Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 04/10/2022, 09:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diduga dilakukan Rizky Billar kepada istrinya, pedangdut Lesti Kejora, tengah ramai diperbincangkan.

Kasus tersebut bahkan sampai mendapat perhatian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang memberikan imbauan tegas kepada masyarakat dan lembaga penyiaran berkait tayangan untuk pelaku KDRT.

KPI sepenuhnya menyerahkan kasus Lesti dan Billar kepada pihak kepolisan yang berwenang untuk menyelesaikan perkara tersebut.

Baca juga: Berkaca Kasus Baim-Paula, KPI: Jangan Sampai Korban KDRT Dipikir Nge-prank

Namun, ada beberapa hal yang perlu KPI jelaskan sebagai tugas mereka dalam pelaksanaan peraturan, pedoman perilaku penyiaran, serta standar program siaran.

1. Tegas tak beri ruang bagi pelaku KDRT

KPI mengimbau semua lembaga penyiaran di Indonesia untuk mengambil sikap tegas terhadap pelaku kekerasan dalam rumah tangga dengan cara tidak menampilkannya lagi di layar kaca.

"KPI mengimbau kepada seluruh lembaga penyiaran untuk tidak memberikan ruang kepada para pelaku kejahatan tindak kekerasan dalam rumah tangga," kata Nuning Rodiyah, Komisioner KPI Pusat di kantor KPI, Jakarta Pusat, Senin (3/10/2022).

Baca juga: Sikap KPI terhadap Pelaku KDRT, Apakah Masih Boleh Tampil di Televisi?

Nuning mengatakan, kasus KDRT termasuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) karena yang diserang adalah martabat manusia yang seharusnya dihormati, tidak layak diberikan kekerasan secara fisik, psikis, verbal dan non-verbal.

"Maka harusnya lembaga penyiaran ini memberikan pesan kepada masyarakat bahwa pelaku kekerasan ini tidak boleh ditoleransi dalam bentuk apa pun," tegas Nuning.

2. Persepsi negatif

Nuning berpendapat, akan muncul persepsi negatif jika pelaku KDRT masih berseliweran di televisi menjadi presenter, pembawa program, atau pemeran.

Baca juga: KPI Apresiasi Keberanian Lesti Kejora Melapor ke Polisi soal KDRT

"Nanti publik mengira KDRT adalah kejahatan yang biasa-biasa saja, lumrah, dan pelakunya tetap boleh wara wiri di layar kaca, diprioritasi, tetep dipuja-puja," ujar Nuning.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+