Krisis Kepercayaan di Lebanon, Perdana Menteri Tawarkan Ide Pemilihan Dini

Kompas.com - 10/08/2020, 00:54 WIB
Seorang demonstran mengibarkan bendera Lebanon di depan pasukan polisi, dalam aksi unjuk rasa di Beirut, Lebanon, pada Sabtu (8/8/2020). REUTERS/GORAN TOMASEVICSeorang demonstran mengibarkan bendera Lebanon di depan pasukan polisi, dalam aksi unjuk rasa di Beirut, Lebanon, pada Sabtu (8/8/2020).

BEIRUT, KOMPAS.com - Perdana Menteri Hassan Diab menawarkan adanya pemilihan dini untuk mengatasi krisis kepercayaan warga Lebanon pasca-ledakan dahsyat di ibu kota, Beirut.

Melansir Associated Press pada Minggu (9/8/2020), Diab menyampaikan gagasan itu dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu malam waktu setempat (8/8/2020).

Baca juga: Menteri Informasi Lebanon Mengundurkan Diri Pasca-Ledakan di Beirut dan Unjuk Rasa Warga

Diab mengatakan ide pemilihan dini tersebut, mengharuskan semua partai politik mengesampingkan ketidaksepakatan di antara mereka.

Selain, ia juga menyampaikan kesanggupannya untuk tetap menjabat selama 2 bulan akan memberikan waktu bagi politisi mengerjakan reformasi struktural.

Baca juga: Presiden Lebanon: Investigasi Internasional Terhadap Ledakan di Beirut Buang-buang Waktu

Namun, tawaran itu tidak akan mungkin bisa meredakan amarah warga yang sudah pada puncaknya kecewa dengan sistem pemerintahan yang salah dan korup.

Selain itu, ide Diab juga diperkirakan dapat memicu diskusi panjang tentang UU pemilu di tengah seruan untuk memperkenalkan perubahan terhadap sistem perwakilan berbasis sektarian di negara tersebut, yang telah mengakar lama.

Baca juga: Kawah Hasil Ledakan di Beirut, Lebanon, Sedalam 43 Meter

Setelah demonstrasi diiringi dengan huru-hara yang terjadi, pada Minggu (9/8/2020), Menteri Informasi Lebanon, Manal Abdel Samad mengundurkan diri dari jabatan.

Pengunduran diri menteri informasi itu terjadi menjelang waktu konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Pemerintah Prancis, Emmanuel Macron, dan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang bertujuan menyatukan para donor internasional untuk memasok bantuan darurat dan peralatan ke Lebanon, pasca ledakan dahsyat di Beirut.

Baca juga: Demonstrasi Pecah Setelah Ledakan di Beirut, PM Lebanon Janjikan Pemilu Dini

Pada hari itu, duta besar Perancis untuk Lebanon mengatakan negaranya mengambil bagian dalam penyelidikan ledakan di Beirut pada Selasa lalu (4/8/2020).

Bruno Foucher menulis pesan melalui Twitternya bahwa 46 petugas beroperasi sebagai bagian dari penyelidikan yudisial. Penyelidikan itu dimulai oleh jaksa penuntut Perancis setelah seorang warga negara Perancis, Jean-Marc Bonfils, tewas dalam ledakan itu dan lainnya terluka.

Foucher menerangkan dalam unggahannya, bahwa langkah Perancis itu adalah "jaminan ketidakberpihakan dan kecepatan" dalam penyelidikan ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon.

Baca juga: Akankah Presiden Perancis Mengembalikan Kedudukan Kolonial di Lebanon?


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Iran Murka, Sebut AS 'Biadab' atas Sanksi yang Telah Dijatuhkan

Iran Murka, Sebut AS "Biadab" atas Sanksi yang Telah Dijatuhkan

Global
Seorang Remaja yang Menari Setelah Membunuh telah Dihukum Penjara Seumur Hidup

Seorang Remaja yang Menari Setelah Membunuh telah Dihukum Penjara Seumur Hidup

Global
Lagi Asyik Pacaran, Sejoli Dipalak dan Dipaksa Berhubungan Seks di Pinggir Jalan

Lagi Asyik Pacaran, Sejoli Dipalak dan Dipaksa Berhubungan Seks di Pinggir Jalan

Global
Menikah dengan Wanita dari Kasta Lebih Tinggi, Pria Ini Diculik dan Dibunuh

Menikah dengan Wanita dari Kasta Lebih Tinggi, Pria Ini Diculik dan Dibunuh

Global
Demo di Depan Vila Raja Thailand, Aktivis Pasang Plakat 'Negara Milik Rakyat'

Demo di Depan Vila Raja Thailand, Aktivis Pasang Plakat "Negara Milik Rakyat"

Global
Ada Jenazah di Dalam Toilet, Pesawat Air China Mendarat Darurat

Ada Jenazah di Dalam Toilet, Pesawat Air China Mendarat Darurat

Global
Gadis Kasta Dalit Diperkosa dan Dianiaya Hingga Lumpuh, Tersangka dari Kasta di Atasnya

Gadis Kasta Dalit Diperkosa dan Dianiaya Hingga Lumpuh, Tersangka dari Kasta di Atasnya

Global
Operasi Besar-besaran Polisi Inggris Tangkap 1.000 Pengedar dan Narkotika Senilai Rp 22,9 Miliar

Operasi Besar-besaran Polisi Inggris Tangkap 1.000 Pengedar dan Narkotika Senilai Rp 22,9 Miliar

Global
Keren, Batmobile Sungguhan Dibuat di Vietnam, Bisa Melaju 100 Km/Jam

Keren, Batmobile Sungguhan Dibuat di Vietnam, Bisa Melaju 100 Km/Jam

Global
Korban Tewas Kecelakaan Pesawat AU Ukraina Meningkat Jadi 26, 1 Orang Selamat

Korban Tewas Kecelakaan Pesawat AU Ukraina Meningkat Jadi 26, 1 Orang Selamat

Global
Jenazah Perempuan Ini Diikat di Sepeda Motor Sebelum Dibawa ke Rumah Duka

Jenazah Perempuan Ini Diikat di Sepeda Motor Sebelum Dibawa ke Rumah Duka

Global
Dirawat Beberapa Jam di RS, 3 Yahudi Ortodoks Meninggal karena Covid-19

Dirawat Beberapa Jam di RS, 3 Yahudi Ortodoks Meninggal karena Covid-19

Global
PM Australia: Dunia Harus Tahu Asal Muasal Covid-19

PM Australia: Dunia Harus Tahu Asal Muasal Covid-19

Global
Trump: Debat dengan Joe Biden seperti Laga UFC

Trump: Debat dengan Joe Biden seperti Laga UFC

Global
Suami Belikan 1 Hektar Tanah di Bulan untuk Istri, Segini Harganya

Suami Belikan 1 Hektar Tanah di Bulan untuk Istri, Segini Harganya

Global
komentar
Close Ads X