WHO: Vaksin Virus Corona Covid-19 Siap dalam 18 Bulan Lagi

Kompas.com - 12/02/2020, 15:35 WIB
Sekretaris Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa pada 30 Januari 2020. Tedros mengumumkan status darurat dunia atas virus corona yang hingga saat ini, sudah membunuh 212 orang di China. AFP/FABRICE COFFRINISekretaris Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa pada 30 Januari 2020. Tedros mengumumkan status darurat dunia atas virus corona yang hingga saat ini, sudah membunuh 212 orang di China.

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization ( WHO) menyatakan, vaksin virus corona Covid-19 akan siap dalam 18 bulan lagi.

"Jadi hari ini kita harus melakukan semuanya dengan menggunakan perangkat atau sumber daya yang tersedia untuk melawan virus ini," kata Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Selasa (11/2/2020), dikutip dari Reuters.

Dia menyatakan, dengan 99 persen kasus berada di China, maka wabah ini menjadi darurat di negara tersebut. Meski demikian, tetap menjadi ancaman besar di negara lain di dunia.

WHO juga menekankan bahwa proses pencarian vaksin dan obat untuk virus baru biasanya berhasil setelah pengujian selama beberapa tahun dan diwarnai dengan kegagalan.

Namun, dengan adanya perkembangan teknologi baru saat ini, diharapkan vaksin virus corona bisa lebih cepat ditemukan.

Saat ini, lebih dari 400 peneliti dari seluruh dunia berusaha menemukan vaksin tersebut.

Sebelumnya, WHO telah menetapkan nama untuk virus corona asal Wuhan, yakni Covid-19.

Dia mengatakan, virus itu dinamai Covid-19 untuk menghindari stigma dan nama-nama lain yang mungkin tidak akurat.

"Sejujurnya, virus ini lebih kuat untuk menciptakan gangguan politik, sosial, dan ekonomi dibanding serangan terorisme. Ini adalah musuh terburuk yang bisa dibayangkan," katanya.

Baca juga: WHO: Lebih Kuat dari Serangan Terorisme, Virus Corona Musuh Publik Nomor 1

Jumlah korban Covid-19

Pada Selasa (11/2/2020), otoritas kesehatan China melaporkan 97 kematian baru yang disebabkan oleh wabah Covid-19 dan 2.015 kasus yang baru dikonfirmasi. 

Ini membuat total kematian di China akibat virus tersebut menjadi 1.113 kasus dan 44.653 orang terinfeksi.

Sampai Selasa (11/2/2020), sebanyak 744 pasien yang pulih telah dipulangkan, sedangkan jumlah total pemulihan mencapai 4.740 kasus.

Di luar Provinsi Hubei, pusat epidemi Covid-19 tercatat jika infeksi baru di China turun selama delapan hari berturut-turut.

Perbarui sistem pelaporan

Di sisi lain, sekelompok ilmuwan telah menyerukan untuk memperbarui sistem pelaporan kasus virus corona. 

Perbaruan sistem penting untuk mengatasi penundaan waktu yang terjadi antara indikasi pertama jenis virus baru di Provinsi Hubei dengan pelepasan informasi penting tentang susunan genetiknya untuk kesehatan global.

Dalam sepucuk surat kepada The Lancet pada Selasa (11/2/2020), kelompok itu menyerukan sistem pelaporan baru yang memperhitungkan kecepatan sequencing generasi berikutnya saat ini.

Dua penulis surat itu duduk di Komite Darurat Peraturan Kesehatan Internasional WHO, yang memberikan nasihat tentang kapan sebuah virus baru harus dinyatakan sebagai darurat kesehatan global dan menjadi perhatian internasional.

Status itu diberikan kepada penyebaran virus corona baru pada 30 Januari.

Baca juga: WHO Resmikan Nama Virus Corona Wuhan COVID-19

Para ilmuwan mempertanyakan apakah penggunaan pola pelaporan tradisional untuk penemuan patogen baru telah memperlambat proses pelaporan.

Mereka menyarankan perbaikan yang memungkinkan para ilmuwan untuk melaporkan keberadaan sumber penyebab penyakit sebelum diisolasi.

Para ilmuwan juga mengakui "peran penting" dari dokter dan ilmuwan dalam deteksi dini wabah di China. Peran ini tidak hanya dimainkan oleh dokter yang melaporkan kasus di rumah sakit mereka, tetapi oleh delapan dokter yang dituduh menyebarkan "berita palsu".

Hal itu setelah informasi tentang wabah itu tersebar secara online dan dokter yang dianggap sebagai whistleblower, Li Wenliang, kemudian meninggal karena penyakit tersebut.

“Sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan. Alih-alih ada pelajaran yang dapat dan harus dipelajari oleh komunitas kesehatan global agar kita dapat merespons dengan lebih baik peristiwa EZV (virus zoonosis baru) berikutnya, yang hampir pasti akan terjadi lagi. Pelajaran ini jelas tidak unik untuk China,” tulis mereka.

Baca juga: WHO Umumkan Nama Resmi untuk Virus Corona: Covid-19

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X