Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Israel Diduga Gunakan WhatsApp untuk Targetkan Serangan ke Palestina

Kompas.com - 25/04/2024, 09:00 WIB
Alinda Hardiantoro,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Israel diduga menggunakan aplikasi perpesanan instan WhatsApp untuk menargetkan serangan kepada warga Gaza, Palestina.

Aplikasi tersebut membantu sistem kecerdasan buatan (AI) Israel yang dikenal sebagai Lavender untuk menargetkan sasarannya.

Laporan majalah Israel-Palestina, +972 Magazine, dan outlet berbahasa Ibrani Local Call menerbitkan laporan yang ditulis oleh Yuval Abraham yang mengekspos penggunaan sistem AI oleh militer Israel yang mengidentifikasi target-target Israel di Gaza, Palestina, seperti dilansir dari Arab News.

Insinyur perangkat lunak sekaligus pendiri Tech for Palestine Paul Biggar menyoroti ketergantungan Lavender pada WhatsApp.

Dia menunjukkan bagaimana keanggotaan dalam grup WhatsApp yang berisi tersangka militan dapat memengaruhi proses identifikasi Lavender.

Selain itu, Biggar juga menyatakan bahwa platform WhatsApp telah mendukung sistem penargetan AI milik Israel, Lavender.

“Detail yang sedikit dibahas dalam artikel Lavender AI adalah bahwa Israel membunuh orang berdasarkan keanggotaan mereka di grup WhatsApp yang sama dengan tersangka militan,” tulis Biggar, dikutip dari Arab News.

Biggar juga meragukan bahwa platform tersebut berbasis privasi dan menjamin enkripsi end-to-end untuk orang-orang Palestina.

Baca juga: Rekam Jejak Netzah Yehuda, Militer Israel yang Melakukan Kekerasan ke Warga Palestina

Kerap menargetkan warga sipil

Sumber-sumber militer dan intelijen Israel mengakui bahwa mereka menyerang target ketika korban berada di rumah bersama seluruh keluarganya, seperti dikutip dari Middle East Monitor.

Sebuah laporan yang dilakukan The Guardian menyoroti bahwa Israel menggunakan sistem Lavender untuk mengidentifikasi targetnya di Gaza.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa para pejabat militer Israel menyasar warga sipil Palestina selama perang.

Sumber-sumber intelijen yang terlibat dalam perang mengatakan bahwa Israel menggunakan basis data bertenaga AI untuk mengidentifikasi 37.000 target potensial yang memiliki hubungan dengan Hamas.

“Kami biasanya melakukan serangan dengan bom acak dan itu berarti secara harfiah menjatuhkan seluruh rumah pada penghuninya," ungkap salah satu intelijen Israel.

Sumber tersebut mengakui bahwa pasukan Israel memilih untuk mengebom seluruh rumah dari sebuah keluarga berdasarkan data yang diperoleh.

Menurut mereka, mengebom rumah dari sebuah keluarga dianggap jauh lebih mudah.

Baca juga: WhatsApp Berencana Memperketat Fitur Chat Lock, Percakapan Penting Semakin Terlindungi

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com