Bangkitkan Spesies dari Kepunahan, Bagaimana Potensi dan Urgensinya?

Kompas.com - 05/02/2021, 20:06 WIB
Ilustrasi mamut berbulu di Royal Victoria Museum, Victoria, British Columbia, Canada, 2018 Thomas Quine/Wikimedia CommonsIlustrasi mamut berbulu di Royal Victoria Museum, Victoria, British Columbia, Canada, 2018

Oleh: Pangda Sopha

SUDAH hampir tiga dekade berlalu sejak film fiksi ilmiah Jurassic Park tayang untuk kali pertama pada tahun 1993. Saat itu, gagasan untuk menghidupkan kembali spesies yang sudah punah mungkin hanya terdengar seperti dongeng pengantar tidur bagi anak-anak. Namun, siapa sangka bahwa kini dongeng tersebut hampir terwujud menjadi kenyataan.

Gagasan yang dikenal sebagai de-extinction rupanya benar-benar ada dan terjadi di kalangan ilmuwan saat ini. Perkembangan teknologi molekuler dan reproduksi beberapa dekade terakhir menjadi katalisnya. Meskipun demikian, tidak ada kesepakatan di antara ilmuwan bahwa hal ini layak atau tidak dilakukan. Masih sangat banyak pro dan kontra.

Seperti yang kita tahu, setiap makhluk hidup tersusun oleh kode genetik asam nukleat bernama DNA.

Pada film Jurassic Park, dikisahkan para ilmuwan berhasil mendapatkan potongan DNA dinosaurus yang sudah punah jutaan tahun lalu. Potongan DNA tersebut didapatkan dari tubuh nyamuk yang terawetkan dalam sebuah batu amber. Dengan melengkapi bagian yang hilang pada potongan DNA tersebut, dinosaurus pun dapat dihidupkan kembali.

Upaya tersebut pula yang ditempuh tim ilmuwan pimpinan Prof. George Church dari Harvard University. Target yang paling memungkinkan saat ini adalah mamut berbulu (Mammuthus primigenius), salah satu spesies mamalia besar dengan populasi terbanyak pada era Plesitosen, sekitar 11.000 tahun yang lalu.

Bedanya, tidak hanya potongan DNA-nya yang sudah ditemukan, melainkan genom utuhnya. Bukan dari nyamuk, namun dari fosilnya langsung yang tertimbun di bawah tumpukan es Siberia. Temuan ini sudah dipublikasikan pada 2015 lalu di jurnal Current Biology.

Genom utuh ini ibarat cetak biru dari suatu spesies. Jika sudah terungkap, pekerjaan berikutnya tinggal masalah teknis untuk menghasilkan keturunan baru. Titik krusial ini punya dua opsi, yaitu kloning atau rekayasa genetik.

Kita tentu akrab dengan istilah kloning yang menjadi populer sejak lahirnya domba bernama Dolly dari metode ini pada dekade 90-an. Kloning dapat menghasilkan keturunan yang identik dengan spesies yang ditarget, namun memiliki keterbatasan.

Dibutuhkan sel hidup dalam kondisi baik dengan nukleus utuh, sehingga hanya dapat dilakukan pada spesies yang belum punah, atau setidaknya baru saja punah dengan sel yang terawetkan. Tentu tidak memungkinkan bagi mamut berbulu yang kini hanya tersisa fosilnya saja.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X