China Peringatkan Negara Asia, Strategi "Indo-Pasifik" AS Adalah Ancaman Keamanan

Kompas.com - 13/10/2020, 18:28 WIB
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi berbicara dalam konferensi pers di Beijing pada 26 Februari 2020.
AFP/ROMAN PILIPEYMenteri Luar Negeri China, Wang Yi berbicara dalam konferensi pers di Beijing pada 26 Februari 2020.

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Diplomat tinggi pemerintah China, Menteri Luar Negeri Wang Yi, pada Selasa (13/10/2020), mendesak negara-negara Asia untuk tetap "waspada" atas risiko strategi AS yang memicu persaingan geopolitik di Laut China Selatan dan bagian lain kawasan itu.

Beijing dan anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) harus bekerja sama untuk menghilangkan "gangguan eksternal" di Laut China Selatan, kata Wang dalam konferensi pers bersama dengan menteri luar negeri Malaysia.

"Kami (China dan Malaysia) sama-sama berpandangan bahwa Laut China Selatan seharusnya tidak menjadi tempat bagi kekuatan besar yang bergulat dengan kapal perang," kata Wang, yang sedang dalam tur singkat di Asia Tenggara seperti yang dilansir dari Reuters pada Selasa (13/10/2020).

Baca juga: AS Kirim 3 Senjata Canggih ke Taiwan, yang Picu Amarah China

“China dan ASEAN memiliki kapasitas dan kebijaksanaan penuh, serta tanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan ketenangan di Laut China Selatan,” lanjutnya.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Hishammuddin Hussein mengatakan sengketa Laut China Selatan harus diselesaikan secara damai melalui dialog regional.

Baca juga: China Sebut Intervensi Langsung AS di Laut China Selatan Mengandung Kepentingan Politik

China selama bertahun-tahun terjebak dalam sengketa maritim dengan negara-negara pesisir lainnya di Laut China Selatan. Dalam beberapa bulan terakhir mengadakan latihan militer di bagian-bagian yang disengketakan di jalur air strategis itu.

Kemudian, Washington menuduh China berusaha membangun "kerajaan maritim" di daerah Laut China Selatan.

Wang menggambarkan strategi "Indo-Pasifik" Washington, yang bertujuan untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai mitra yang dapat dipercaya di kawasan itu, adalah "risiko keamanan" untuk Asia Timur.

Baca juga: China Luncurkan Rudal di Laut China Selatan, Pentagon Ungkit Perjanjian 2002

"Apa yang dikejar adalah untuk meneriakkan mentalitas perang dingin kuno dan memulai konfrontasi di antara berbagai kelompok dan blok, dan memicu persaingan geopolitik," kata Wang.

"Saya yakin semua pihak melihat ini dengan jelas dan akan tetap waspada terhadapnya (AS)," lanjutnya.

Baca juga: 24 Perusahaan Asal China Masuk Daftar Hitam AS sebagai Sanksi Terkait Laut China Selatan

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo sebelumnya mengatakan Washington menginginkan Asia "bebas dan terbuka" yang tidak didominasi oleh satu negara.

Selama briefing bersama pada Selasa, Hishammuddin dari Malaysia mengatakan China telah berkomitmen untuk membeli 1,7 juta ton minyak sawit hingga pada 2023 dan telah berjanji untuk mendorong peningkatan pengiriman minyak sawit Malaysia yang diproduksi secara berkelanjutan.

Baca juga: Perkuat Kerja Sama, Menlu China Gelar Pertemuan dengan Menko Luhut Binsar


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Tenggelamnya Kursk, Kecelakaan Kapal Selam Terparah Rusia Tewaskan 118 Kru

Misteri Tenggelamnya Kursk, Kecelakaan Kapal Selam Terparah Rusia Tewaskan 118 Kru

Internasional
Myanmar: Apa yang Bisa Diharapkan dari Pertemuan Pemimpin ASEAN

Myanmar: Apa yang Bisa Diharapkan dari Pertemuan Pemimpin ASEAN

Global
Australia Nyatakan Siap Bantu Indonesia Mencari Kapal Selam KRI Nanggala-402

Australia Nyatakan Siap Bantu Indonesia Mencari Kapal Selam KRI Nanggala-402

Global
Hotel yang Dihuni Dubes China Meledak di Pakistan

Hotel yang Dihuni Dubes China Meledak di Pakistan

Global
[POPULER GLOBAL] Dukungan untuk Ustaz Malaysia atas Kontroversi Foto | Klarifikasi Otoritas Terusan Suez atas Pembayaran Operator Ekskavator yang Bebaskan Ever Given

[POPULER GLOBAL] Dukungan untuk Ustaz Malaysia atas Kontroversi Foto | Klarifikasi Otoritas Terusan Suez atas Pembayaran Operator Ekskavator yang Bebaskan Ever Given

Global
[Biografi Tokoh Dunia] Ratu Amina, Pendekar Wanita dari Benua Hitam

[Biografi Tokoh Dunia] Ratu Amina, Pendekar Wanita dari Benua Hitam

Internasional
Berakhirnya Era Castro Setelah 6 Dekade, Partai Komunis Kuba Tunjuk Pemimpin Baru

Berakhirnya Era Castro Setelah 6 Dekade, Partai Komunis Kuba Tunjuk Pemimpin Baru

Global
Kisah Paus Terapkan Lockdown dan Prokes Ketat, Selamatkan Roma dari Pandemi Abad ke-17

Kisah Paus Terapkan Lockdown dan Prokes Ketat, Selamatkan Roma dari Pandemi Abad ke-17

Global
Putin Sebut Rusia adalah Harimau yang Dikelilingi Hiena

Putin Sebut Rusia adalah Harimau yang Dikelilingi Hiena

Global
Rencana AS Jual Kapal Penjaga Pantai Bersejarah ke Indonesia Ditolak Keras

Rencana AS Jual Kapal Penjaga Pantai Bersejarah ke Indonesia Ditolak Keras

Global
Iran Gembira Ada Ledakan di Israel, Dikira Guncang Pabrik Rudal

Iran Gembira Ada Ledakan di Israel, Dikira Guncang Pabrik Rudal

Global
KRI Nanggala-402 Hilang Turut Diwartakan Media Asing

KRI Nanggala-402 Hilang Turut Diwartakan Media Asing

Global
KRI Nanggala Hilang Kontak, Berikut Insiden Melibatkan Kapal Selam 6 Tahun Terakhir

KRI Nanggala Hilang Kontak, Berikut Insiden Melibatkan Kapal Selam 6 Tahun Terakhir

Global
53 Penumpang dalam Penerbangan dari India ke Hong Kong dinyatakan positif Covid-19

53 Penumpang dalam Penerbangan dari India ke Hong Kong dinyatakan positif Covid-19

Global
Darién Gap, Hutan Paling Berbahaya dan Mematikan di Dunia

Darién Gap, Hutan Paling Berbahaya dan Mematikan di Dunia

Global
komentar
Close Ads X