Kompas.com - 05/02/2021, 16:05 WIB
Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19. DPA/ILIYA PITALEV via DW INDONESIAIlustrasi penyuntikan vaksin Covid-19.

KOMPAS.com - Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson sekali suntik terbukti efektif dalam mencegah penyakit Covid-19 dengan gejala sedang dan parah dalam uji klinis global Fase 3.

Bahkan, perusahaan terkait mengumumkan, vaksin ini terbukti 85% efektif mencegah rawat inap dan kematian karena Covid-19.

“Vaksin itu 72% efektif melawan penyakit sedang dan parah di AS," kata perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Memang vaksin ini berbeda dari Pfizer -BioNTech dan Moderna, mengingat vaksin yang sudah ada di pasaran AS sekitar 95% efektif secara keseluruhan melawan gejala Covid-19, dengan kemanjuran yang bahkan mungkin lebih tinggi terhadap kasus yang parah.

Baca juga: Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson Mulai Uji Klinis Fase 3

Tetapi para ahli mengatakan, vaksin Johnson & Johnson akan tetap berguna melawan pandemi Covid-19 di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.

Melansir CNN, Dr. Anthony Fauci mengatakan, vaksin Johnson & Johnson dan lainnya akan membantu mengurangi stres pada sistem perawatan kesehatan AS.

"Jika kita dapat meredakannya, itu sangat penting - tidak hanya dengan kandidat vaksin ini, tetapi juga vaksin yang lain yang telah mendapatkan EUA," kata Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular.

"Jika Anda dapat mencegah penyakit parah pada sebagian besar individu, itu akan mengurangi begitu banyak stres dan penderitaan, serta kematian manusia."

Johnson& Johnson mengungkap kemanjuran vaksin terhadap penyakit Covid-19 gejala sedang hingga berat di beberapa Negara, yaitu 72% di AS, 66% di Amerika Latin dan 57% di Afrika Selatan. Ini diukur mulai satu bulan setelah penyuntikan.

Di Afrika Selatan, 95% kasus dalam uji coba disebabkan oleh varian yang dikenal sebagai B.1.351, yang dikenal lebih menular dan membawa mutasi yang dapat membuat virus kurang rentan terhadap respons imun antibodi - termasuk antibodi yang dipicu oleh vaksinasi.

Dengan varian itu, kami memiliki perlindungan yang lebih rendah terhadap gejala Covid-19 yang lebih ringan daripada yang kami lakukan di Amerika Serikat, di mana varian virusnya lebih umum," kata Dr. Mathai Mammen, kepala penelitian dan pengembangan global perusahaan, kepada Kepala Medis CNN., koresponden, Dr. Sanjay Gupta.

“Namun demikian, bahkan mereka yang terinfeksi Covid-19 gejala sedang dalam uji klinis, cenderung mengembangkan perjalanan yang lebih ringan dan gejala yang lebih sedikit,” tambahnya.

Tetapi bagi Mammen, hasil utamanya adalah seberapa efektif vaksin itu mencegah penyakit parah - terlepas dari varian atau kelompok umur.

"Di semua geografi, di semua varian, kami melihat 85% perlindungan terhadap penyakit Covid-19 gejala parah,” katanya.

Johnson & Johnson juga menyebut, tren itu meningkat dari waktu ke waktu, dengan tidak ada kasus yang parah pada kelompok yang divaksinasi setelah hari ke-49.

Dari satu bulan setelah suntikan, semua rawat inap dan kematian hanya terjadi di kelompok plasebo.

Baca juga: 6 Vaksin yang Akan Disetujui WHO, dari AstraZeneca hingga Sinovac

Halaman:


Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemindaian Kerangka Ungkap Kanker Umum Terjadi di Abad Pertengahan

Pemindaian Kerangka Ungkap Kanker Umum Terjadi di Abad Pertengahan

Oh Begitu
Longsor di PLTA Batang Toru, Organisasi Lingkungan: Sebenarnya Bisa Dicegah

Longsor di PLTA Batang Toru, Organisasi Lingkungan: Sebenarnya Bisa Dicegah

Oh Begitu
Kura-kura Unik Berwajah Katak Pernah Hidup di Bumi Jutaan Tahun Lalu

Kura-kura Unik Berwajah Katak Pernah Hidup di Bumi Jutaan Tahun Lalu

Fenomena
Rekor Covid-19 di India, 412.000 Kasus Harian dan Hampir 4.000 Kematian dalam 24 Jam

Rekor Covid-19 di India, 412.000 Kasus Harian dan Hampir 4.000 Kematian dalam 24 Jam

Oh Begitu
Eucalyptus Bantu Redakan Gejala Ringan Pasien Covid-19, Ini Penjelasannya

Eucalyptus Bantu Redakan Gejala Ringan Pasien Covid-19, Ini Penjelasannya

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Kepercayaan WHO Pada Data Vaksin Sinoparm Rendah | Kondisi Covid-19 India

[POPULER SAINS] Kepercayaan WHO Pada Data Vaksin Sinoparm Rendah | Kondisi Covid-19 India

Oh Begitu
4 Jenis Makanan Terbaik untuk Mengatasi Darah Rendah

4 Jenis Makanan Terbaik untuk Mengatasi Darah Rendah

Kita
Apakah Black Hole Bermassa 100 Miliar Matahari Benar-benar Ada?

Apakah Black Hole Bermassa 100 Miliar Matahari Benar-benar Ada?

Oh Begitu
5 Resep Obat Tradisional dari Sambiloto, Atasi Tifus hingga Diabetes

5 Resep Obat Tradisional dari Sambiloto, Atasi Tifus hingga Diabetes

Kita
Kamasutra Satwa: Ngengat Andalkan Penciuman untuk Menemukan Pasangan

Kamasutra Satwa: Ngengat Andalkan Penciuman untuk Menemukan Pasangan

Oh Begitu
3 Gejala Asam Urat yang Paling Umum, Apa Saja?

3 Gejala Asam Urat yang Paling Umum, Apa Saja?

Kita
Wine dari Luar Angkasa Ini Menua Lebih Cepat Daripada di Bumi, Kok Bisa?

Wine dari Luar Angkasa Ini Menua Lebih Cepat Daripada di Bumi, Kok Bisa?

Fenomena
5 Manfaat Lengkuas untuk Kesehatan, Bisa Cegah Kanker

5 Manfaat Lengkuas untuk Kesehatan, Bisa Cegah Kanker

Kita
Studi: Tak Ada Kaitan antara Penggunaan Teknologi dan Masalah Kesehatan Mental Remaja

Studi: Tak Ada Kaitan antara Penggunaan Teknologi dan Masalah Kesehatan Mental Remaja

Kita
Meski Cepat Menurunkan Berat Badan, 4 Diet Ini Bisa Sebabkan Penyakit Jantung

Meski Cepat Menurunkan Berat Badan, 4 Diet Ini Bisa Sebabkan Penyakit Jantung

Oh Begitu
komentar
Close Ads X