat cepat dan mengkhawatirkan, tetapi lebih mengkhawatirkan lagi adalah penyebaran rasa takut, khawatir, putus asa dan kemarahan yang sangat cepat menghinggapi publik tanah air sebagai efek dari kecepatan penyebaran berita mengenai wabah Covid-19 beserta bumbu-bumbunya.

Belajar dari peristiwa-peristiwa di dunia, bahwa penyebaran virus Covid-19 walaupun cepat tetapi masih dapat kita tekan dan kurangi, tetapi kecepatan penyebaran berita terkait Covid-19 sudah tak terbendung lagi.

Implikasi sosial

Di era digital saat ini, berita atau informasi mustahil dapat dibendung, terutama di negara demokratis.

Saat ini, penyebaran berita mengenai wabah Covid-19 beserta bumbu-bumbunya semakin cepat dan tidak dapat dihindari.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Update Virus Corona 10 Juli 2020: 12,3 Juta Orang Terinfeksi, Ini 5 Negara dengan Kasus Tertinggi

Update Virus Corona 10 Juli 2020: 12,3 Juta Orang Terinfeksi, Ini 5 Negara dengan Kasus Tertinggi

Tren
Saat Bali Jadi Tuan Rumah Pertama Aksi Pengembalian Lumba-lumba Tawanan ke Alam...

Saat Bali Jadi Tuan Rumah Pertama Aksi Pengembalian Lumba-lumba Tawanan ke Alam...

Tren
Rekor 2.657 Kasus Baru Covid-19, Berikut 3 Cara Menekan Laju Penyebaran Virus Corona

Rekor 2.657 Kasus Baru Covid-19, Berikut 3 Cara Menekan Laju Penyebaran Virus Corona

Tren
Ada Bukti Virus Corona Menyebar di Udara, Ini yang Harus Kita Waspadai

Ada Bukti Virus Corona Menyebar di Udara, Ini yang Harus Kita Waspadai

Tren
[POPULER TREN] Kasus Pembobolan BNI | Daftar 10 Provinsi dengan Kasus Baru Tertinggi

[POPULER TREN] Kasus Pembobolan BNI | Daftar 10 Provinsi dengan Kasus Baru Tertinggi

Tren
Ramai soal Dampak Tak Pakai Bra Selama WFH, Simak Penjelasan Dokter

Ramai soal Dampak Tak Pakai Bra Selama WFH, Simak Penjelasan Dokter

Tren
2.657 Kasus Baru Covid-19 di Indonesia, Apa Penyebab Utamanya?

2.657 Kasus Baru Covid-19 di Indonesia, Apa Penyebab Utamanya?

Tren
Berikut 10 KA Jarak Jauh yang Beroperasi Mulai 10 Juli 2020 dari Jakarta

Berikut 10 KA Jarak Jauh yang Beroperasi Mulai 10 Juli 2020 dari Jakarta

Tren
Apakah Vaksin Virus Corona Aman dan Efektif? AS Akan Melihatnya Akhir Tahun Ini

Apakah Vaksin Virus Corona Aman dan Efektif? AS Akan Melihatnya Akhir Tahun Ini

Tren
Mengenal Food Estate, Program Pemerintah yang Disebut Dapat Meningkatkan Ketahanan Pangan...

Mengenal Food Estate, Program Pemerintah yang Disebut Dapat Meningkatkan Ketahanan Pangan...

Tren
Dua Kemungkinan soal Penggembungan pada Tubuh Gunung Merapi...

Dua Kemungkinan soal Penggembungan pada Tubuh Gunung Merapi...

Tren
Viral, Video Cara Mematikan Kutu dengan Raket Listrik ke Tubuh Kucing, Ini Penjelasan Dokter...

Viral, Video Cara Mematikan Kutu dengan Raket Listrik ke Tubuh Kucing, Ini Penjelasan Dokter...

Tren
Maria Pauline Lumowa Diekstradisi Setelah 17 Tahun Buron, Bagaimana dengan Djoko Tjandra?

Maria Pauline Lumowa Diekstradisi Setelah 17 Tahun Buron, Bagaimana dengan Djoko Tjandra?

Tren
Analisis Pakar Penerbangan soal MV-22 Osprey Block C, Benarkah Sering Jatuh?

Analisis Pakar Penerbangan soal MV-22 Osprey Block C, Benarkah Sering Jatuh?

Tren
Gunung Merapi Disebut Alami Penggembungan, Berikut Analisis BPPTKG

Gunung Merapi Disebut Alami Penggembungan, Berikut Analisis BPPTKG

Tren
komentar
Close Ads X