Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bea Cukai Jadi Sorotan Publik, Pemerhati Kritisi Persoalan Komunikasi dan Transparansi

Kompas.com - 30/04/2024, 09:30 WIB
Laksmi Pradipta Amaranggana,
Mahardini Nur Afifah

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai menjadi sorotan publik usai usai tiga kasus ramai diperbincangkan di media sosial beberapa waktu terakhir.

Kasus tersebut di antaranya sepatu milik Radhika yang dibeli dengan harga Rp 10.301.000, tapi dikenakan bea masuk Rp 31.810.343 oleh Bea Cukai.

Belakangan diketahui muara persoalan ini karena kesalahan input data oleh perusahaan jasa titipan. 

Setelah itu, gantian muncul laporan penahanan bantuan alat belajar SLB A Pembina Tingkat Nasional Jakarta oleh Bea Cukai.

Bantuan hibah dari Ohfa Tech, Korea Selatan itu berupa 20 keyboard untuk siswa tunanetra. Bantuan tersebut ditahan Bea Cukai lantaran SLB tidak melanjutkan proses pengeluaran barang.

Ada juga kasus penahanan mainan dari kreator konten Medy yang seharusnya merupakan hadiah untuk review produk dan dikenakan biaya pajak.

Mainan tersebut dikenakan bea masuk karena terindikasi harga yang dilaporkan perusahaan jasa titipan (PJT) lebih rendah dari yang sebenarnya.

Oleh karena itu, mainan tersebut sempat ditahan Bea Cukai untuk keperluan perhitungan bea masuk dan pajaknya.

Usai ketiga kasus tersebut mencuat, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta Ditjen Bea Cukai untuk memperbaiki layanan.

Baca juga: Kasus yang Bikin Bea Cukai Disorot: Sepatu Impor hingga Alat Bantu SLB

Tanggapan pemerhati

Pemerhati Kebijakan Publik Agus Pambagio menyampaikan, salah satu akar permasalahan Bea Cukai adalah buruknya komunikasi dengan masyarakat.

Agus menyoroti, Ditjen Bea Cukai yang dinilai kurang menyosialisasikan peraturan keluar-masuk barang di Indonesia, terutama dari luar negeri.

Menurutnya, seharusnya Ditjen Bea Cukai dapat membuat video khusus dalam setiap aturannya agar tidak banyak salah paham di masyarakat.

“Selain disebarkan via media sosial, video tersebut juga dapat diputar di beberapa tempat seperti bandara. Kan semisal di kereta api, ada di dekat pintu perlintasan sebidang, mungkin bisa dibuat seperti itu,” ungkap Agus saat dihubungi Kompas.com, Senin (29/4/2024).

Baca juga: Duduk Perkara Warganet Beli Sepatu Rp 10 Juta, tapi Ditagih Bea Cukai Rp 31 Juta

Bea Cukai minim penindakan

Tak hanya persoalan komunikasi, Agus menilai selama ini pemerintah juga terkadang membuat peraturan namun penegakan aturan bagi pelanggar terkadang masih lemah.

"Seharusnya, siapa pun yang melanggar peraturan, baik masyarakat umum maupun pejabat, wajib ditindak sesuai aturan," kata Agus.

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com