Trump Dinominasikan Mendapat Nobel Perdamaian pada 2021

Kompas.com - 09/09/2020, 17:07 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berinteraksi dengan delegasi setelah berbicara pada hari pertama Konvensi Nasional Partai Republik di Charlotte, Carolina Utara, Senin sore (24/8/2020). Konvensi resmi mencalonkan kembali Trump untuk periode kedua menghadapi calon presiden (capres) Partai Demokrat Joe Biden pada pemilihan presiden (pilpres) 3 November mendatang AFP/GETTY IMAGES/LOGAN CYRUSPresiden Amerika Serikat Donald Trump berinteraksi dengan delegasi setelah berbicara pada hari pertama Konvensi Nasional Partai Republik di Charlotte, Carolina Utara, Senin sore (24/8/2020). Konvensi resmi mencalonkan kembali Trump untuk periode kedua menghadapi calon presiden (capres) Partai Demokrat Joe Biden pada pemilihan presiden (pilpres) 3 November mendatang

OSLO, KOMPAS.com - Seorang anggota Parlemen Norwegia dilaporkan menominasikan Presiden AS Donald Trump mendapatkan Nobel Perdamaian pada 2021.

Si pengusul adalah Christian Tybring-Gjedde, politisi dari sayap kanan sekaligus Ketua Dewan Parlemen Organisasi Kerja Sama Atlantik Utara (NATO).

Dalam pernyataannya dikutip Fox News, Tybring-Gjedde mengatakan dia mencalonkan Trump atas jasanya dalam kesepakatan Isrral dan Uni Emirat Arab.

Baca juga: 2 Politisi Norwegia Calonkan Trump Terima Nobel Perdamaian

Pada Agustus lalu, presiden 74 tahun itu mengumumkan bahwa Isrral dan Uni Emirat Arab menyepakati pemulihan hubungan diplomatik.

Dia mengumumkannya setelah menggelar telepon dengan Perdana Menteri Bejamin Netanyahu dan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Dikutip Jerusalem Post Rabu (9/9/2020), Tybring-Gjedde juga menominasikan sang presiden pada 2018 setelah melakukan pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Pertemuan yang terjadi di Singapura, Juni 2018 itu begitu bersejarah. Sebab, Trump menjadi satu-satunya presiden aktif AS yang bertemu diktator Korea Utara.

Dalam suratnya, si politisi juga menyorongkan "peran penting seperti menengahi konflik perbatasan Kashmir antara India-Pakistan serta dua Korea".

"Saya kira dia lebih banyak mendamaikan bangsa lain ketimbang para penerima Nobel Perdamaian yang lainnya," kritiknya kepada Fox News.

Baca juga: Presiden Korsel: Trump Pantas Dapat Hadiah Nobel Perdamaian

Dia menuturkan seharusnya komite Nobel melihat fakta, bukan menilai hanya karena masa lalu sang presiden atau pernyataannya yang dinilai kontroversial.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Global
Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Global
Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Global
Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Global
Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Global
Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Global
Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Global
Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Global
Nge-'Like' Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Nge-"Like" Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Global
Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Global
PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

Global
Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game 'Among Us'

Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game "Among Us"

Global
Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Global
Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Global
komentar
Close Ads X