Kompas.com - 01/10/2020, 16:05 WIB
Ilustrasi meteorit ShutterstockIlustrasi meteorit

KOMPAS.com - Fenomena langit selalu menarik untuk disaksikan. Di bulan Oktober 2020 ini, ada banyak fenomena langit yang dapat Anda amati di rumah, baik dengan mata telanjang maupun dengan bantuan optik.

Berikut ulasan 7 fenomena langit yang bisa Anda saksikan di bulan Oktober 2020 ini:

1. Satu bulan dua purnama: 2 dan 31 Oktober 2020

Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo mengatakan bahwa di bulan Oktober 2020 ini ada fenomena langit yang khas yaitu dalam satu bulan akan terjadi dua kali bulan purnama.

Bulan purnama adalah bulan dalam fase mendekati atau tepat sama dengan 100 persen sebagai konsekuensi dari oposisi bulan.

Berdasarkan perhitungan, Bulan purnama pertama akan terjadi pada Jumat 2 Oktober 2020 pada dini hari pukul 04.07 WIB.

Sementara, bulan purnama kedua akan terjadi pada Sabtu 31 Oktober 2020 yaitu pada pukul 21.51 WIB.

Baca juga: Fenomena Cantik Nebula Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang, asalkan...

2. Merkurius di titik tertinggi: 1 Oktober 2020

Dijelaskan Marufin, dalam terminologi astronomi disebut elongasi timur maksimum Merkurius.

Ini adalah fenomena, di mana jarak sudut terbesar yang bisa diraih planet Merkurius dalam perjalanannya mengelilingi Matahari dapat dilihat dari Bumi.

"Pada elongasi maksimum ini, Merkurius akan berkedudukan setinggi hampir 26 derajat di atas kaki langit barat pada saat Matahari terbenam dan baru akan menghilang dari pandangan mata lebih dari satu jam kemudian," kata Marufin kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2020).

Selepas 1 Oktober, kedudukan Merkurius pun berangsur-angsur menurun hingga kemudian lenyap dari langit barat, seiring terjadinya konjungsi dalam Merkurius pada 26 Oktober 2020 mendatang.

3. Puncak konjungsi Venus-Regulus: 3 Oktober 2020

Berdasarkan keterangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), selama sepekan berturut-turut sejak 30 September hingga 6 Oktober, Venus akan mengalami konjugsi atau kesejajaran dengan Regulus.

Puncak dari konjungsi Venus-Regulus di rasi Leo ini adalah pada 3 Oktober 2020, pukul 06.04 WIB dengan sudut pisah hanya 5 menit busur.

Fenomena ini dapat disaksikan dari arah Timur-Timur Laut mulai pukul 04.00 WIB selama kondisi langit cerah, bebas dari polusi cahaya dan maupun penghalang di sekitar medan pandang.

4. Asteroid 2020 SX3: 8 Oktober 2020

Diprediksikan pada Kamis 8 Oktober 2020 mendatang, asteroid 2020 SX3 akan lewat dekat Bumi.

Jarak lewat asteroid ini dengan Bumi adalah hanya 4,4 kali lipat jarak rata-rata Bumi-Bulan, atau setara 1,7 juta kilometer.

Baca juga: Konjungsi Venus-Regulus, Fenomena Munculnya Rasi Leo di Langit

 

Ilustrasi ekuinoks, peristiwa di mana deklinasi Matahari senilai dengan garis khatulistiwa atau ekuator.Shutterstock Ilustrasi ekuinoks, peristiwa di mana deklinasi Matahari senilai dengan garis khatulistiwa atau ekuator.

5. Matahari melintasi Jakarta: 8 Oktober 2020

Pada hari yang sama dengan asteroid 2020 SX3 lewat dekat bumi, terjadi juga fenomena matahari yang akan melintasi Jakarta.

Fenomena ini adalah peristiwa di mana deklinasi Matahari senilai dengan garis lintang yang melewati kota Jakarta.

Sehingga, kata dia, manakala Matahari berkedudukan tepat di atas kepala atau menempati titik zenith kota Jakarta.

"Bayang-bayang akibat penyinaran Matahari di Jakarta akan menghilang untuk sesaat," ujar Marufin.

Peristiwa ini akan terjadi pada Kamis (8/10/2020) pukul 11.40 WIB.

6. Puncak hujan meteor Draconids: 8 Oktober 2020

Berdasarkan keterangan Lapan menyebutkan, hujan meteor Draconids akan aktif di langit Indonesia sejak tanggal 6-10.

