Kompas.com - 09/03/2021, 15:30 WIB
 Bens Leo melayat penyanyi senior Eddy Silitonga di rumah duka di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, Kamis (25/8/2016). KOMPAS.COM/TRI SUSANTO SETIAWAN Bens Leo melayat penyanyi senior Eddy Silitonga di rumah duka di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, Kamis (25/8/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam rangka memperingati Hari Musik Nasional yang jatuh pada Selasa (9/3/2021), Bens Leo selaku pengamat musik menyoroti fenomena cover lagu tanpa izin dari pencipta.

Bens Leo menyebut bahwa fenomena itu rupanya begitu banyak digemari orang-orang.

“Kemudian (di Hari Musik Nasional ini) yang tidak kalah penting, apabila Anda adalah orang-orang yang menggemari musik kemudian suka meng-cover karya orang lain hendaknya izin ke penciptanya,” kata Bens Leo kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Selasa (9/3/2021).

Baca juga: Profil WR Supratman, Sosok dibalik Peringatan Hari Musik Nasional 2021

Menurut Bens Leo, meminta izin pada sang pencipta lagu merupakan hal yang penting.

“Karena pencipta itu yang punya hak paling utama untuk menikmati hasil karyanya, hak ekonominya dinikmati pencipta lagunya. Jadi kalau sebuah karya diatur tanpa seizin pencipta itu adalah pelanggaran pencipta,” ucap Bens Leo. 

Apalagi jika lagu yang dicover itu dikomersialkan atau menghasilkan keuntungan materi untuk orang yang menyanyikan ulang.

Baca juga: Hari Musik Nasional, Bens Leo: Jangan Berhenti Berkarya di Tengah Pandemi

“Jadi pelanggaran itu, si pencipta lagu berhak menuntut agar dia mendapatkan hak royalti, andaikata lagu itu nanti upload ke YouTube dan mendapatkan apresiasi dari YouTube, atau mendapatkan uang. Izin pencipta itu penting sekali,” tambah Bens Leo.

Ia kemudian memberikan contoh yang terjadi kepada Piyu, personel Padi Reborn.

Baca juga: Hari Musik Nasional, Iwan Fals Rilis Ulang Mata Dewa dalam Format Piringan Hitam

“(Waktu itu) wawancara dengan Piyu, Piyu bilang ada orang yang meng-upload lagu ciptaannya, dari album Padi atau Piyu. Itu diupload sudah tidak minta izin, lagunya menjadi agak berubah, kemudian nama penciptanya jadi Piyudiningrat, itu marah-marah, karena namanya diganti,” tutur Bens Leo lagi.

“Dan hal macam hal inilah pelanggaran hak cipta, hak ekonomi kena dan hak moralnya kena,” ujar Bens lagi.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X