Pandemi Covid-19 dan Penentuan Awal Ramadhan 2020 dengan Rukyatul Hilal dan Hisab

Kompas.com - 22/04/2020, 12:05 WIB
Ilustrasi pengamatan hilal. Gambar diambil di Pusat Observasi Bulan Bukit Bela-belu, Desa Parangtritis, Kretek, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (1/9/2016). KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOIlustrasi pengamatan hilal. Gambar diambil di Pusat Observasi Bulan Bukit Bela-belu, Desa Parangtritis, Kretek, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (1/9/2016).

Oleh KH. Sirril Wafa, MA*

BULAN Ramadhan 1441 H tinggal beberapa saat lagi. Inilah bulan di mana Muslim menjalankan ibadah puasa sebagai implementasi Rukun Islam keempat.

Di Indonesia, bulan Ramadhan tak hanya menempati kedudukan penting dalam perspektif syar’i (agama) namun juga memiliki dimensi ekonomi, sosial dan budaya yang cukup dalam.

Situasi berbeda terjadi di tahun ini. Wabah penyakit yang disebabkan oleh virus korona (coronavirus disease 2019 / Covid–19) muncul di Wuhan, propinsi Hubei (Republik Rakyat Tiongkok) pada Desember 2019.

Dengan kecepatan penularan yang mencengangkan mengikuti tingginya laju mobilitas manusia lewat sistem transportasi udara, penyakit yang menular antar manusia ini menyebar ke segenap pelosok bumi hingga menjadi pandemi.

Baca juga: Hilal Awal Ramadhan Dipantau 23 April, Catat 82 Titik Lokasinya

Per 21 April 2020 tercatat 2.314.621 orang menderita penyakit ini di seluruh dunia dengan 157.847 diantaranya meninggal dunia. Telah ada 213 negara terjangkiti dengan 181 di antaranya melaporkan terjadinya transmisi lokal (Kemenkes RI, 2020).

Indonesia secara resmi dinyatakan mulai terjangkiti pada awal Maret 2020. Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga 21 April 2020 jumlah penderita Covid–19 di Indonesia mencapai 7.135 orang dengan 842 orang telah sembuh dan 616 orang meninggal dunia.

Sebagai upaya untuk meredam laju kecepatan penularan penyakit, Presiden Joko Widodo dengan Keppres nomor 12 tahun 2020 telah menetapkan status bencana nasional.

Menyusul kemudian beberapa kabupaten dan kota juga telah menetapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna mereduksi penyebaran penyakit ini di daerahnya masing–masing.

Mengingat wabah masih akan terus berlangsung kala Muslim Indonesia memasuki bulan Ramadhan 1441 H, sejumlah lembaga keagamaan Islam telah mengeluarkan imbauan tata cara penyelenggaraan ibadah dalam suasana wabah.

Termasuk Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lewat surat instruksi bernomor 3952/C.I.34/03/2020 tanggal 9 Sya’ban 1441 H / 3 April 2020.

PBNU meminta agar masyarakat tetap melaksanakan ibadah wajib sembari meningkatkan ibadah sunnah, memperkuat tali silaturahmi dan menjaga hubungan sosial antarsesama dengan tetap mematuhi protokol pencegahan penyebaran Covid–19.

Baca juga: Hal-hal yang Perlu Diketahui soal Sidang Isbat 1 Ramadhan 2020

Petugas Lembaga Falakiyah Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol, Jakarta Barat melakukan pemantauan hilal di atas Masjid Al-Musariin, Minggu (5/5/2019).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Petugas Lembaga Falakiyah Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol, Jakarta Barat melakukan pemantauan hilal di atas Masjid Al-Musariin, Minggu (5/5/2019).
Dalam hal itu maka aktivitas ibadah khas Ramadhan seperti buka bersama, shalat tarawih dan bahkan shalat Idul Fitri dianjurkan untuk diselenggarakan di rumah. Tentunya hingga kondisinya normal.

Bagaimana dengan penentuan awal Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1441 H?

Kedudukan rukyatul hilal

Rukyatul hilal adalah salah satu metode penentuan awal bulan kalender Hijriah, termasuk bagi awal Ramadhan dan dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha).

Pada dasarnya rukyatul hilal merupakan observasi (pengamatan) terhadap hilal, yakni Bulan sabit paling tipis yang berketinggian rendah di atas cakrawala barat saat Matahari terbenam dan bisa diamati.

Cara pengamatannya beragam, mulai mengandalkan mata telanjang, mata dibantu alat optik seperti teleskop hingga yang termutakhir alat optik (teleskop) terhubung sensor/kamera.

Terlihat tidaknya hilal sangat bergantung kepada sejumlah faktor. Mulai dari parameter Bulan itu sendiri (mencakup ketinggian, elongasi dan magnitudo visual), parameter optis atmosfer (konsentrasi partikulat pencemar, uap air dan sebagainya) dan kekhasan mata / sensor kamera.

Baca juga: Kemenag Keluarkan Pedoman Pemantauan Hilal Ramadhan Saat Covid-19

Dalam khasanah ilmu falak modern, terlihatnya hilal sebagai lengkungan sabit Bulan sangat tipis adalah hasil kombinasi antara kecerlangan Bulan sabit berbanding kecerlangan langit senja latar belakang dan perbandingan kontras Bulan sabit–langit senja latar belakang terhadap kepekaan mata / sensor kamera.

Dengan warna hilal yang putih sementara cahaya senja langit latar belakangnya cenderung berwarna merah jingga–kekuningan, maka secara alamiah kontras hilal relatif kecil.

Dikombinasikan kedudukannya yang sangat rendah terhadap cakrawala dan pendeknya waktu yang tersedia sebelum Bulan turut terbenam, maka upaya pengamatan hilal menjadi salah satu tantangan besar bagi ilmu falak.

Sistem penanggalan yang berbasiskan pada peredaran Bulan digunakan oleh setidaknya sepertiga penduduk dunia pada saat ini. Tak hanya pemeluk agama Islam, kalender Bulan juga dipedomani bangsa China dan sejumlah kalangan Nasrani, meski masing–masing mengambil bentuk yang berbeda–beda.

Baca juga: Apa Itu Hilal, Sabda Nabi SAW dan Penjelasan Ilmiahnya

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X