Astronom Temukan Bintang Tertua, Usianya Hampir Sama dengan Jagat Raya

Kompas.com - 18/05/2020, 08:03 WIB
Ilustrasi awal keberadaan bintang di jagat raya Wise, Abel, Kaehler (KIPAC/SLACIlustrasi awal keberadaan bintang di jagat raya

KOMPAS.comBintang purba kembali ditemukan di Tata Surya. Namun, kali ini astronom menemukan bintang yang tidak biasa. Penemuan ini telah dimuat dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.

Bintang bernama SMSSJ160540.18-144323.1 itu disebut-sebut sebagai bintang tertua yang pernah ditemukan. Bintang tersebut memiliki jarak 35.000 tahun cahaya.

Para astronom memprediksikan usia bintang ini hampir sama dengan jagat raya itu sendiri. Hal itu diketahui lewat level besi yang paling rendah dibanding bintang-bintang lainnya di galaksi.

Baca juga: Komet SWAN dan Bintang Berekor Dalam Khazanah Ilmu Falak

Bintang tersebut diprediksi berasal dari generasi kedua setelah jagat raya muncul sekitar 13,8 miliar tahun lalu.

“Ini adalah bintang yang sangat pucat (karena kurangnya besi), yang terjadi hanya beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang. Level zat besinya 1,5 juta kali lebih rendah dibanding Matahari,” tutur astronom Thomas Nordlander dari ARC Centre of Excellence dari Australian National University.

Mengutip Science Alert, Senin (18/5/2020), minimnya level besi diketahui menjadi penanda usia bintang tersebut karena pada awal jagat raya terbentuk, tidak ada elemen tersebut sama sekali.

Baca juga: Matahari Lebih Pasif Dibanding Bintang Serupa, Kabar Baik untuk Kita

Bintang-bintang pertama terbentuk dari hidrogen dan helium, yang berukuran sangat besar serta panas dan memiliki waktu hidup yang sebentar. Bintang-bintang sejenis ini disebut Population III, dan kita tidak pernah melihatnya.

Bintang-bintang mendapatkan ‘tenaga’ tersebut dari gabungan nuklir, di mana inti atom dari unsur-unsur yang lebih ringan bergabung untuk menjadi lebih berat.

Pada bintang yang lebih kecil, mayoritas merupakan gabungan dari hidrogen dan helium. Namun pada bintang yang lebih besar seperti Population III, diperkirakan terdapat elemen lain seperti silikon dan besi.

Baca juga: Pancarkan Gelombang Radio, Fenomena Aneh Bintang Paling Misterius

Ketika bintang-bintang tersebut mengakhiri hidupnya lewat ledakan supernova, elemen-elemen tersebut tersebar di angkasa. Bintang baru pun terbentuk. Begitulah ada dan tidaknya besi menjadi indikator usia sebuah bintang.

Sebagai contoh, kita telah mengetahui bahwa Matahari berusia sekitar 100 generasi dari Big Bang. Usia ini dihitung berdasarkan jumlah besi yang terdapat pada bintang tersebut.

Para peneliti percaya bahwa SMSSJ160540.18-144323.1 memiliki massa hanya sepersepuluh dari Matahari. Namun ukuran ini cukup besar untuk memproduksi bintang neutron.

Para astronom juga percaya bahwa ini adalah salah satu bintang tertua di jagat raya, dan sedang sekarat. Bintang tersebut kini berwarna merah, yang berarti sudah hampir berada di ujung hidupnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X