Vitamin D Disebut Berkaitan dengan Angka Kematian Covid-19, Kok Bisa?

Kompas.com - 18/05/2020, 09:02 WIB
Ilustrasi vitamin D shutterstockIlustrasi vitamin D

KOMPAS.com – Sebagai penyakit baru yang menjadi pandemi global, Covid-19 terus menjadi obyek penelitian banyak ilmuwan dan praktisi kesehatan.

Salah satu penelitian dilakukan oleh sekelompok ilmuwan di Northwestern University. Para peneliti menggunakan data statistik dari rumah sakit yang tersebar di beberapa negara. Antara lain China, Perancis, Jerman, Italia, Iran, Korea Selatan, Spanyol, Swiss, Inggris Raya, dan Amerika Serikat.

Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa para pasien yang berasal dari negara-negara dengan tingkat kematian tinggi akibat Covid-19 memiliki tingkat vitamin D yang rendah. Antara lain dari negara italia, Spanyol, dan Inggris Raya.

Baca juga: Yogurt Bisa Tingkatkan Kekebalan Tubuh di Tengah Pandemi Covid-19

“Kami menemukan bahwa kekurangan vitamin D berkaitan dengan tingkat kematian. Namun, bukan berarti kami menyarankan asupan suplemen vitamin D,” tutur pemimpin penelitian Vadim Backman seperti dikutip dari Science Daily, Senin (18/5/2020).

Backman menyebutkan penelitian ini membutuhkan studi lebih lanjut. Ia dan timnya terpanggil untuk melihat tingkat vitamin D saat melihat perbedaan angka kematian akibat Covid-19 antara satu negara dengan negara lain.

Ilustrasi: perawatan pasien positif terinfeksi virus coronaShutterstock Ilustrasi: perawatan pasien positif terinfeksi virus corona

Beberapa penelitian lain melakukan hipotesis terhadap kualitas fasilitas kesehatan, usia populasi, jumlah uji atau tes Covid-19. Namun Backman merasa ada aspek yang terlewat.

“Tidak ada satupun dari faktor tersebut yang memiliki peran signifikan. Sistem kesehatan di Italia bagian utara adalah salah satu yang terbaik di dunia. Kemudian, meski usia populasi yang sama, tingkat kematian tiap negara juga berbeda,” papar Backman.

Vitamin D dan Badai Sitokin

Backman dan timnya menemukan korelasi kuat antara tingkat vitamin D dan badai sitokin. Ini merupakan kondisi hiperinflamasi yang disebabkan oleh sistem imun yang terlalu aktif.

“Badai sitokin dapat menimbulkan kerusakan pada paru, yang mengarah pada masalah pernapasan akut bahkan kematian pada pasien,” tuturnya.

Baca juga: Bisa Sebabkan Kematian pada Pasien Covid-19, Apa Itu Badai Sitokin?

Vitamin D diketahui meningkatkan kesehatan imun kita, sekaligus mencegah sistem imun terlalu aktif. Backman mengatakan orang yang memiliki tingkat vitamin D yang tepat bisa terhindar dari beberapa komplikasi, termasuk kematian, akibat Covid-19.

 

“Analisis kami menyebutkan bahwa ini (tingkat vitamin D yang tepat) bisa memotong jumlah angka kematian hingga setengahnya. Ini tidak akan mencegah pasien untuk tidak terinfeksi virus, namun mengurangi komplikasi dan kematian,” paparnya.

Baca juga: Kematian akibat Corona Tinggi Mungkin karena Badai Sitokin, Kok Bisa?

Backman juga mengatakan korelasi ini mungkin bisa menjelaskan banyak misteri tentang Covid-19, termasuk mengapa anak-anak jarang terinfeksi secara parah. Disebutkan bahwa sistem imun pada anak belum terbentuk secara total, sehingga minim kemungkinan untuk bereaksi terlalu aktif.

Meski yakin akan penelitiannya, Backman mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi suplemen vitamin D secara berlebihan.

“Belum dipastikan dosis vitamin D yang pas untuk Covid-19,” tuturnya.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mampu Serang Dinosaurus, Nenek Moyang Buaya Punya Gigi Sebesar Pisang

Mampu Serang Dinosaurus, Nenek Moyang Buaya Punya Gigi Sebesar Pisang

Fenomena
Bukan Hewan Soliter, Hiu Terbukti Membentuk Komunitas

Bukan Hewan Soliter, Hiu Terbukti Membentuk Komunitas

Oh Begitu
Menengok Pendekatan Kultural dalam Pencegahan Pandemi Tahun 1920

Menengok Pendekatan Kultural dalam Pencegahan Pandemi Tahun 1920

Fenomena
Demi Udara Sehat Jakarta Jangan Izinkan Pembangunan Pembangkit Listrik, Kenapa?

Demi Udara Sehat Jakarta Jangan Izinkan Pembangunan Pembangkit Listrik, Kenapa?

Oh Begitu
Vaksin Corona Rusia Siap Diimunisasikan, Ilmuwan Ragukan Keamanannya

Vaksin Corona Rusia Siap Diimunisasikan, Ilmuwan Ragukan Keamanannya

Fenomena
Serba-serbi Hewan: Sering Curi Cermin, Benarkah Monyet Suka Becermin?

Serba-serbi Hewan: Sering Curi Cermin, Benarkah Monyet Suka Becermin?

Oh Begitu
WHO Ingatkan Hindari Perawatan Rutin Gigi untuk Cegah Virus Corona

WHO Ingatkan Hindari Perawatan Rutin Gigi untuk Cegah Virus Corona

Oh Begitu
Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Oh Begitu
Mulai Malam Ini, Puncak Hujan Meteor Perseids di Langit Indonesia

Mulai Malam Ini, Puncak Hujan Meteor Perseids di Langit Indonesia

Fenomena
Dataran Es Terakhir Berusia 4.000 Tahun di Arktik Terbelah

Dataran Es Terakhir Berusia 4.000 Tahun di Arktik Terbelah

Fenomena
Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Oh Begitu
Bencana Lingkungan, Ribuan Ton Minyak Tumpah di Mauritius Terlihat dari Luar Angkasa

Bencana Lingkungan, Ribuan Ton Minyak Tumpah di Mauritius Terlihat dari Luar Angkasa

Fenomena
Kematian Ratusan Gajah di Botswana Masih Misteri, Hasil Tes Tidak Meyakinkan

Kematian Ratusan Gajah di Botswana Masih Misteri, Hasil Tes Tidak Meyakinkan

Oh Begitu
Lindungi Ternak dari Predator, Ahli Bikin Gambar Mata di Pantat Sapi

Lindungi Ternak dari Predator, Ahli Bikin Gambar Mata di Pantat Sapi

Oh Begitu
Kualitas Laut Parah, Ada Polutan Beracun di Tubuh Paus dan Lumba-Lumba

Kualitas Laut Parah, Ada Polutan Beracun di Tubuh Paus dan Lumba-Lumba

Fenomena
komentar
Close Ads X