Kompas.com - 28/04/2021, 08:00 WIB
Ilustrasi aplikasi Google Authenticator. Kompas.com/Retia Kartika DewiIlustrasi aplikasi Google Authenticator.

KOMPAS.com - Sebuah unggahan berisi informasi mengenai seseorang yang kehilangan password Google Authenticator miliknya beredar di media sosial pada Jumat, (23/4/2021).

"@c0insbit hello coin it's I lost my Google Authenticator key, please help, sir. How do I get back into my account, thank you?

(@c0insbit halo koin, saya kehilangan kunci Google Authenticator saya, tolong bantu, pak. Bagaimana cara saya kembali ke akun saya, terima kasih?)" tulis akun Twitter @OtongRofii dalam twitnya.

Baca juga: Mengenal Google Authenticator, Aplikasi untuk Menjaga Data pada Ponsel

Tentang Google Authenticator

Diketahui, Google Authenticator adalah aplikasi keamanan gratis yang dapat melindungi akun penggunanya dari pencurian kata sandi.

Aplikasi ini mudah dioperasikan dan dapat melindungi akun penggunanya dengan basis otentifikasi dua faktor (2FA).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, jika ponsel kita mengalami reset atau kehilangan aplikasi Google Authenticator, maka berdampak pada pengguna yang tidak bisa masuk ke akun miliknya.

Bagaimana jika akun Google Authenticator terhapus, reset atau mengalami gangguan?

Menanggapi hal itu, Security Digital Trainer, Yerry Niko Borang menjelaskan bahwa ada cara untuk mengatasi kendala Google Authenticator yang terhapus yakni dengan antisipasi backup data.

"Bisa (di-backup). Ada di sebelah kanan atas pilihan export account, itu dipilih aja," ujar Yerry saat dihubungi Kompas.com, Selasa (27/4/2021).

Baca juga: Waspadai Pencurian Data KTP untuk Pinjaman Online, Berikut Cara Melindunginya

Ia menambahkan, setelah menekan "export account" kemudian pilih opsi "export".

Nantinya, sistem aplikasi akan me-generate QR kode untuk melakukan eksport data.

Untuk keamanan dan antisipasi password hilang, Yerry menyarankan untuk menyimpan kode QR.

"Kan ada 2 kode plus gambar QR-nya, kodenya disimpan di notes atau penyimpanan aman," ujar Yerry.

Tetapi, jika pengguna belum mempersiapkan langkah penanganan ini, misal tidak sempat menyimpan kode QR, maka bisa tetap mengekspor data melalui aplikasi atau Google Autheticatornya.

Baca juga: [POPULER TREN] Profil Munarman | Berapa Harga Satu Unit Kapal Selam?

Kelebihan dan kelemahan Google Authenticator

Meski terbilang cukup populer untuk aplikasi keamanan data, Google Authenticator memiliki sisi kelebihan dan dan kekurangannya.

Yerry mengatakan, keunggulan dari Google Authenticator adalah mampu memberikan jaminan keamanan data pribadi atau sebagai tambahan untuk proteksi data pribadi.

Sementara untuk kelemahannya yakni jika Google Authenticator mengalami reset atau hilang.

"Kelemahannya kalau hilang atau reset, bakal repot, karena fungsinya sama dengan PIN bank atau token," ucap Yerry.

Baca juga: Analisis BMKG Terkait Gempa Sukabumi dan Daerah yang Ikut Merasakan

Tips menyimpan kode QR

Yerry mengatakan, seseorang bisa juga menggunakan dua ponsel untuk melakukan penyimpanan kode QR.

Langkah pertama yakni foto kode QR yang tertera pada ponsel pertama saat proses ingin back up data.

Langkah kedua, bisa dengan melakukan back up gambar-gambar kode (yang sebelumnya telah tersimpan di ponsel) yang di-generate ketika proses eksport data.

"Difoto aja, karena biasanya Google Authenticator tidak bisa di-screen capture," ujar Yerry.

Menurutnya, ketika sudah selesai melakukan back up data, maka semua data sudah aman.

"Misal ketika ponsel hilang, kalau sudah di-back up aman, hanya butuh di-erase dari jauh lewat Google Found and Lost Apps, jadi semuanya aman," ujar Yerry.

Selain itu, seseorang yang kehilangan ponsel juga dapat mendatangi gerai nomor telepon atau provider untuk mematikan nomor tersebut agar tidak disalahgunakan.

Baca juga: Mengenal Google Authenticator, Aplikasi untuk Menjaga Data pada Ponsel

Jika ponsel hilang, bagaimana dengan nasib m-banking?

Di sisi lain, masyarakat tentu mencemaskan data yang berada di ponsel yang hilang, apalagi jika orang tersebut kerap melakukan transaksi melalui mobile banking atau m-banking.

Jika ponsel hilang, Yerry menjelaskan, m-banking terhubung dengan SMS dan email pemilik ponsel.

Menurutnya, apabila ponsel hilang, korban harus cepat menghubungi pihak bank untuk memblokir nomor ponselnya.

Sebab, jika seseorang mengakses m-banking, maka ia akan mendapatkan kode melalui nomor ponsel yang bersangkutan.

Kendati demikian, dengan memblokir nomor telepon, maka pencuri tidak bisa mengakses m-banking miliknya.

Baca juga: Zakat Fitrah: Besaran, Kriteria Penerima, dan Cara Bayar via Online


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X