Kecepatan Berita Versus Kecepatan Virus

Kompas.com - 01/04/2020, 15:00 WIB
Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) menyemprotkan disinfektan di sepanjang jalan protokol dari monas sampai bunderan senayan di Jakarta, Selasa (31/3/2020). Penyemprotan disinfektan dalam rangka mitigasi pencegahan virus corona (COVID-19). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas Pemadam Kebakaran (Damkar) menyemprotkan disinfektan di sepanjang jalan protokol dari monas sampai bunderan senayan di Jakarta, Selasa (31/3/2020). Penyemprotan disinfektan dalam rangka mitigasi pencegahan virus corona (COVID-19).

Apalagi di masa penerapan work from home (WFH) atau social distancing saat ini, di mana orang tidak lepas dari dawainya untuk terus mengikuti perkembangan wabah Covid-19.

Semakin tertutup informasi dari pemerintah, semakin berkembang spekulasi-spekulasi dan desas-desus di masyarakat. Jenis desas-desus biasanya akan tinggi tingkat kecepatan penyebarannya, karena rasa penasaran orang.

Desas-desus berbeda dengan berita bohong atau fake news. Menurut Shibutani (dalam Dan Nimmo, 2005, hal. 221), sebenarnya desas-desus adalah pengganti berita.

"Jika saluran yang dilembagakan untuk komunikasi seperti pers tidak menyajikan informasi untuk membantu orang menghilangkan ambiguitas dan mengurangi ketidak-pastian, orang bergabung untuk memenuhi permintaan mereka akan berita dengan menyusun desas-desus".

Saat ini, yang perlu diwaspadai oleh kita bersama adalah peluang terjadinya penyebaran berita bohong atau fake news yang seringkali memperburuk keadaan. Bagaimana mengatasi penyebaran fake news Covid-19 saat ini?

Pertama, keterbukaan informasi dari pemerintah dalam penanganan wabah virus Covid-19. Keterbukaan informasi akan memenuhi kebutuhan orang akan informasi pasti untuk mengelola situasi ketidak-pastian sehingga dapat mengurangi peluang diterimanya fake news.

Kedua, kejelasan strategi pemerintah dalam penanganan wabah Covid-19. Kejelasan langkah-langkah yang diambil pemerintah akan meningkatkan kepercayaan publik serta mengurangi potensi penyebaran fake news yang berdasarkan pada imajinasi.

Ketiga, menghilangkan jurang pemisah komunikasi antara pemerintah dengan warga negara. Kritik-kritik atau tuntutan dari warga negara sebaiknya ditanggapi oleh agen-agen komunikasi pemerintah sehingga terjadi dialog yang terbuka dan membangun.

Keberadaan partisan atau buzzer pendukung pemerintah dalam menghadapi kritikan pada pemerintah hanya akan meningkatkan pro-kontra yang pada akhirnya semakin menyuburkan keberadaan fake news.

Keempat, dalam situasi mencemaskan seperti saat ini, mengedepankan postingan-postingan positif akan membangun kekuatan bersama menghadapi wabah Covid-19.

Kesadaran ini akan mengurangi keinginan menyebarkan fake news yang biasanya lebih banyak membawa rasa takut dan khawatir.

Kelima, media massa sebaiknya menghindari bias atau missleading dalam penulisan judul artikel.

Ada kebiasaan orang yang hanya mem-forward judul berita karena sesuai dengan sikap pribadinya saja tanpa mengecek terlebih dahulu apakah judul artikel mencerminkan isi berita.

Pers yang sehat dan bertanggung-jawab pada akhirnya akan menjadi tumpuan pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat sehingga keberadaan fake news semakin tidak memiliki tempat.

Sebagai penutup, kita tidak perlu terlalu risau dengan tingkat penyebaran berita mengenai Covid-19 ini selama ada keterbukaan dan kejelasan langkah-langkah dari pemerintah.

Satu hal yang perlu diperhatikan, fenomena menyebarkan berita sudah menjadi perilaku utama orang di era media sosial ini.

Sebagaimana diungkapkan oleh sebuah lembaga riset jurnalistik PEW Research Centre pada tahun 2012, yaitu "jika mencari berita adalah aktivitas yang paling utama di dekade lalu, mungkin membagi berita adalah hal yang utama di masa mendatang".

Dr Sudarto
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X