Revolusi Melati dan Krisis Tunisia (2010)

Kompas.com - 03/12/2020, 15:28 WIB
Revolusi Melati: Demonstran duduk di dinding yang bertuliskan Akhirnya Bebas. britannica.comRevolusi Melati: Demonstran duduk di dinding yang bertuliskan Akhirnya Bebas.

KOMPAS.com - Tunisia merupakan sebuah negara sekuler di kawasan Afrika Utara. Pada akhir tahun 2010, Tunisia mengalami krisis dan pergolakan politik yang dikenal dengan Revolusi Melati.

Revolusi Melati adalah gerakan perlawanan masyarakat yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan otoriter di Tunisia.

Pada perkembangannya, Revolusi Melati menjadi awal kelahiran fenomena Arab Spring di kawasan Timur Tengah.

Arab Spring sendiri merupakan sebuah gelombang revolusi yang menuntut adanya demokratisasi di beberapa negara Timur Tengah.

Latar belakang

Pemerintahan Zainal Abidin Ben Ali yang telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun di Tunisia menimbulkan berbagai masalah.

Baca juga: Konflik Pattani di Thailand

Permasalahan tersebut akhirnya memuncak dan menyebabkan pecahnya Revolusi Melati. Faktor-faktor yang menjadi latar belakang terjadinya Revolusi Melati, adalah:

  • Kesenjangan sosial dan angka pengangguran yang tinggi di Tunisia.
  • Korupsi dan penyalahgunaan wewenang dari pejabat dan keluarga rezim.
  • Pemerintahan Rezim Zainal Abidin Ben Ali di Tunisia yang telah berlangsung lebih dari 20 tahun memerintah secara otoriter dan banyak melakukan pelanggaran HAM.
  • Masyarakat Tunisia ingin mewujudkan sistem pemerintahan yang demokratis.

Jalannya revolusi

Dalam buku Sejarah Timur Tengah Jilid 2 (2013) karya Isawati, Revolusi Melati berawal dari sebuah aksi bakar diri seorang pemuda Tunisia bernama Muhammad Bouzizi.

Aksi tersebut merupakan bentuk ekspresi keputusasaan Bouzizi atas sikap represif dan ketidakadilan rezim Zainal Abidin Ben Ali.

Aksi bakar diri Bouzizi membangkitkan semangat perlawanan masyarakat Tunisia terhadap rezim Zainal Abidin Ben Ali.

Baca juga: Krisis Rohingya di Myanmar

Pada akhir tahun 2010, muncul banyak demonstrasi masyarakat yang menuntut mundurnya rezim Zainal Abidin Ben Ali. Bahkan, kalangan pejabat dan militer Tunisia turut melakukan protes terhadap Zainal Abidin Ben Ali.

Dalam jurnal Agama dan Demokrasi: Munculnya Kekuatan Politik Islam di Tunisia, Mesir dan Libya (2014) karya Muhammad Fakhry Ghafur, dijelaskan bahwa Zainal Abidin Ben Ali dan keluarganya mengasingkan diri ke Saudi Arabia pada akhir Januari 2011.

Pengasingan tersebut menandai berakhirnya kekuasaan Zainal Abidin Ben Ali yang telah memerintah selama 23 tahun.

Aksi bakar diri dalam Revolusi Melati menyebar ke negara-negara Timur Tengah lain seperti Mesir, Libya, Yaman, Aljazair dan Bahrain. Pada perkembangannya, Revolusi Melati memantik gerakan perlawanan masyarakat terhadap rezim otoriter lain di negara-negara tersebut.

Baca juga: Sejarah Konflik di Kamboja (1955-1979)


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X