Kompas.com - 09/04/2021, 12:45 WIB
Perbedaan Asismilasi dan Akulturasi Beserta Contohnya KOMPAS.com/Gischa PrameswariPerbedaan Asismilasi dan Akulturasi Beserta Contohnya

KOMPAS.com - Asimilasi dan akulturasi termasuk dalam proses sosial. Kedua hal ini sering dijumpai dalam interaksi sosial masyarakat.

Walau sama-sama tergolong dalam proses sosial, sebenarnya asimilasi dan akulturasi memiliki perbedaan. Apa sajakah itu?

Asimilasi

Menurut Dedeh Maryani dan Ruth Roselin E. Nainggolan dalam buku Pemberdayaan Masyarakat (2019), asimilasi merupakan proses sosial yang muncul dari masyarakat dengan latar belakang kebudayaan berbeda.

Proses terjadinya asimilasi ditandai dengan upaya mengurangi perbedaan yang ada di masyarakat maupun individunya. Contohnya jika individu dengan latar belakang berbeda saling berkumpul dalam satu kelompok, maka kebudayaannya akan melebur atau menyatu.

Contoh asimilasi:

  1. Perubahan gaya berpakaian
    Adanya perubahan gaya berpakaian mengikuti tren k-pop atau negara Barat.
  2. Adanya musik dangdut
    Musik dangdut dihasilkan dari pengaruh musik Melayu dengan musik India.
  3. Penggunaan baju koko di Indonesia
    Awalnya baju koko identik dengan baju pria warga China, namun kini digunakan sebagai baju Muslim untuk pria.
  4. Perayaan Halloween dan Valentine
    Dua perayaan ini bukanlah kebudayaan asli Indonesia, tetapi cukup banyak masyarakat Indonesia yang ikut merayakannya.
  5. Penggunaan Bahasa Inggris dalam bahasa gaul
    Anak muda Indonesia tidak sedikit yang menggunakan Bahasa Inggris dalam menjalin komunikasi. Padahal Bahasa Inggris bukanlah bahasa resmi Indonesia.

Baca juga: Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Akulturasi

Akulturasi adalah proses sosial yang muncul jika ada kelompok masyarakat dengan latar belakang budaya tertentu dihadapkan pada unsur kebudayaan asing. Secara perlahan, budaya asing diterima oleh kelompok masyarakat tersebut, tanpa menghilangkan ciri khas budaya masyarakat itu.

Proses akulturasi di tiap lingkungan masyarakat berbeda. Karena sangat bergantung pada karakteristik masyarakatnya serta bagaimana mereka menyikapi kebudayaan asing tersebut.

Contoh akulturasi:

  1. Rumah dengan gaya arsitektur China Kuno di daerah Rembang dan Lasem, Jawa Tengah.
    Akulturasi ini tidak menghilangkan fungsi utama sebuah rumah sebagai tempat tinggal dan tempat berteduh.
  2. Kesenian Gambang Kromong
    Akulturasi kesenian ini memadukan kebudayaan Indonesia dengan Tiongkok dalam pertunjukan musik. Penggunaan alat musiknya pun berasal dari dua kebudayaan tersebut.
  3. Masjid Menara Kudus
    Akulturasi ini tidak menghilangkan fungsi utama masjid sebagai tempat peribadatan umat Islam. Masjid ini memadukan kebudayaan Islam dengan Hindu, yang tercermin dalam gaya arsitektur bangunannya.
  4. Pertunjukan wayang yang menceritakan kisah Mahabharata
    Akulturasi ini memadukan kebudayaan Jawa dengan kisah Mahabharata yang merupakan sastra kuno dari India.
  5. Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran, Yogyakarta
    Akulturasi ini tidak menghilangkan fungsi utama gereja sebagai tempat peribadatan umat Katolik. Gerja ini memadukan kebudayaan Jawa dengan Eropa, yang terlihat dari gaya arsitektur bangunannya.

Baca juga: Contoh Akulturasi Budaya Indonesia dengan Bangsa Tiongkok

Perbedaan asimilasi dan akulturasi

Asimilasi dan akulturasi memiliki perbedaan yang bisa dilihat dari definisinya. Asimilasi merupakan peleburan dua kebudayaan atau lebih sehingga menghasilkan kebudayaan baru. Sedangkan akulturasi adalah percampuran kebudayaan tanpa menghilangkan kebudayaan aslinya.

Maka bisa diartikan jika perbedaan utama antara asimilasi dan akulturasi terletak pada hilang atau tidaknya kebudayaan asli di kelompok masyarakat.

Asimilasi membentuk budaya yang sifatnya baru atau budaya aslinya perlahan mulai luntur, dengan adanya budaya baru. Sedangkan akulturasi mencampurkan kebudayaan tanpa menghilangkan ciri khas budaya aslinya.

Baik asimilasi dan akulturasi tidak bisa dipandang negatif, karena semuanya memiliki dampak tersendiri bagi masyarakat. Hal ini juga bergantung pada bagaimana masyarakat bisa menerima proses asimilasi dan akulturasi.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Alat Musik Tradisional NTB

5 Alat Musik Tradisional NTB

Skola
4 Alat Musik Daerah Jawa Barat

4 Alat Musik Daerah Jawa Barat

Skola
Keunikan Alat Musik Dogdog, Gendang Khas Banten

Keunikan Alat Musik Dogdog, Gendang Khas Banten

Skola
Alat Musik Trompet Reog Khas Jawa Timur

Alat Musik Trompet Reog Khas Jawa Timur

Skola
Bende, Alat Musik Tradisional Lampung

Bende, Alat Musik Tradisional Lampung

Skola
7 Alat Musik Daerah Sumatera Barat

7 Alat Musik Daerah Sumatera Barat

Skola
Mengenal Gamelan Khas Jawa Tengah dan Yogyakarta

Mengenal Gamelan Khas Jawa Tengah dan Yogyakarta

Skola
Tehyan dan Tanjidor, Alat Musik Tradisional DKI Jakarta

Tehyan dan Tanjidor, Alat Musik Tradisional DKI Jakarta

Skola
Alat Musik Gambus Daerah Riau

Alat Musik Gambus Daerah Riau

Skola
Apa Alat Musik daerah Bangka Belitung?

Apa Alat Musik daerah Bangka Belitung?

Skola
Alat Musik Daerah Jambi

Alat Musik Daerah Jambi

Skola
7 Alat Musik daerah Aceh

7 Alat Musik daerah Aceh

Skola
Alat Musik Daerah Bengkulu

Alat Musik Daerah Bengkulu

Skola
Akordeon, Alat Musik Daerah Sumatera Selatan

Akordeon, Alat Musik Daerah Sumatera Selatan

Skola
Mengenal Alat Musik Gendang Panjang, Kepulauan Riau

Mengenal Alat Musik Gendang Panjang, Kepulauan Riau

Skola
komentar
Close Ads X