Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Cerita Melawan Hoaks dari Berbagai Negara...

Dari Indonesia, selain dua perwakilan Kompas.com, ada pula 5 orang fact-checker yang dari Liputan6.com, Tirto.id, dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo).

Berbagai hal dibahas dalam pertemuan tersebut, mulai dari pengenalan pembaruan teknologi, hal-hal yang bersifat teknis, hingga berbagi pengalaman upaya melawan hoaks dan penanganannya di berbagai negara.

Secara sederhana, dari pengalaman yang dibagi sejumlah fact-checker dari berbagai negara, dipahami bahwa isu yang muncul dan berkembang menjadi hoaks di masing-masing negara berbeda satu dengan yang lainnya.

Banyak faktor yang memengaruhinya.

Meski ada perbedaan, penyebaran hoaks relatif sama, yakni melalui berbagai media sosial maupun aplikasi perpesanan WhatsApp.

Salah satu cerita dibagikan fact-checker asal India, Abhisek Kumar, yang berbincang dengan Kompas.com, di sela pertemuan. 

Kumar mengaku mendapatkan banyak hal baru selama mengikuti pertemuan fact-checker global ini.

Salah satunya, mengenai teknologi pengumpul data di internet, Crowdtangle, yang dinilainya sangat membantu kerja cek fakta dalam mendeteksi dan mengatasi hoaks yang merebak.

“Crowdtangle sangat baik, ada banyak fitur baru yang dapat membantu kerja kita semua ke depannya. Dia juga bisa menampilkan konten yang dibagikan di Facebook,” kata Kumar yang juga merupakan Editor in Chief Indian Express, Rabu (6/11/2019).

Di India, Kumar menjelaskan, Facebook menjadi media sosial yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan informasi.

Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, informasi hoaks yang menyebar India relatif sama dengan Indonesia.

Tak hanya isu-isu seputar politik, tetapi juga soal hal remeh, seperti obat penurun berat badan, dan sebagainya.

Namun, kata Kumar, yang menjadi keresahan adalah tersebarnya informasi bohong yang bisa memicu tindakan di masyarakat.

Ia menyebutkan salah satu contohnya.

“Ada satu yang menurut saya sangat menarik, ketika tersebar pesan melalui WhatsApp tentang pembunuhan sekelompok orang. Pesan itu kemudian membuat masyarakat beramai-ramai melakukan kekerasan untuk melawan pihak yang dimaksud sebagai pembunuh dalam pesan yang tersebar, itu sangat mengerikan,” ujar dia.

Sementara itu, fact-checker asal Nigeria, Oluwatosin Alagbe, mengungkapkan, konten hoaks yang menyebar di negaranya cukup kompleks.

“Banyak kabar bohong yang itu berbicara tentang campuran isu antara agama, kesukuan, dan politik,” kata Alagbe.

Menurut dia, informasi itu menyebar melalui media sosial maupun aplikasi percakapan.

Adapun cara yang digunakan untuk mengecek kebenaran suatu informasi, apakah hoaks, atau bukan, dari berbagai negara relatif sama, yakni menggunakan berbagai tools seperti Google Image Reverse, Google Maps, data, dan mengonfirmasi ke pihak-pihak terkait/berwenang.

Menurut Alagbe, dari pertemuan ini, ia bisa bertemu secara langsung dengan tim Facebook sehingga bisa berdiskusi mengenai berbagai hal terkait upaya melawan hoaks.

Fact-checker asal Vera Files, Filipina, Celine Isabelle Samson dan Ellen Tordesillas, mengungkapkan, informasi hoaks yang beredar di negaranya cukup beragam.

Tak hanya soal politik, tetapi juga selebriti dan disinformasi seputar kesehatan.

Celine menyebutkan, lembaganya melakukan verifikasi atas berbagai informasi tersebut, terutama klaim politisi atas sejumlah hal.

Menurut dia, verifikasi klaim politisi penting dilakukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar.

"Tidak hanya itu, kami juga memverfikasi informasi viral soal kesehatan, sosial, selebriti. Kerja cek fakta yang sama juga ternyata dilakukan di banyak negara," kata Celine.

Ia mengatakan, dari pertemuan sesama pemeriksa fakta ini, ia mendapatkan wawasan mengenai berbagai kerja yang dilakukan di negara lainnya.

Sementara itu, Ketua Mafindo Septiawan Aji Nugroho, mengatakan, pertemuan pertama yang mempertemukan puluhan organisasi periksa fakta dari berbagai negara ini mendorong peningkatan kapasitas kerja cek fakta di masing-masing negara.

Selain berbagi pengalaman, para peserta juga mendapatkan wawasan mengenai penggunaan berbagai tools yang mendukung kerja cek fakta.

"Peningkatan usability Crowdtangle adalah salah satu hal penting bagi fact-checker untuk lebih mudah menggali informasi di Facebook. Kami menilai ada beberapa peningkatan yang diharapkan bisa membantu fact-checker melakukan tugasnya untuk debunking," kata Aji.

