Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harapan Menag, Candi Borobudur, dan Rumah Ibadah Buddha Dunia...

Kompas.com - 31/01/2021, 17:30 WIB
Nur Rohmi Aida,
Sari Hardiyanto

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Candi Borobudur diharapkan tak hanya sekedar menjadi destinasi wisata, melainkan juga menjadi rumah ibadah bagi umat Buddha di dunia.

Harapan tersebut disampaikan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat berdiskusi dengan Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kementerian Agama, Caliadi di Rumah Dinas Menag, Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Kamis (28/1/2021).

"Kita berharap segenap ormas keagamaan dan majelis Buddha bersatu padu dalam mewujudkan Borobudur sebagai sentral rumah ibadah umat Buddha dunia. Misalnya dalam perayaan Waisak dan perayaan keagamaan lainnya," ujar Menag sebagaimana dikutip dari laman resmi Kemenag.

Baca juga: Tiba-tiba Padam, Bisakah Api Abadi Mrapen Menyala Kembali?

Yaqut mengatakan, perwujudan Candi Borobudur sebagai rumah ibadah umat Buddha di dunia, imbuhnya dapat diwujudkan apabila umat Buddha di Indonesia bersatu.

Pihaknya pun siap untuk memfasilitas hal tersebut

Selain harapan soal Candi Borobudur sebagai rumah ibadah umat Buddha di dunia, dalam pertemuan tersebut juga dibahas mengenai program penguatan persaudaraan umat Buddha.

Baca juga: Soal Pelaksanaan Ibadah Haji 2021, Ini Penjelasan Kementerian Agama...

Peran aktif

Sejumlah Biksu dan Umat Buddha menyalakan lilin pelimpahan jasa dalam perayaan Waisak di Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (18/5/2019). Prosesi penyalaan lilin pelimpahan jasa itu merupakan sarana mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia serta mendoakan umat manusia dibumi dalam rangkaian perayaan Waisak 2563 BE/2019.ANTARA FOTO/ALOYSIUS JAROT NUGROHO Sejumlah Biksu dan Umat Buddha menyalakan lilin pelimpahan jasa dalam perayaan Waisak di Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (18/5/2019). Prosesi penyalaan lilin pelimpahan jasa itu merupakan sarana mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia serta mendoakan umat manusia dibumi dalam rangkaian perayaan Waisak 2563 BE/2019.

Saat itu, Menag meminta Ditjen Bimas Buddha untuk berperan aktif dalam mengayomi dan menjadi penyejuk bagi ormas keagamaan dan berbagai majelis Buddha di Indonesia.

Sementara itu, Caliadi menyampaikan pihaknya berkomitmen untuk mengumpulkan seluruh ormas keagamaan dan majelis Buddha dalam satu forum untuk menyatukan suara umat Buddha Indonesia.

"Terima kasih atas arahan dan dukungan Bapak Menteri kepada umat Buddha. Dan kami di Ditjen Bimas Buddha akan selalu memberikan pelayanan terbaik kepada umat Buddha di Indonesia," kata Caliadi.

Baca juga: Ini Susunan Lengkap Dewan Pimpinan Harian MUI Periode 2020-2025

Untuk diketahui, Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Menurut prasasti Karangtengah, Candi Borobudur dibangun pada 824 Masehi oleh Raja Samaratungga ketika masa Wangsa Syailendra.

Pembangunan Candi Borobudur selesai pada 847 Masehi oleh Ratu Prabudawardhani, putri Samaratungga.

Baca juga: Ramai soal Candi Borobudur Ditutup Terpal Antisipasi Erupsi Merapi, Pengunjung Masih Boleh Masuk?

Melansir Kompas.com 24 April 2020, Candi Borobudur dibangun untuk memuliakan agama Budha Mahayana.

Candi Borobudur memiliki luas 123 x 123 meter persegi.

Adapun di candi ini memiliki 504 patung Buddha, 72 stupa terawang serta 1 stupa induk.

Baca juga: Viral, Unggahan Lomba 17-an di Magelang dengan Menatap Foto Mantan Terlama

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

5 Kasus Pembunuhan Mutilasi yang Jadi Sorotan Dunia

5 Kasus Pembunuhan Mutilasi yang Jadi Sorotan Dunia

Tren
Daftar Terbaru Kereta Ekonomi New Generation dan Stainless Steel New Generation, Terbaru KA Lodaya

Daftar Terbaru Kereta Ekonomi New Generation dan Stainless Steel New Generation, Terbaru KA Lodaya

Tren
Daftar Sekolah Kedinasan yang Buka Pendaftaran pada Mei 2024, Lulus Bisa Jadi PNS

Daftar Sekolah Kedinasan yang Buka Pendaftaran pada Mei 2024, Lulus Bisa Jadi PNS

Tren
Sering Dikira Sama, Apa Perbedaan Psikolog dan Psikiater?

Sering Dikira Sama, Apa Perbedaan Psikolog dan Psikiater?

Tren
Benarkah Kucing Lebih Menyukai Manusia yang Tidak Menyukai Mereka?

Benarkah Kucing Lebih Menyukai Manusia yang Tidak Menyukai Mereka?

Tren
Banjir di Sulawesi Selatan, 14 Orang Meninggal dan Ribuan Korban Mengungsi

Banjir di Sulawesi Selatan, 14 Orang Meninggal dan Ribuan Korban Mengungsi

Tren
Buah-buahan yang Aman Dikonsumsi Anjing Peliharaan, Apa Saja?

Buah-buahan yang Aman Dikonsumsi Anjing Peliharaan, Apa Saja?

Tren
BPOM Rilis Daftar Suplemen dan Obat Tradisional Mengandung Bahan Berbahaya, Ini Rinciannya

BPOM Rilis Daftar Suplemen dan Obat Tradisional Mengandung Bahan Berbahaya, Ini Rinciannya

Tren
Arkeolog Temukan Vila Kaisar Pertama Romawi, Terkubur di Bawah Abu Vulkanik Vesuvius

Arkeolog Temukan Vila Kaisar Pertama Romawi, Terkubur di Bawah Abu Vulkanik Vesuvius

Tren
Kapan Seseorang Perlu ke Psikiater? Kenali Tanda-tandanya Berikut Ini

Kapan Seseorang Perlu ke Psikiater? Kenali Tanda-tandanya Berikut Ini

Tren
Suhu Panas Melanda Indonesia, 20 Wilayah Ini Masih Berpotensi Diguyur Hujan Sedang-Lebat

Suhu Panas Melanda Indonesia, 20 Wilayah Ini Masih Berpotensi Diguyur Hujan Sedang-Lebat

Tren
Apa Beda KIP Kuliah dengan Beasiswa pada Umumnya?

Apa Beda KIP Kuliah dengan Beasiswa pada Umumnya?

Tren
Kisah Bocah 6 Tahun Meninggal Usai Dipaksa Ayahnya Berlari di Treadmill karena Terlalu Gemuk

Kisah Bocah 6 Tahun Meninggal Usai Dipaksa Ayahnya Berlari di Treadmill karena Terlalu Gemuk

Tren
ASN Bisa Ikut Pelatihan Prakerja untuk Tingkatkan Kemampuan, Ini Caranya

ASN Bisa Ikut Pelatihan Prakerja untuk Tingkatkan Kemampuan, Ini Caranya

Tren
Arkeolog Temukan Kota Hilang Berusia 8.000 Tahun, Terendam di Dasar Selat Inggris

Arkeolog Temukan Kota Hilang Berusia 8.000 Tahun, Terendam di Dasar Selat Inggris

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com