Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Turun Kelas Jadi Negara Berpendapatan Menengah ke Bawah

Kompas.com - 11/07/2021, 11:33 WIB
Muhamad Syahrial

Penulis

Sumber Kompas.com

KOMPAS.com - Kelas Indonesia dari negara berpendapatan menengah atas (upper middle income country) turun menjadi negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income country).

Status tersebut diberikan Bank Dunia (World Bank) berdasarkan laporan yang diperbarui setiap tanggal 1 Juli.

Penurunan kelas itu didasarkan pada penurunan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita tahun 2020.

Pendapatan per kapita Indonesia pada tahun 2019 mencapai 4.050 dollar AS, namun pada tahun lalu pendapatan per kapita Indonesia hanya sebesar 3.870 dollar AS.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menganggap, penurunan pendapatan per kapita Indonesia merupakan dampak pandemi Covid-19.

Baca juga: RI Jadi Negara Berpenghasilan Menengah ke Bawah, Ini Respons Istana

Sebagaimana diberitakan KOMPAS.com pada Kamis (8/7/2021), Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu mengatakan, pandemi Covid-19 menjadi tantangan terbesar bagi perekonomian Indonesia saat ini.

Bukan hanya di Indonesia, menurut Febrio, kehidupan sosial dan ekonomi global pada tahun 2020 menjadi sektor yang terdampak sangat serius akibat krisis kesehatan.

“Pandemi telah menciptakan pertumbuhan ekonomi negatif di hampir seluruh negara, termasuk Indonesia, di tahun 2020. Dengan demikian, penurunan pendapatan per kapita Indonesia merupakan sebuah konsekuensi yang tidak terhindarkan," ujar Febrio.

Dia menegaskan, penurunan pendapatan per kapita pada masa pandemi Covid-19 sulit dihindari. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di banyak negara lainnya.

Meski terkontraksi -2,1 persen pada tahun 2020, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan beberapa negara ASEAN atau G-20.

Baca juga: Saat Negara-negara Kaya Minyak Kehilangan Pendapatan 9 Triliun Dollar AS

Contohnya, pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Malaysia terkontraksi -5,6 persen, Filipina -9,5 persen, Thailand -6,1 persen, Brazil -4,1 persen, Afrika Selatan -7,0 persen, dan India sebesar -8,0 persen.

Hanya beberapa negara yang perekonomiannya tumbuh positif pada tahun 2020, yakni China 2,3 persen, Turki 1,8 persen, dan Vietnam sebesar 2,9 persen.

Febrio mengatakan, sebelum pandemi, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam tren yang kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tinggi dan konsisten, yaitu rata-rata sebesar 5,4 persen dalam beberapa tahun.

Raihan tersebut membuat Bank Dunia memasukkan Indonesia ke dalam golongan negara berpendapatan menengah ke atas, berkat pendapatan per kapita mencapai 4.050 AS pada tahun 2019, sedikit di atas ambang batas minimal kelas tersebut yang dipatok sebesar 4.046 dollar AS.

Berbeda dengan tahun lalu, pada tahun 2021, Bank Dunia menaikkan ambang batas minimal negara berpendapatan menengah atas menjadi 4.096 dollar AS.

Sumber: KOMPAS.com (Yohana Artha Uly/Erlangga Djumena)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Daftar Nama 11 Korban Meninggal Dunia Kecelakaan Bus di Subang

Daftar Nama 11 Korban Meninggal Dunia Kecelakaan Bus di Subang

Tren
Pemkab Sleman Tak Lagi Angkut Sampah Organik Warga, Begini Solusinya

Pemkab Sleman Tak Lagi Angkut Sampah Organik Warga, Begini Solusinya

Tren
Kapan Waktu Terbaik Minum Vitamin?

Kapan Waktu Terbaik Minum Vitamin?

Tren
Daftar Negara yang Mendukung Palestina Jadi Anggota PBB, Ada 9 yang Menolak

Daftar Negara yang Mendukung Palestina Jadi Anggota PBB, Ada 9 yang Menolak

Tren
Mengenal Como 1907, Klub Milik Orang Indonesia yang Sukses Promosi ke Serie A Italia

Mengenal Como 1907, Klub Milik Orang Indonesia yang Sukses Promosi ke Serie A Italia

Tren
Melihat Lokasi Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Jalur Rawan dan Mitos Tanjakan Emen

Melihat Lokasi Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Jalur Rawan dan Mitos Tanjakan Emen

Tren
Remaja di Jerman Tinggal di Kereta Tiap Hari karena Lebih Murah, Rela Bayar Rp 160 Juta per Tahun

Remaja di Jerman Tinggal di Kereta Tiap Hari karena Lebih Murah, Rela Bayar Rp 160 Juta per Tahun

Tren
Ilmuwan Ungkap Migrasi Setengah Juta Penghuni 'Atlantis yang Hilang' di Lepas Pantai Australia

Ilmuwan Ungkap Migrasi Setengah Juta Penghuni "Atlantis yang Hilang" di Lepas Pantai Australia

Tren
4 Fakta Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Lokasi di Jalur Rawan Kecelakaan

4 Fakta Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Lokasi di Jalur Rawan Kecelakaan

Tren
Dilema UKT dan Uang Pangkal Kampus, Semakin Beratkan Mahasiswa, tapi Dana Pemerintah Terbatas

Dilema UKT dan Uang Pangkal Kampus, Semakin Beratkan Mahasiswa, tapi Dana Pemerintah Terbatas

Tren
Kopi atau Teh, Pilihan Minuman Pagi Bisa Menentukan Kepribadian Seseorang

Kopi atau Teh, Pilihan Minuman Pagi Bisa Menentukan Kepribadian Seseorang

Tren
8 Latihan yang Meningkatkan Keseimbangan Tubuh, Salah Satunya Berdiri dengan Jari Kaki

8 Latihan yang Meningkatkan Keseimbangan Tubuh, Salah Satunya Berdiri dengan Jari Kaki

Tren
2 Suplemen yang Memiliki Efek Samping Menaikkan Berat Badan

2 Suplemen yang Memiliki Efek Samping Menaikkan Berat Badan

Tren
BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 12-13 Mei 2024

BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 12-13 Mei 2024

Tren
[POPULER TREN] Prakiraan Cuaca BMKG 11-12 Mei | Peserta BPJS Kesehatan Bisa Berobat Hanya dengan KTP

[POPULER TREN] Prakiraan Cuaca BMKG 11-12 Mei | Peserta BPJS Kesehatan Bisa Berobat Hanya dengan KTP

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com