Kompas.com - 30/04/2021, 13:17 WIB
[Tangkapan Layar] Tari Kendalen Wiroyudo Youtube.com/ Dimas Arya Prasetya[Tangkapan Layar] Tari Kendalen Wiroyudo

KOMPAS.com - Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan budaya. Kepulauan Indonesia berada pada letak geografis yang luas sehingga menimbulkan perbedaan budaya juga bahasa.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 300 jenis tarian tradisional dari setiap daerah. Salah satunya adalah Tari Kendalen.

Dilansir dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Tari Kendalen berasal dari dusun Kendal, Desa Jetak Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tari Kendalen berkembang dari tari keprajuritan yang diciptakan setelah Mangkunegaran mengalahkan VOC pada masa kepemimpinan Pangeran Sambernyawa.

Baca juga: Tari Soya-Soya, Tarian Perang dari Maluku Utara

Pada saat itu Pangeran Sambernyawa yang bernama asli Raden Mas Said dapat memukul mundur tentara VOC. Walau harus mengorbankan banyak prajurit dari Mangkunegaran.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tari Kendalen adalah tarian yang menggambarkan prajurit yang gagah dan berani. Makna Tari Kendalen merupakan tari keprajuritan yang ditarikan untuk menghormati dan menyemangati pada prajurit yang berperang.

Kostum Tari Kendalen 

Penari Tari Kendalen menggunakan busana khas prajurit daerah Jawa Tengah. Biasanya tidak menggunakan baju atasan.

Penari Kendalen menggunakan celana sepertiga khas jawa tengah atau surjan, dan dilengkapi oleh kain batik dipinganggnya.

Penari Kendalen menggunakan ikat pinggang dan juga selendang di pinganggnya. Penari Kendalen menggunakan properti berupa kuda dari ayaman bambu atau yang sering dikenal sebagai kuda lumping atau jaran kepang.

Baca juga: Tari Topeng Kuncaran dari Jawa Barat

Mereka juga menggunakan penutup kepala dengan riasan wajah yang menyimbolkan kegagahan seorang prajurit.

Gerak tari

Dilansir dari Lensa Budaya, Tari Kendalen ditarikan oleh 14 orang penari laki-laki dalam dua babak yaitu babak bendrong dan babak umbaran.

Babak bendrong menyajikan tarian buta-butaan menggunakan topeng buta dan dimaknai sebagai penganggu.

Babak umbaran kemudian diisi oleh penari berupa prajurit yang mengendarai kuda, disimbolkan dengan kuda lumping. Prajurit kemudian mengalahkan buta dan menarikan tarian penutup Kendalan.

Tarian Kendalan ditarikan dengan dinamis dan harmonis namun juga memberikan kesan gagah, berani, penuh semangat selayaknya seorang prajurit yang turun ke medan tempur dan diiringi oleh gendhing (nyanyian) jawa.

 Baca juga: Asal Usul Tari Batu Nganga, Nusa Tenggara Barat


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X