Kompas.com - 21/04/2020, 07:02 WIB
Warga mengenakan masker wajah guna mengantisipasi penyebaran virus corona saat berjalan melintasi Piazza del Duomo di Milan, Italia, Minggu (23/2/2020). Penyebaran virus corona hingga hari ini, Senin (24/2/2020), semakin menunjukkan peningkatan di sejumlah negara, seperti Italia, Iran, dan Korea Selatan. AFP/ANDREAS SOLAROWarga mengenakan masker wajah guna mengantisipasi penyebaran virus corona saat berjalan melintasi Piazza del Duomo di Milan, Italia, Minggu (23/2/2020). Penyebaran virus corona hingga hari ini, Senin (24/2/2020), semakin menunjukkan peningkatan di sejumlah negara, seperti Italia, Iran, dan Korea Selatan.


KOMPAS.com - Gelombang teori konspirasi virus corona semakin mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pandemi yang telah menyebabkan jutaan orang terinfeksi Covid-19.

Teori konspirasi yang merebak seiring dengan kian meluasnya penyebaran wabah virus corona, SARS-CoV-2 telah membuat sebagian besar orang mempercayai informasi-informasi yang justru menyesatkan.

Di antaranya terkait kebocoran laboratorium biologi di China yang menyebabkan virus corona menyebar ke masyarakat.

Baca juga: Dari Senjata Biologis hingga 5G, Ini Teori Konspirasi Sesat tentang Corona

Bahkan, rumor ini kian dikuatkan dengan anggapan tentang senjata biologis yang tengah dikembangkan negara ini.

Meski pada akhirnya, teori konspirasi ini telah dipatahkan oleh bukti-bukti ilmiah para ilmuwan dan peneliti.

Namun, bukti tentang evolusi virus corona baru yang disinyalir berasal dari kelelawar ini, tak juga membendung anggapan masyarakat terhadap teori tersebut.

Baca juga: Kematian Pria Akibat Virus Corona Lebih Tinggi, Ini Penyebabnya

Melansir New York Times, Senin (20/4/2020), ada banyak teori konspirasi yang berkembang di masyarakat di seluruh dunia. Bahkan, tidak sedikit pandemi ini dimanfaatkan secara politis oleh pemerintah atau kepala negaranya.

Kondisi ini telah memupuk tidak hanya konspirasi individu tetapi juga perasaan yang lebih luas terkait sumber-sumber dan data resmi tidak dapat dipercaya.

Ilustrasi 3D virus coronaSHUTTERSTOCK/ANDREAS PROTT Ilustrasi 3D virus corona

Salah satunya teori konspirasi medis yang dianggap dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap otoritas medis.

"Teori konspirasi medis memiliki kekuatan untuk meningkatkan ketidakpercayaan pada otoritas medis, yang dapat memengaruhi kesediaan orang untuk melindungi diri mereka sendiri," tulis Daniel Jolley dan Pia Lamberty, sarjana psikologi, menulis dalam sebuah artikel baru-baru ini.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Orang Percaya pada Teori Konspirasi Virus Corona

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X