Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Imunoterapi Disebut Inovasi Terapi Kanker yang Minim Efek Samping

KOMPAS.com - Imunoterapi dianggap sebagai inovasi baru yang paling baik untuk pasien kanker, termasuk pasien kanker paru.

Seperti diketahui, dalam melawan sel kanker yang terus menggerogoti tubuh dari dalam, pasien penyakit kanker harus terus berjuang dengan berbagai jenis terapi yang tidak jarang menimbulkan efek samping dan menyakitkan bagi pasien.

Terapi atau pengobatan yang dilakukan pasien kanker, termasuk kanker paru umumnya dilakukan dengan operasi, kemoterapi, radiasi, dan terapi target.

Wakil Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr Sita Laksmi Andarini PhD SpP(K) mengatakan bahwa terapi-terapi yang umum itu memiliki efek samping berbeda bagi masing-masing pasien.

Efek samping itu bergantung pada sistem kekebalan tubuh pasien kanker itu sendiri dalam mendukung terapi yang diberikan dan melawan sel kanker yang ada di tubuhnya.

"Kanker paru itu dapat dicegah dan dapat diobati. Tatalaksana terkini kanker paru memungkinkan peningkatan kualitas hidup dan harapan hidup," kata Sita dalam diskusi daring bertajuk Membuka Harapan Hidup yang Lebih Baik bagi Pasien Kanker Paru dengan Pengobatan Inovatif, Rabu (26/8/2020).

Sebagai perkembangan tatalaksana yang dapat meningkatkan harapan hidup pasien kanker, para ilmuwan mencoba mengaitkan imunologi dengan terapi yang efektif bagi pasien.

Pengobatan terbaru ini dianggap lebih baik dari sisi efek samping pengobatannya daripada kemoterapi.

Adapun, mekanisme pengobatan yang dilakukan dalam imunoterapi atau disebut juga imuno onkologi ini yaitu diberikan melalui infus yang dipasangkan ke pasien.

Diantaranya yaitu lebih sedikit dalam kerontokan, berkurang sakit kepala parah dan mual yang dirasakan oleh pasien setelah terapi.

Menurut penelitian, angka harapan hidup lima tahun pasien yang menjalani imunoterapi mencapai 5-6 kali lipat dibandingkan dengan kemoterapi.

Cerita pasien kanker paru tentang terapi imunologi

Hal ini dirasakan oleh salah satu pasien kanker bernama Ida Gultom. Ia didiagnosa menderita kanker paru pada November 2019 yang lalu.

Ida bercerita, pada awalnya dokter menyarankan untuk melakukan kemoterapi untuk mengobati penyakit kanker paru yang ia derita.

Namun, Ida belum berani memutuskan karena khawatir dengan efek sampingnya dan banyak pikirannya yang menganggap itu sesuatu yang mengerikan.

Alhasil, dokter mencoba mencari cara lain yaitu dengan imunoterapi.

"Saya tidak diradiasi, tapi hasil MRI-nya (di paru) bersih, tapi ukurannya masih 3,5 cm dan ini di imunoterapi yang ke-6, Maret kemarin," ceritanya dalam kesempatan yang sama.

Sementara, dari CT Scan pada 30 Juli 2020, sel kanker paru yang ada hanya tinggal 1,5 cm.

"Tapi dengan imunoterapi itu tidak ada efek samping. Saya tidak mengalami mual, nafsu makan tidak turun, dan rambut rontok sedikit sekali," ujarnya.

Disarankan dokter, Ida harus terus menjalani terapi imunoterapi sampai dua tahun lamanya untuk benar-benar memastikan bahwa sel kanker paru tersebut benar-benar bersih keseluruhan.

Namun, pemberian terapi imunoterapi ini tidak bisa diberlakukan kepada semua pasien kanker. Dokter akan memilahnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sesuai standar terapi imunoterapi itu sendiri.

Bahkan, kata Sita, bisa jadi dokter penanggungjawab juga dapat menyarankan Anda pasien kanker untuk menjalani combo terapi antara imunoterapi dengan radiasi, imunoterapi dengan kemoterapi, atau bisa jadi hanya imunoterapi, kemoterapi atau radiasi saja.

Semua bergantung pada stadium kanker yang dimiliki, faktor risiko lain yang dimiliki pasien dan beberapa indikator lainnya yang patut dipertimbangkan oleh dokter dan pasien.

https://www.kompas.com/sains/read/2020/08/28/070000023/imunoterapi-disebut-inovasi-terapi-kanker-yang-minim-efek-samping

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke