Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Alasan WHO Beri Nama Baru Varian Virus Corona Gunakan Alfabet Yunani

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan nama-nama baru untuk varian virus corona SARS-CoV-2 yang telah terdeteksi di berbagai negara.

Sebelumnya, publik cenderung mengasosiasikan varian baru virus corona dengan negara atau wilayah tempat varian tersebut pertama kali terdeteksi.

Misalnya, varian B.1.1.7 lebih dikenal oleh publik sebagai varian Inggris, sebab varian tersebut pertama kali terdeteksi di negara itu.

Akan tetapi, pelabelan varian virus dengan suatu negara berpotensi mengakibatkan stigmatisasi pada negara yang terasosiasikan dan juga warga negaranya.

Menghindari stigma

Oleh karena itu, WHO memutuskan untuk memberikan nama-nama baru bagi varian virus corona, yang tidak terkait dengan suatu negara namun masih tetap mudah diingat.

Kepala Teknis Covid-19 WHO Maria Van Kerkhove mengatakan, tidak ada negara yang boleh mendapatkan stigma hanya karena mendeteksi dan melaporkan varian virus corona.

"Tidak ada negara yang boleh distigmatisasi karena mendeteksi dan melaporkan varian," kata Van Kerkhove melalui akun Twitter-nya, 31 Mei 2021. 

Nama baru varian virus corona

Melansir laman resmi WHO, varian-varian baru virus corona diberikan nama sesuai alfabet Yunani, seperti Alpha, Beta, dan Gamma, yang lebih mudah diingat kalangan non-akademisi.

Berikut nama-nama baru varian virus corona:

  • Varian Inggris B.1.1.7 disebut Alpha
  • Varian Afrika Selatan B.1.351 disebut Beta
  • Varian Brasil P.1 disebut Gamma
  • Varian India B.1.617.2 disebut Delta
  • Varian Amerika Serikat B.1.427/B.1.429 disebut Epsilon
  • Varian Brasil P.2 disebut Zeta
  • Varian B.1.525 disebut Eta
  • Varian Filipina P.3 disebut Theta
  • Varian Amerika Serikat B.1.526 disebut Iota
  • Varian India B.1.617.1 disebut Kappa

Nama-nama baru tersebut diharapkan mempermudah publik non-akademisi untuk mengingat jenis-jenis varian, dan menghindarkan terjadinya stigmatisasi terhadap suatu negara.

Sementara itu, nama lama yang berbasis kode huruf dan angka masih akan dipakai untuk kepentingan ilmiah.

Sempat pertimbangkan nama Dewa Yunani 

Melansir The Guardian, Selasa (1/6/2021) pakar bakteriologi Mark Pallen, yang terlibat dalam proses penamaan varian baru mengatakan, keputusan untuk menggunakan sistem penamaan baru terhadap varian virus corona telah dipertimbangkan selama beberapa bulan.

Dia menyebutkan, sebelum memutuskan menggunakan alfabet Yunani, para ahli sempat mempertimbangkan kemungkinan lain, seperti memakai nama-nama Dewa Yunani, antara lain Zeus, Poseidon, Hades, dan seterusnya.

Secara historis, penyakit sering dinamai menurut lokasi yang diasosiasikan sebagai tempat asal penyakit itu, seperti virus Ebola, yang namanya diambil dari nama sungai di Kongo.

Namun, asosiasi semacam itu dapat memberikan citra negatif bagi tempat-tempat yang namanya dipakai.

Tidak hanya itu, penamaan penyakit menggunakan nama tempat juga seringkali tidak akurat, seperti pada penyakit "flu Spanyol" tahun 1918, yang asal-usulnya masih belum diketahui.

Diskriminasi terhadap ras Asia juga diketahui meningkat, sebagai akibat dari pandemi dan hubungannya dengan lokasi pertama wabah terdeteksi, yakni di Wuhan, China.

Kelompok anti-ekstremis Amerika Serikat mengatakan, peningkatan kasus kekerasan dan perundungan terhadap warga Asia-Amerika sebagian disebabkan oleh Donald Trump, yang menyebut Covid-19 sebagai "virus China". 

https://www.kompas.com/tren/read/2021/06/02/143600465/alasan-who-beri-nama-baru-varian-virus-corona-gunakan-alfabet-yunani

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke