Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kiper hingga Bek Korsel Bernama Kim, Mengapa Banyak Nama Kim di Korea?

Kompas.com - 25/11/2022, 10:30 WIB
Dandy Bayu Bramasta,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

 

KOMPAS.com - Pertandingan pembuka Grup H Piala Dunia 2022 antara Uruguay vs Korea Selatan pada Kamis (24/11/2022) malam WIB berakhir dengan skor imbang kacamata.

Pada laga tersebut, ada satu hal menarik perhatian warganet di media sosial, yakni banyaknya pemain Korea Selatan bernama "Kim" yang menjadi starter.

Setidaknya ada lima pemain Korea Selata dengan nama depan Kim, mulai dari kiper hingga empat pemain bertahan Korea Selatan bernama "Kim".

Penjaga gawang bernama Kim Seung-Gyu dari klub Al Shabab, empat pemain bertahan masing-masing bernama Kim Jin-Su (Jeonbuk Motors), Kim Young-Gwon (Ulsan Hyundai), Kim Min-Jae (Napoli), dan Kim Moon-hwan (Jeonbuk Motors). 

"Starting XI Korea Selatan lawan Uruguay. Semua pemain bertahan (kiper & bek) punya nama Kim," tulis akun Twitter @faktasepakbola.

 Baca juga: Arab Saudi Negara Asia Pertama yang Mengalahkan Argentina dalam Sejarah Piala Dunia

Salah satu akun Twitter menanggapi twit tersebut dengan menyebut bahwa nama Kim di Korea Selatan sudah pasaran.

"Jebul jeneng kim nang korea pasaran (ternyata nama Kim di Korea Selatan pasaran)" tulis akun Twitter @retzuya_.

Lantas, mengapa banyak orang Korea bernama Kim?

Alasan orang Korea banyak bernama Kim

Kim Jong Un turun tangan dalam mengawasi pelatihan operasi nuklir taktis militernya secara langsung. Korea Utara pada Selasa (8/11/2022) mengeluarkan pernyataan yang membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) telah memasok senjata ke Rusia.KCNA/AP via DW INDONESIA Kim Jong Un turun tangan dalam mengawasi pelatihan operasi nuklir taktis militernya secara langsung. Korea Utara pada Selasa (8/11/2022) mengeluarkan pernyataan yang membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) telah memasok senjata ke Rusia.

Dilansir dari britannica, dari total 49,3 juta orang Korea Selatan (pada 2015), sebanyak 20 persen di antaranya memiliki nama keluarga atau marga Kim, atau sekitar 10 juta orang.

Lee adalah nama paling umum kedua di Korea, dan Park adalah yang ketiga.

Secara keseluruhan, sekitar 45 persen orang Korea memiliki salah satu dari nama Kim, Lee, dan Park.

Tapi mengapa Kim begitu banyak? Apakah mereka semua terkait satu sama lain?

Jawabannya terletak pada signifikansi historis dari keluarga Kim.

Berasal dari nama keturunan penguasa Kerajaan Silla

Di Kerajaan Silla (57 sebelum Masehi-935 Masehi), yang berperang dan bersekutu dengan negara-negara lain di semenanjung Korea dan akhirnya menyatukan sebagian besar Korea pada 668.

Kim yang berarti "emas" adalah nama sebuah keluarga yang naik pangkat dan menjadi penguasa Silla selama 700 tahun.

Selama berabad-abad di Korea, nama keluarga jarang ditemukan di antara siapa pun kecuali keluarga kerajaan dan aristokrat.

Keadaan ini berlangsung sampai pemberian nama keluarga menjadi tanda kesukaan raja selama Dinasti Goryeo (935–1392).

 Baca juga: Profil Kim Keon Hee, Istri Presiden Korea Selatan yang Curi Perhatian Warganet di KTT G20


Banyak dipilih oleh penduduk

Istana Gyeonbokgung yang merupakan istana Dinasti Joseon di Seoul, Korea Selatan.Wikimedia Commons Istana Gyeonbokgung yang merupakan istana Dinasti Joseon di Seoul, Korea Selatan.

Kemudian, pada akhir Dinasti Joseon (1392–1910), beberapa rakyat jelata mengadopsi nama keluarga untuk keuntungan sosial dan ekonomi.

Sebuah praktik yang menjamur setelah sistem kelas dihapuskan pada 1894 dan penjajah Jepang memaksa orang Korea untuk menggunakan nama keluarga.

Rakyat jelata sering memilih nama klan yang tinggi seperti Kim, Lee, atau Park.

Namun, tidak semua orang yang memiliki nama Kim karena warisan adalah sama.

Unit dasar dari sistem kekerabatan tradisional Korea adalah klan, atau bongwan, sebuah kelompok yang nama belakang menandakan asal geografis yang sama.

Dengan demikian, Kim yang berbeda dapat melacak garis keturunan mereka ke tempat yang berbeda, terutama Gimhae.

Kota di bagian tenggara Korea adalah tempat kelahiran Kim Su-Ro, pria yang diakui sebagai nenek moyang asli Kim dan yang menemukan Gaya (42 Masehi), sebuah kerajaan Korea kuno.

Selebihnya, ada sekitar 300 orang dengan nama Kim lainnya yang berasal dari Gyeongju, Andong (yang sudah memiliki 2 klan Kim), dan Gwangsan.

 Baca juga: Seperti Apa Perayaan Pesta Halloween di Itaewon, Korea Selatan?

Apakah nama yang sama memiliki hubungan darah?

Apakah semua orang Korea yang memiliki nama keluarga dianggap memiliki hubungan satu sama lain?

Saat ini, asal usul klan Korea cukup jauh sehingga orang-orang yang akar leluhurnya berada di desa yang berbeda dianggap memenuhi syarat untuk menikah satu sama lain.

Namun demikian, sudah lama ada undang-undang yang melarang pernikahan antara orang-orang dengan nama belakang yang sama dan asal usul dari pihak ayah.

Namun, pada 1997, Mahkamah Konstitusi Korea Selatan memutuskan undang-undang tersebut inkonstitusional, dan hukum perdata diubah pada 2005 untuk melarang hanya pernikahan antara orang-orang yang berkerabat dekat.

 Baca juga: Ramai soal UMS Buka Cabang Kampus di Korea Selatan, Ini Penjelasannya

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Jaga Kesehatan, Jemaah Haji Diimbau Umrah Wajib Pukul 22.00 atau 09.00

Jaga Kesehatan, Jemaah Haji Diimbau Umrah Wajib Pukul 22.00 atau 09.00

Tren
Sisa Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2024, Ada Berapa Tanggal Merah?

Sisa Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2024, Ada Berapa Tanggal Merah?

Tren
4 Tanda yang Menunjukkan Orangtua Psikopat, Apa Saja?

4 Tanda yang Menunjukkan Orangtua Psikopat, Apa Saja?

Tren
SIM Diganti NIK Mulai 2025, Kapan Masyarakat Harus Ganti Baru?

SIM Diganti NIK Mulai 2025, Kapan Masyarakat Harus Ganti Baru?

Tren
Dirjen Dikti: Rektor Harus Ajukan UKT 2024 dan IPI Tanpa Kenaikan

Dirjen Dikti: Rektor Harus Ajukan UKT 2024 dan IPI Tanpa Kenaikan

Tren
Warganet Sebut Pemakaian Kain Gurita Bayi Bisa Cegah Hernia, Benarkah?

Warganet Sebut Pemakaian Kain Gurita Bayi Bisa Cegah Hernia, Benarkah?

Tren
Saat Jokowi Sebut UKT Akan Naik Tahun Depan, tapi Prabowo Ingin Biaya Kuliah Turun

Saat Jokowi Sebut UKT Akan Naik Tahun Depan, tapi Prabowo Ingin Biaya Kuliah Turun

Tren
Bolehkah Polisi Hapus 2 Nama DPO Pembunuhan Vina yang Sudah Diputus Pengadilan?

Bolehkah Polisi Hapus 2 Nama DPO Pembunuhan Vina yang Sudah Diputus Pengadilan?

Tren
Kisah Nenek di Jepang, Beri Makan Gratis Ratusan Anak Selama Lebih dari 40 Tahun

Kisah Nenek di Jepang, Beri Makan Gratis Ratusan Anak Selama Lebih dari 40 Tahun

Tren
Ramai soal Uang Rupiah Diberi Tetesan Air untuk Menguji Keasliannya, Ini Kata BI

Ramai soal Uang Rupiah Diberi Tetesan Air untuk Menguji Keasliannya, Ini Kata BI

Tren
Benarkah Pegawai Kontrak yang Resign Dapat Uang Kompensasi?

Benarkah Pegawai Kontrak yang Resign Dapat Uang Kompensasi?

Tren
Peneliti Ungkap Hujan Deras Dapat Picu Gempa Bumi, Terjadi di Perancis dan Jepang

Peneliti Ungkap Hujan Deras Dapat Picu Gempa Bumi, Terjadi di Perancis dan Jepang

Tren
Pengguna Jalan Tol Wajib Daftar Aplikasi MLFF Cantas, Mulai Kapan?

Pengguna Jalan Tol Wajib Daftar Aplikasi MLFF Cantas, Mulai Kapan?

Tren
BMKG Keluarkan Peringatan Kekeringan Juni-November 2024, Ini Daftar Wilayahnya

BMKG Keluarkan Peringatan Kekeringan Juni-November 2024, Ini Daftar Wilayahnya

Tren
Ada Potensi Kekeringan dan Banjir secara Bersamaan Saat Kemarau 2024, Ini Penjelasan BMKG

Ada Potensi Kekeringan dan Banjir secara Bersamaan Saat Kemarau 2024, Ini Penjelasan BMKG

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com