Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Waode Nurmuhaemin
Penulis

Praktisi pendidikan, penulis buku dan novel pendidikan

Kekerasan yang Terus Berulang di Sekolah

Kompas.com - 10/08/2023, 08:48 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KASUS kekerasan di dunia pendidikan tidak selalu dialami oleh murid. Guru juga kerap menerima penganiayaan dari siswa atau orangtua siswa.

Kita masih ingat bagaimana seorang kepala sekolah di NTT tahun lalu, tewas di tangan orangtua siswa.

Lalu, seorang guru yang dicukur rambutnya oleh orangtua siswa sebagai balasan karena mencukur rambut anaknya.

Teranyar, seorang guru diketapel matanya hingga buta oleh orangtua siswa yang tidak terima anaknya dianiaya sang guru. Peristiwa ini terjadi di SMA di Bengkulu.

Baca juga: Kronologi Guru di Bengkulu Dikatapel Orangtua Murid dan Kini Terancam Buta

Kejadian ini tentu saja menimbulkan kecaman publik. Guru seharusnya mendapat tempat terhormat dalam kasta dan starta masyarakat. Terlebih, kejadiannya di sekolah.

Aksi koboy dan tidak terpuji ini makin melunturkan wibawa guru dan sekolah. Guru adalah pahlawan, meski tanpa tanda jasa.

Tentu saja semua mengutuk aksi tidak terpuji orangtua murid tersebut. Namun, permasalahannya dalam kasus ini ternyata menyimpan cerita yang bisa dikatakan sebagai “gunung es”, akumulasi kekesalan terhadap sang guru.

Menurut beberapa sumber, hal ini dipicu karena guru olahraga tersebut menegur dengan cara menendang kepala siswa.

Guru tersebut juga selama ini dikenal emosional dan kasar. Suka memberi hukuman yang tidak mendidik.

Bahkan ada siswa yang pernah dihukum dengan cara ditendang, dipukul bahkan diludahi. Tentu saja hal ini menambah miris kasus ini.

Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Tentu saja tata krama dan sopan santun wajib menjadi pola dan karakter hidup mereka. Tanpa adab dan norma, guru tidak akan mendapat penghormatan dari masyarakat.

Mereka hanya akan menciptakan musuh bersama jika tidak bisa menjadi panutan untuk siswa dan masyarakat.

Namun, di sisi lain, orangtua siswa tentu tidak boleh main hakim sendiri. Ada prosedur yang berlaku. Ada hukum yang mengatur.

Pihak sekolah juga lalai dalam kasus ini. Pihak sekolah sudah lama mengetahui sifat tidak terpuji guru tersebut. Sudah seharusnya diberi sanksi untuk tidak mengajar atau diusulkan nonaktif sebagai guru.

Siswa yang dihukum dengan kekerasan akan menimbulkan trauma mendalam. Bahkan kelak siswa itu berpotensi melakukan kekerasan serupa karena mendapatkan pengajaran yang dibumbui perilaku kekerasan.

Tidak ada tempat untuk kekerasan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim sudah menegaskan akan membasmi tiga dosa besar pendidikan, yaitu perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.

Kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa adalah bentuk perundungan. Demikian juga kekerasan yang dilakukan orangtua siswa terhadap guru.

Dalam kasus ini, guru dan orangtua sama-sama melakukan tindakan kekerasan, meski sang guru mengalami luka fisik yang lebih berat.

Tahun 2024, Kurikulum Merdeka akan menjadi kurikulum nasional. Saat ini kurikulum tersebut sudah dipakai di hampir seluruh sekolah Indonesia.

Kurikulum ini diklaim unggul serta memiliki ciri khas P5, akronim dari Projek penguatan profil pelajar pancasila sebagai pembeda dengan kurikulum K13.

Kurikulum Merdeka juga dinilai lebih membahagiakan guru dan siswa. Apa yang diharapkan oleh masyarakat dari penerapan kurikulum ini adalah gambaran kesejukan pengamalan nilai-nilai Pancasila di sekolah.

Semua guru diharapkan memahami P5. Sebelum menerapkan pada siswa, hendaknya guru terlebih dahulu menerapkan pada diri sendiri sehingga menjadi lambang dan contoh karakter dari P5.

Kurikulum Merdeka memang bercirikan digitalisasi dalam pelatihannya. Sehinga perlu dipastikan keterjangkauanya untuk semua guru di seluruh NKRI.

Diharapkan dalam darah guru teraliri falsafah dan nilai-nilai Kurikulum Merdeka yang digerakan nilai Pancasila.

Mereka tidak boleh lagi mencederai citra pendidik dengan melakukan perbuatan yang tidak memberikan pencerahan dan pendidikan bagi siswa, penerus estafet kepemipinan bangsa ini.

Kasus kekerasan yang terus terjadi di dunia pendidikan kita adalah alarm yang berbunyi kencang. Wajib diperhatikan dan diselesaikan dengan cepat.

Sekolah adalah tempat menyemai bibit-bibit unggul generasi harapan, bukan pencetak calon-calon manusia yang rusak mental dan akhlaknya. Guru, siswa, dan orangtua diharapkan bersinergi menjadi kekuatan polarisasi yang bisa mewujudkan sekolah tanpa kekerasan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com