Menurut dia, pertemuan ini menjadi kesempatan yang baik untuk saling bertukar pengalaman baik dengan sesama fact-checker dari berbagai negara dan lembaga yang mengelola sertifikasi IFCN.

"Sangat penting untuk ke depan saling kerja sama meningkatkan kapasitas fact-checker, sekaligus mengadopsi keunggulan maupun belajar dari lesson learned masing-masing negara," kata dia.

Media-media dan organisasi yang berpartisipasi dalam forum ini adalah media/organisasi yang telah tersertifikasi International Fact-Checking Network (IFCN).

Kompas.com merupakan satu dari beberapa media di Indonesia yang telah tersertifikasi IFCN sejak Oktober 2018.

Melalui kerja cek fakta, para fact-checker melakukan konfirmasi apakah informasi yang beredar hoaks, fakta, maupun informasi yang butuh klarifikasi karena tak sepenuhnya benar atau salah.

Dengan demikian, diharapkan para pengguna Facebook akan mengetahui kebenaran suatu konten dengan membaca hasil pengecekan yang telah dilakukan sehingga menjadi bahan pertimbangan sebelum menyebarkan konten yang sama kepada teman atau pengikutnya.

https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/12/091600465/cerita-melawan-hoaks-dari-berbagai-negara-

Terkini Lainnya

NASA Perbaiki Chip Pesawat Antariksa Voyager 1, Berjarak 24 Miliar Kilometer dari Bumi

NASA Perbaiki Chip Pesawat Antariksa Voyager 1, Berjarak 24 Miliar Kilometer dari Bumi

Tren
Profil Brigjen Aulia Dwi Nasrullah, Disebut-sebut Jenderal Bintang 1 Termuda, Usia 46 Tahun

Profil Brigjen Aulia Dwi Nasrullah, Disebut-sebut Jenderal Bintang 1 Termuda, Usia 46 Tahun

Tren
Jokowi Teken UU DKJ, Kapan Status Jakarta sebagai Ibu Kota Berakhir?

Jokowi Teken UU DKJ, Kapan Status Jakarta sebagai Ibu Kota Berakhir?

Tren
Ini Daftar Gaji PPS, PPK, KPPS, dan Pantarlih Pilkada 2024

Ini Daftar Gaji PPS, PPK, KPPS, dan Pantarlih Pilkada 2024

Tren
Pengakuan Ibu yang Paksa Minta Sedekah, 14 Tahun di Jalanan dan Punya 5 Anak

Pengakuan Ibu yang Paksa Minta Sedekah, 14 Tahun di Jalanan dan Punya 5 Anak

Tren
Jadi Tersangka Korupsi, Ini Alasan Pendiri Sriwijaya Air Belum Ditahan

Jadi Tersangka Korupsi, Ini Alasan Pendiri Sriwijaya Air Belum Ditahan

Tren
Daftar Lokasi Nobar Indonesia Vs Uzbekistan Piala Asia U23 2024

Daftar Lokasi Nobar Indonesia Vs Uzbekistan Piala Asia U23 2024

Tren
Bolehkah Penderita Diabetes Minum Air Tebu? Ini Kata Ahli Gizi UGM

Bolehkah Penderita Diabetes Minum Air Tebu? Ini Kata Ahli Gizi UGM

Tren
Bandara di Jepang Catat Nol Kasus Kehilangan Bagasi Selama 30 Tahun, Terbaik di Dunia

Bandara di Jepang Catat Nol Kasus Kehilangan Bagasi Selama 30 Tahun, Terbaik di Dunia

Tren
La Nina Berpotensi Tingkatkan Curah Hujan di Indonesia, Kapan Terjadi?

La Nina Berpotensi Tingkatkan Curah Hujan di Indonesia, Kapan Terjadi?

Tren
Kasus yang Bikin Bea Cukai Disorot: Sepatu Impor hingga Alat Bantu SLB

Kasus yang Bikin Bea Cukai Disorot: Sepatu Impor hingga Alat Bantu SLB

Tren
Biaya Kuliah Universitas Negeri Malang 2024/2025 Program Sarjana

Biaya Kuliah Universitas Negeri Malang 2024/2025 Program Sarjana

Tren
Hari Pendidikan Nasional 2024: Tema, Logo, dan Panduan Upacara

Hari Pendidikan Nasional 2024: Tema, Logo, dan Panduan Upacara

Tren
Beredar Kabar Tagihan UKT PGSD UNS Capai Rp 44 Juta, Ini Penjelasan Kampus

Beredar Kabar Tagihan UKT PGSD UNS Capai Rp 44 Juta, Ini Penjelasan Kampus

Tren
Semifinal Indonesia Vs Uzbekistan Piala Asia U23 2024 Hari Ini, Pukul Berapa?

Semifinal Indonesia Vs Uzbekistan Piala Asia U23 2024 Hari Ini, Pukul Berapa?

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke