Merefleksikan Joker (3): 1 dari 10 Orang Indonesia Alami Gangguan Jiwa

Kompas.com - 13/10/2019, 10:00 WIB
Joker. SHUTTERSTOCKJoker.


Artikel ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang Film Joker. Sebelum membaca, silakan baca dulu tulisan pertama dan kedua.

-------------------------

KOMPAS.com - Setiap 40 detik ada satu orang di dunia ini yang bunuh diri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 79 persen kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada 2016.

Di Indonesia, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI, dr Fidiansyah, Sp.Kj, menyebut, setiap hari setidaknya ada lima orang yang bunuh diri.

Depresi yang berujung bunuh diri ini mengancam mereka yang berada di usia produktif.

"Usia paling banyak (melakukan) bunuh diri itu 15 sampai 29 tahun, generasi milenial," kata Fidiansyah dalam siaran langsung melalui akun Instagram Kemenkes, Kamis (10/10/2019).

Bunuh diri menjadi muara bagi masalah kejiwaan yang tidak tertangani.

Ini terjadi ketika seseorang merasa tak memiliki harapan hidup lagi akibat depresi. Bisa juga muncul halusinasi yang menyuruhnya untuk bunuh diri.

Soal gangguan kejiwaan, Indonesia menjadi salah satu negara yang terburuk baik pencegahan maupun penanganannya.

Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan.

Hal ini berarti, satu dari sepuluh orang di negara ini mengidap gangguan kesehatan jiwa. Indonesia jadi negara dengan jumlah pengidap gangguan jiwa tertinggi di Asia Tenggara.

Gangguan kejiwaan yang paling tinggi yakni kecemasan (anxiety disorder). Jumlah pengidapnya lebih dari 8,4 juta jiwa.

Selain itu, ada sekitar 6,6 juta orang yang mengalami depresi. Ada juga 2,1 juta orang mengalami gangguan perilaku.

Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2013 menyebut prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 1,2 per seribu orang penduduk.

Artinya, ada 1-2 orang yang menderita skizofrenia setiap 1.000 penduduk.

Sementara untuk gangguan mental emosional tercatat hanya 6 persen saja pada tahun 2013.

Kendati demikan, tidak ada penjelasan klasifikasi gangguan mental emosional. Padahal, spektrum gangguan kesehatan mental sangat luas dan beragam.

Belum melayani pasien

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam paparan Mental Health Action Plan 2013-2020 menyebut, sistem jaminan kesehatan di mana pun belum melayani pasien yang mengalami gangguan mental emosional.

Itu sebabnya terjadi kesenjangan yang tinggi antara orang-orang yang membutuhkan penanganan masalah kejiwaannya dan angka orang-orang yang tertangani.

Catatan WHO menunjukkan 76-85 persen orang dengan gangguan mental berat di negara yang berpendapatan rendah dan menengah tidak mendapat penanganan yang semestinya.

Di Indonesia, 96,5 persen penderita skizofrenia tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai.

Artinya, kurang dari 10 persen penderita skizofrenia mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.

Data dari Kementerian Sosial menunjukkan hingga 2018, Indonesia hanya memiliki 48 rumah sakit jiwa.

Sebanyak 32 rumah sakit jiwa adalah milik pemerintah dan 16 lainnya merupakan bentukan swasta.

Ilustrasi.SHUTTERSTOCK Ilustrasi.

Sementara itu, hanya sekitar 2 persen dari 1.678 Rumah Sakit Umum yang memiliki layanan kesehatan jiwa.

Jumlah tempat tidur yang dialokasikan untuk pasien psikiatrik hanya ada 7.500 tempat tidur di seluruh Indonesia.

Sejak integrasi layanan kesehatan mental ke Puskesmas pertama kali diperkenalkan pada tahun 2000, hanya sekitar 7 persen dari 9.000 puskesmas yang dapat memberikan layanan kejiwaan.

Belum lagi soal persebarannya yang belum merata. Ada delapan provinsi yang sama sekali tak punya rumah sakit jiwa.

Delapan provinsi itu yakni Kepulauan Riau, Banten, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Gorontalo, NTT, Papua Barat, dan Kalimantan Utara.

Padahal, angka pengidap gangguan kesehatan jiwa di Gorontalo, NTT, dan Banten cukup tinggi.

Jumlah tenaga medis khusus untuk kesehatan jiwa atau psikiatri juga masih minim. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 247 juta jiwa, Indonesia hanya memiliki 800 psikiater.

Itu artinya, cakupan pelayanan seorang psikiater sekitar satu berbanding 300.000-400.000 orang.

Padahal, standar pelayanan yang ditetapkan WHO untuk jumlah tenaga psikiater dengan penduduk, yaitu satu berbanding 30.000 orang.

Manfaatkan BPJS

Gangguan kesehatan jiwa tak bisa dianggap sepele.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah itu terjadi?

BPJS kesehatan memastikan pelayanan kesehatan jiwa turut ditanggung. Di tahun 2018, anggaran yang disiapkan untuk pelayanan kesehatan jiwa sebesar Rp 1,25 triliun.

"BPJS Kesehatan ingin memastikan setiap warga negara mendapatkan jaminan kesehatan dalam program ini, termasuk penyakit terkait gangguan jiwa," kata Kepala Humas BPJS Kesehatan Muhammad Iqbal Anas Ma'ruf.

Caranya sama seperti berobat untuk penyakit lainnya. Peserta BPJS harus datang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama, puskesmas atau klinik.

Dokter umum di faskes pertama kemudian akan merujuk peserta ke spesialis kesehatan jiwa.

Selain mengandalkan BPJS Kesehatan, Anda juga bisa menghubungi hotline jika sewaktu-waktu muncul pikiran bunuh diri.

Berikut daftar layanan konseling yang bisa Anda kontak maupun untuk mendapatkan informasi seputar pencegahan bunuh diri:

1. Into The Light
Facebook: IntoTheLightID
Twitter: @IntoTheLightID
Email: intothelight.email@gmail.com
Web: intothelightid.org

2. Save Yourselves
Facebook: Save Yourselves
Instagram: @saveyourselves.id
Line: @vol7047h

3. Yayasan Pulih
Email: pulihcounseling@gmail.com
Web: yayasanpulih.org/konsultasi-online
Twitter: @yayasanpulih
Instagram: @yayasanpulih

 

Selesai


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X