Ibu Ini Susui 20 Bayi yang Ditinggal Mati Ibu Mereka akibat Pembantaian di Kabul

Kompas.com - 15/05/2020, 15:21 WIB
Seorang ibu (sebelah kanan), menyusui bayinya yang berumur dua hari di Rumah Sakit Anak Ataturk, sehari setelah mereka diselamatkan dari serangan mematikan terhadap rumah sakit bersalin Barchi, di Kabul, Afghanistan, Rabu, 13 Mei 2020. AP/Rahmat GulSeorang ibu (sebelah kanan), menyusui bayinya yang berumur dua hari di Rumah Sakit Anak Ataturk, sehari setelah mereka diselamatkan dari serangan mematikan terhadap rumah sakit bersalin Barchi, di Kabul, Afghanistan, Rabu, 13 Mei 2020.

KABUL, KOMPAS.com - Seorang ibu melakukan tindakan suka rela dengan menyusui 20 bayi yang baru ditinggal mati ibu mereka akibat pembantaian di rumah sakit Barchi, Kabul, Afghanistan Selasa lalu.

Tidak hanya para ibu yang baru melahirkan yang menjadi korban pembantaian. Namun juga bayi dan perawat rumah sakit. Total kematian akibat pembantaian itu sebanyak 24 jiwa.

Aksi pembantaian itu dilansir Daily Mail merupakan perbuatan anggota Negara Islam ISIS yang bersenjata.

Feroza Younis Omar, menyusui bayi-bayi yang ditinggal mati ibunya. Feroza sendiri memiliki seorang bayi berusia 14 bulan dan bekerja di kementerian perekonomian negara itu.

Bayi-bayi yang masih hidup dari aksi pembantaian itu dirawat di Rumah Sakit Ataturk, Kabul, Afghanistan. Feroza menyusui 20 bayi itu di sana.

Feroza berkata, "Kita semua telah dirusak oleh pelaku kriminal yang menghancurkan kemanusiaan di Afghanistan, saya salah satu korbannya."

Baca juga: Kisah Zainab, 7 Tahun Menanti Kehadiran Buah Hati, Hanya Berjumpa 4 Jam Sebelum Tewas akibat Pembantaian

Diketahui pada Selasa (12/5/2020) tiga pria bersenjata yang menyamar sebagai polisi membantai orang-orang di rumah sakit bersalin Barchi, di ibu kota Afghanistan pada pagi hari.

Sebelum menembak, mereka bahkan melemparkan granat. Ketiga penembak itu kemudian ditembak mati oleh aparat beberapa jam setelah pembantaian yang dilakukan mereka.

Tampak pasukan keamanan Afghanistan yang bersenjata lengkap sedang membawa bayi dari tempat kejadian, salah satu bayinya dibungkus selimut yang berlumuran darah.

Khadija, salah satu dari sedikit korban yang selamat dari pembantaian itu menceritakan bahwa dia terpaksa menunggu dan memeluk putranya yang baru lahir ketika tiga orang militan itu masuk dan menyerbu unit perawatan intensif (ICU) hanya beberapa jam setelah dia melahirkan.

Halaman:

Sumber Daily Mail
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengusaha Ini Pesan Masker Termahal di Dunia Seharga Rp 22 Miliar, Bertakhtakan Emas dan Berlian

Pengusaha Ini Pesan Masker Termahal di Dunia Seharga Rp 22 Miliar, Bertakhtakan Emas dan Berlian

Global
Aksi Balasan Terkait Hong Kong, China Beri Sanksi 11 Pejabat AS

Aksi Balasan Terkait Hong Kong, China Beri Sanksi 11 Pejabat AS

Global
Kunjungi Taiwan, Menkes AS Salah Ucap Nama Presiden Tsai Jadi Xi

Kunjungi Taiwan, Menkes AS Salah Ucap Nama Presiden Tsai Jadi Xi

Global
MV Wakashio Retak, Bencana Minyak Tumpah di Mauritius Bisa Makin Parah

MV Wakashio Retak, Bencana Minyak Tumpah di Mauritius Bisa Makin Parah

Global
'Misteri Besar' Melonjaknya Kasus Virus Corona di Vietnam

"Misteri Besar" Melonjaknya Kasus Virus Corona di Vietnam

Global
[Hari Ini dalam Sejarah] Pernikahan Pertama di Luar Angkasa

[Hari Ini dalam Sejarah] Pernikahan Pertama di Luar Angkasa

Global
Palang Merah Internasional Latih 43.000 Relawan untuk Bantu Warga di Korea Utara

Palang Merah Internasional Latih 43.000 Relawan untuk Bantu Warga di Korea Utara

Global
Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Diktator Terakhir di Eropa, Kembali Menang Pilpres

Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Diktator Terakhir di Eropa, Kembali Menang Pilpres

Global
Tragedi Minyak Tumpah Terparah di Mauritius, Keadaan Darurat Lingkungan Diumumkan

Tragedi Minyak Tumpah Terparah di Mauritius, Keadaan Darurat Lingkungan Diumumkan

Global
'Saya Membesarkannya Selama 26 Tahun Hanya untuk Pergi dalam Semalam'

"Saya Membesarkannya Selama 26 Tahun Hanya untuk Pergi dalam Semalam"

Global
Calon Vaksin Virus Corona CanSino China Mulai Uji Klinis Fase III di Arab Saudi

Calon Vaksin Virus Corona CanSino China Mulai Uji Klinis Fase III di Arab Saudi

Global
China Kirim Pesawat Tempur ke Taiwan ketika Delegasi AS Berkunjung

China Kirim Pesawat Tempur ke Taiwan ketika Delegasi AS Berkunjung

Global
Positif Covid-19, Gadis Ini Masih Sempat Betulkan Kuku di Salon

Positif Covid-19, Gadis Ini Masih Sempat Betulkan Kuku di Salon

Global
Jelang Perundingan Damai, Afghanistan Bebaskan 400 Tahanan Taliban 2 Hari Lagi

Jelang Perundingan Damai, Afghanistan Bebaskan 400 Tahanan Taliban 2 Hari Lagi

Global
Dituduh Kumpul Kebo, Wanita Ini Diculik Mantan Pacarnya

Dituduh Kumpul Kebo, Wanita Ini Diculik Mantan Pacarnya

Global
komentar
Close Ads X