Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Orang Jawa di Kaledonia Baru, Negara yang Sedang Dilanda Kerusuhan

Kompas.com - 20/05/2024, 21:05 WIB
BBC News Indonesia,
Aditya Jaya Iswara

Tim Redaksi

NOUMEA, KOMPAS.com - Kerusuhan berlangsung di Kaledonia Baru, wilayah otonomi Perancis di tengah Samudera Pasifik, menewaskan sejumlah orang dan ratusan terluka.

Namun, yang belum banyak diketahui orang, ada ribuan orang keturunan etnis Jawa menjadi warga Kaledonia Baru. Mengapa mereka bermukim di sana dan seperti apa sejarah di baliknya? Bagaimana hubungan mereka saat ini dengan Indonesia?

Kericuhan di negara bekas jajahan Perancis itu bermula ketika parlemen Perancis menyetujui penduduk Perancis yang tinggal di Kaledonia Baru selama sepuluh tahun diberikan hak pilih dalam pemilu.

Baca juga: Gelar Referendum, Kaledonia Baru Tolak Kemerdekaan dari Perancis

Keputusan ini dikecam masyarakat adat Kanak—penduduk asli Kaledonia Baru—yang menganggap kebijakan itu akan membuat pengaruh politik mereka kian menyusut.

Imbas dari gejolak politik itu, penjarahan toko serta pembakaran gedung dan mobil terjadi di sejumlah tempat di Kaledonia Baru. Ratusan orang dilaporkan terluka dan empat orang tewas – termasuk anggota polisi.

Presiden Perancis Emmanuel Macron telah mengumumkan keadaan darurat dan mengirim pasukan militer ke Kaledonia Baru. Akses TikTok diblokir dan jam malam diterapkan untuk meredam situasi.

Sejauh ini, tak ada warga negara negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam kerusuhan tersebut, menurut Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Noumea, Kaledonia Baru.

Di tengah situasi yang menegangkan yang sedang terjadi, terdapat ribuan warga keturunan etnis Jawa yang hidup di pulau tersebut. Bagaimana mereka bisa sampai di sana dan apa sejarah di baliknya?

Orang-orang berkumpul di dekat mobil yang terbalik di Distrik Motor Pool di kawasan Tuband, Noumea, Kaledonia Baru, 16 Mei 2024.AFP via BBC INDONESIA Orang-orang berkumpul di dekat mobil yang terbalik di Distrik Motor Pool di kawasan Tuband, Noumea, Kaledonia Baru, 16 Mei 2024.
Polisi berjaga-jaga ketika orang-orang antre menuju supermarket untuk membeli bahan makanan di Distrik Magenta, Noumea, Kaledonia Baru, 18 Mei 2024.AFP via BBC INDONESIA Polisi berjaga-jaga ketika orang-orang antre menuju supermarket untuk membeli bahan makanan di Distrik Magenta, Noumea, Kaledonia Baru, 18 Mei 2024.
Sebuah mobil terbakar di ruas jalan provinsi Normandie, di luar Noumea, Kaledonia Baru, 16 Mei 2024.AFP via BBC INDONESIA Sebuah mobil terbakar di ruas jalan provinsi Normandie, di luar Noumea, Kaledonia Baru, 16 Mei 2024.
Di mana letak Kaledonia Baru?

Secara geografis, Kaledonia Baru adalah bagian dari Zealandia—sebuah fragmen dari super benua Gondwana kuno yang merupakan bagian dari Oseania. Kaledonia Baru diperkirakan terpisah dari Australia sekitar 65 juta tahun lalu, kemudian bergerak ke arah timur laut dan mencapai posisinya saat ini sekitar 50 juta tahun lalu.

Kaledonia Baru terdiri dari beberapa kepulauan di tengah Samudra Pasifik, dengan pulau terbesar bernama Grande Terre.

Berada di timur laut Australia dan utara Selandia Baru, Kaledonia Baru adalah bekas jajahan Perancis dengan status sui generis—wilayah dengan otonomi khusus.

Perancis menjajah Kaledonia Baru pada 1853 dan menjadikan tempat itu sebagai penjara bagi tahanan politik sejak 1860-an.

Lokasi Kaledonia Baru di peta.BBC INDONESIA Lokasi Kaledonia Baru di peta.
Berdasar sensus penduduk pada 2019, sekitar 271.407 orang bermukim di kepulauan tersebut, dengan mayoritas populasi keturunan Melanesia sebesar 41,21 persen.

Adapun 1,4 persen populasi—sebanyak 3.789 orang—adalah keturunan Indonesia, terutama Suku Jawa.

Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Noumea, Bambang Gunawan, mengungkapkan bahwa warga keturunan Indonesia membentuk komunitas sendiri yang dinamakan Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PMIK), serta mendirikan Wisma Masyarakat Indonesia dengan kapasitas 300 orang.

Baca juga: Kenapa Banyak Orang Jawa di Suriname? Ini Sejarah dan Perbedaan Bahasanya

Halaman:

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com