Teungku Chik di Tiro: Kehidupan, Perjuangan, dan Akhir Hidup

Kompas.com - 28/05/2021, 19:07 WIB
Teungku Chik di Tiro WikipediaTeungku Chik di Tiro

Sebagai balasan, Belanda memperkuat benteng mereka di Lambaro, Aneuk Galong, dan Samahani.

Selama tahun 1882 sampai 1883, Belanda dan Aceh terus bertempur. 

Pada awal 1883, pasukan di Tiro menyerang benteng Belanda di Kutaraja (Banda Aceh), namun gagal.

Kendati demikian, mereka berhasil membunuh penguasa Belanda. 

Pada puncak peperangan, daerah kekuasaan Belanda di Aceh mulai berkurang, yang tadinya menguasai hampir seluruh Aceh menjadi hanya 4 kilometer persegi tanahnya saja.

Pada 1885, di Tiro mulai merasa bahwa Belanda sudah siap untuk menyerah.

Untuk itu, ia mengirimkan ultimatum kepada Asisten Residen van Langen menawarkan perdamaian jika Belanda bersedia masuk Islam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa orang Belanda pun menyatakan bersedia, tetapi rupanya mereka diketahui sebagai mata-mata. 

Pada 1888, di Tiro kembali mengirimkan surat kepada Belanda, tetapi tidak mendapat tanggapan.

Baca juga: WR Supratman: Kehidupan, Karya, dan Akhir Hidupnya

Akhir Hidup

Selama beberapa tahun, di Tiro masih memimpin pasukannya untuk melawan Belanda.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.