Kasus ABK Indonesia, Bagaimana Mengatasi Perbudakan di Kapal Asing?

Kompas.com - 08/05/2020, 09:02 WIB
Para Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia ketika bekerja di kapal penangkap ikan yang memburu hiu. KFEM via BBCPara Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia ketika bekerja di kapal penangkap ikan yang memburu hiu.

Hal itu mencakup tempat tidur yang berdempetan terkadang tanpa kasur, fasilitas memasak yang tidak higienis, dan bahan pangan yang terbatas. Hasilnya, banyak ABK yang jatuh sakit dan mengalami malnutrisi akut akibat kombinasi kekurangan nutrisi dan jam kerja yang berlebihan.

Langkah strategis

Dedi menyebutkan masalah perbudakan dan perdagangan manusia dalam sektor industri perikanan bukanlah hal baru. Pemerintah dinilai masih kurang dalam mengawasi ABK, baik di dalam maupun luar negeri.

Oleh karena itu, Dedi menyebutkan beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan terkait hal ini.

“Pertama adalah penguatan perlindungan dalam bentuk peraturan. Selain Undang-undang Ketenagakerjaan, harus ada peraturan yang kuat dan menaungi seluruh ABK,” tutur ia.

Baca juga: Kronologi 4 Kematian ABK Indonesia di Kapal Ikan China Menurut Menlu

Kebijakan terkait perlindungan ABK tersebut, lanjut ia, kemudian harus dimonitor dengan baik. Para ABK harus bisa melaporkan tentang kondisi pelayaran mereka.

“Terakhir adalah penguatan asosiasi pekerja kapal dan perikanan. Asosiasi tersebut sudah ada, tapi belum terlalu kuat sehingga kepentingan mereka belum terdengar,” papar ia.

Dedi menilai perlu adanya hotline untuk para ABK melapor tentang kondisi pelayaran mereka.

“Jadi kalau ada apa-apa, mereka bisa menghubungi hotline tersebut untuk meminta bantuan,” tambahnya.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Awan Mirip Tsunami di Aceh, Benarkah Pertanda Bencana Alam?

Awan Mirip Tsunami di Aceh, Benarkah Pertanda Bencana Alam?

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Asal-muasal Kalsium pada Tulang dan Gigi Manusia

Peneliti Ungkap Asal-muasal Kalsium pada Tulang dan Gigi Manusia

Oh Begitu
Terinspirasi Covid-19, Spesies Jamur Parasit Baru Diberi Nama Karantina

Terinspirasi Covid-19, Spesies Jamur Parasit Baru Diberi Nama Karantina

Fenomena
Kasus Corona Meningkat, Bisakah Pembuatan Vaksin Dipercepat?

Kasus Corona Meningkat, Bisakah Pembuatan Vaksin Dipercepat?

Oh Begitu
Di Masa Depan Teknologi AI Ruang Angkasa Bermanfaat untuk Kemanusiaan, Kok Bisa?

Di Masa Depan Teknologi AI Ruang Angkasa Bermanfaat untuk Kemanusiaan, Kok Bisa?

Fenomena
Masa Inkubasi Virus Corona Bisa Lebih Lama, Studi Jelaskan

Masa Inkubasi Virus Corona Bisa Lebih Lama, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Bukan di Istana Merdeka, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Dilakukan di Tempat Ini

Bukan di Istana Merdeka, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Dilakukan di Tempat Ini

Oh Begitu
Mengapa Hanya 10 Persen Orang Kidal di Dunia? Berikut Penjelasannya

Mengapa Hanya 10 Persen Orang Kidal di Dunia? Berikut Penjelasannya

Oh Begitu
Penjelajah Mars Milik NASA Dilengkapi Alat Pengubah CO2 Menjadi Oksigen

Penjelajah Mars Milik NASA Dilengkapi Alat Pengubah CO2 Menjadi Oksigen

Oh Begitu
Mengapa Donasi Susu Formula Saat Pandemi Covid-19 Berbahaya?

Mengapa Donasi Susu Formula Saat Pandemi Covid-19 Berbahaya?

Kita
Berkat Setan Tasmania, Ada Titik Terang Pengobatan Kanker pada Manusia

Berkat Setan Tasmania, Ada Titik Terang Pengobatan Kanker pada Manusia

Oh Begitu
Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas di Antartika Ilmuwan Kurangi Personel

Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas di Antartika Ilmuwan Kurangi Personel

Oh Begitu
Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Fenomena
Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Fenomena
Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Fenomena
komentar
Close Ads X