Namun, periode puncaknya dalah pada 8 Oktober 2020 dan dapat disaksikan sejak pukul 18.15 hingga 21.30 WIB. 

Baca juga: Tertangkap Lensa Lapan, Apa Itu Fenomena Nebula Seperti Awan Warna-warni?

7. Bulan sabit termuda: 17 Oktober 2020

Seperti diketahui, bulan sabit termuda menjadi penentu awal bulan kalender Rabiul Awwal (bulan ketiga) dalam kalender 1442 Hijriyah.

Di Indonesia, kata Marufin, diperhitungkan akan setinggi +6,75 derajat hingga 8 derajat pada saat Matahari terbenam, sehingga diprakirakan masih ada di atas ufuk barat kala Matahari terbenam.

"Intitusi seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beserta Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdatul Ulama akan mengamatinya sebagai program rutin yang menjadi bagian timekeeping kalender (mengomparasi jalannya kalender dengan fenomena langit acuan)," jelasnya.

Baca juga: NASA Rekam Fenomena Siklon Tropis Genevieve dari Luar Angkasa



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Hari Ini, M 5,5 Guncang Nias di Zona Outer-rise Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini, M 5,5 Guncang Nias di Zona Outer-rise Tak Berpotensi Tsunami

Oh Begitu
Pasangan Pengantin Gay Thailand Dihujat Netizen Indonesia, Psikolog Sebut Ada Faktor Stres

Pasangan Pengantin Gay Thailand Dihujat Netizen Indonesia, Psikolog Sebut Ada Faktor Stres

Oh Begitu
Kutu Infeksi Anjing Peliharaan, Begini Cara Membasminya

Kutu Infeksi Anjing Peliharaan, Begini Cara Membasminya

Oh Begitu
Jejak Kaki Berumur 100.000 Tahun Ungkap Anak Neanderthal Bermain Pasir di Pantai

Jejak Kaki Berumur 100.000 Tahun Ungkap Anak Neanderthal Bermain Pasir di Pantai

Oh Begitu
Kotoran Kelelawar Berusia 4300 Bantu Ungkap Masa Lalu Bumi

Kotoran Kelelawar Berusia 4300 Bantu Ungkap Masa Lalu Bumi

Fenomena
Maia Estianty 2 Kali Positif Covid-19, Mengapa bisa Tertular Lagi?

Maia Estianty 2 Kali Positif Covid-19, Mengapa bisa Tertular Lagi?

Kita
Gempa Hari Ini: Selatan Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi M 5,1

Gempa Hari Ini: Selatan Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi M 5,1

Fenomena
BMKG: Awas Siklon Tropis Surigae Bisa Berkembang Jadi Badai Topan

BMKG: Awas Siklon Tropis Surigae Bisa Berkembang Jadi Badai Topan

Fenomena
7 Polemik Vaksin Nusantara, Uji Klinis Lanjut Meski Tak Ada Izin BPOM

7 Polemik Vaksin Nusantara, Uji Klinis Lanjut Meski Tak Ada Izin BPOM

Oh Begitu
Vaksin Nusantara Belum Diuji pada Hewan, Ahli Sebut Tak Wajar Diuji Langsung ke DPR

Vaksin Nusantara Belum Diuji pada Hewan, Ahli Sebut Tak Wajar Diuji Langsung ke DPR

Oh Begitu
Kemacetan Terusan Suez Picu Lonjakan Polusi, Tampak dari Luar Angkasa

Kemacetan Terusan Suez Picu Lonjakan Polusi, Tampak dari Luar Angkasa

Fenomena
BMKG Ungkap 4 Penyebab Ribuan Rumah Rusak Akibat Gempa Malang

BMKG Ungkap 4 Penyebab Ribuan Rumah Rusak Akibat Gempa Malang

Fenomena
Bibit Siklon Tropis 94W Terdeteksi, BMKG Minta Jangan Anggap Sepele

Bibit Siklon Tropis 94W Terdeteksi, BMKG Minta Jangan Anggap Sepele

Oh Begitu
Demi Kesehatan Tubuh, Ini 4 Jenis Makanan Terbaik untuk Berbuka Puasa

Demi Kesehatan Tubuh, Ini 4 Jenis Makanan Terbaik untuk Berbuka Puasa

Oh Begitu
Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Kotamobagu Sulut, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Kotamobagu Sulut, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
komentar
Close Ads X