Kompas.com - 19/09/2021, 15:05 WIB
Peneliti sekaligus Guru Besar FKKMK UGM Prof. Adi Utarini masuk dalam daftar 100 orang berpengaruh di dunia tahun 2021 versi majalah TIME. Tangkap layar laman UGMPeneliti sekaligus Guru Besar FKKMK UGM Prof. Adi Utarini masuk dalam daftar 100 orang berpengaruh di dunia tahun 2021 versi majalah TIME.
|

KOMPAS.com - Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof. Adi Utarini masuk dalam daftar 100 orang berpengaruh di dunia tahun 2021 versi majalah TIME yang dirilis Rabu (15/9/2021) lalu.

Peneliti sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM ini masuk dalam kategori pionir karena memimpin penelitian teknologi Wolbachia untuk pengendalian dengue di Yogyakarta bersama World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta.

Kolaborasi WMP Yogyakarta yang sebelumnya bernama Eliminasi Dengue Project (EDP) merupakan kolaborasi antara FK-KMK UGM, Monash University dan Yayasan Tahija.

Teknologi Wolbachia ditemukan oleh Founder dan Direktur WMP Global, Prof. Scott O'Neill di tahun 2008.

Baca juga: UIN Jakarta Buka Lowongan Kerja Jadi Dosen Tetap BLU, Cek Infonya

Kendalikan nyamuk dengue dengan virus wolbachia

WMP yang diinisiasi Monash University ini merupakan lembaga nonprofit yang hadir dengan tujuan melindungi komunitas global dari penyakit yang ditularkan nyamuk. Secara garis besar kewilayahan, WMP beroperasi di 11 negara termasuk Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini merupakan berkah dari Allah SWT bagi tim penelitian kami di World Mosquito Program Yogyakarta. Ini adalah apresiasi bagi peneliti-peneliti dan seluruh tim," kata perempuan yang akrab disapa Prof. Uut ini seperti dikutip dari laman UGM, Minggu (19/8/2021).

Dalam penelitian tersebut, lanjut Prof. Uut, dia juga bermitra dengan tim lain terlibat dalam penelitian yaitu Monash University, World Mosquito Program Global, dan Yayasan Tahija sebagai lembaga filantropi yang mendukung penuh penelitian ini.

"Serta apresiasi bagi masyarakat Yogyakarta telah sangat terbuka dengan inovasi dan pemerintah daerah Yogyakarta juga mendukung penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat lebih luas, untuk mengurangi beban masyarakat karena dengue,” imbuh Prof. Uut.

Baca juga: Nadiem Makarim: Lulusan Guru Penggerak Wajib Bawa Perubahan

Teknologi Wolbachia dimulai 2011

Peneliti Pendamping WMP Yogyakarta dan Direktur Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM Riris Andono Ahmad menambahkan, penelitian pengembangan teknologi Wolbachia telah dimulai sejak 2011.

Menurutnya, fase awal penelitian dilakukan untuk memastikan keamanan Wolbachia, dilanjutkan dengan pelepasan di area terbatas.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.