Tiba-tiba Padam, Bisakah Api Abadi Mrapen Menyala Kembali?

Kompas.com - 03/10/2020, 20:15 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (tengah) bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (kanan) dan Asisten Deputi Pembibitan Iptek dan Olahraga Kemenpora Wasinton (kiri) menyalakan api kaldron dalam rangkaian estafet obor api ASEAN School Games (ASG) XI 2019 di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (17/7/2019). Api yang diambil dari Api Abadi Mrapen, Grobogan itu selanjutnya akan digunakan dalam prosesi pembukaan ASG XI 2019 pada Kamis (18/7/2019) besok di Holy Terang Bangsa School, Semarang. ANTARA FOTO/AJI STYAWANGubernur Jateng Ganjar Pranowo (tengah) bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (kanan) dan Asisten Deputi Pembibitan Iptek dan Olahraga Kemenpora Wasinton (kiri) menyalakan api kaldron dalam rangkaian estafet obor api ASEAN School Games (ASG) XI 2019 di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (17/7/2019). Api yang diambil dari Api Abadi Mrapen, Grobogan itu selanjutnya akan digunakan dalam prosesi pembukaan ASG XI 2019 pada Kamis (18/7/2019) besok di Holy Terang Bangsa School, Semarang.

KOMPAS.com – Api Abadi Mrapen yang belokasi di di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah saat ini padam total.

Api dikabarkan padam sejak 25 September 2020 lalu.

Belum diketahui pasti mengenai penyebab padamnya api tersebut.

Baca juga: Padam, Berikut 5 Fakta tentang Api Abadi Mrapen

Mengutip Kompas.com (3/10/2020) ini adalah kali pertama api abadi Mrapen padam.

Sebelumnya, pada 1996, api abadi Mrapen sempat redup akibat debit gas berkurang, akan tetapi setelah dilakukan pengeboran semburan gas kembali stabil.

Lantas, bisakah api abadi Mrapen tersebut menyala kembali?

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dr Ir Eko Budi Lelono menjelaskan, sejauh ini pihaknya belum melakukan survei langsung guna mengetahui kondisi terkini dari api abadi Mrapen.

Namun, dari informasi yang didapatkannya, kemungkinan besar penyebab tidak menyalanya api abadi Mrapen karena adanya lumpur yang menyumbat sistem percelah-retakan di mana menjadi saluran gas metan.

“Kami perkirakan kemungkinan besar sistem percelah-retakan yang menjadi saluran gas metan terisi oleh lempung atau lumpur yang dibawa oleh surface run-off (air permukaan) sehingga tersumbat,” ujar Eko dihubungi Kompas.com Sabtu (3/10/2020).

Baca juga: Mengenal Badai Kammuri yang Sempat Ganggu Jadwal SEA Games Filipina

Gas metana

Juru kunci Api Abadi Mrapen, Ali Mudzakir (kanan) disaksikan Bupati Grobogan Sri Sumarni (kiri) mengambil api untuk ASEAN School Games (ASG) 2019 di Desa Manggarmas, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (17/7/2019). Api tersebut kemudian dibawa ke Semarang untuk prosesi pembukaan ASG) 2019 yang diikuti 10 negara di Asia Tenggara dengan mempertandingkan sembilan cabor yang berlangsung 17-25 Juli 2019.ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO Juru kunci Api Abadi Mrapen, Ali Mudzakir (kanan) disaksikan Bupati Grobogan Sri Sumarni (kiri) mengambil api untuk ASEAN School Games (ASG) 2019 di Desa Manggarmas, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (17/7/2019). Api tersebut kemudian dibawa ke Semarang untuk prosesi pembukaan ASG) 2019 yang diikuti 10 negara di Asia Tenggara dengan mempertandingkan sembilan cabor yang berlangsung 17-25 Juli 2019.

Meski demikian, pihaknya mengatakan masih ada kemungkinan bagi api abadi Mrapen dapat menyala kembali.

“Kemungkinan besar api akan menyala lagi jika retakannya terbuka kembali, karena akumulasi gas di bawah permukaan masih cukup besar,” tutur dia.

Lebih lanjut pihaknya menjelaskan sumber api abadi Mrapen adalah gas hidrokarbon (metana).

Umumnya, gas akan mencari jalan untuk naik ke permukaan melalui adanya rekahan-rekahan bebatuan.

Ia menyampaikan, jika tidak ada rekahan yang bisa dilalui, maka gas akan tersimpan di dalam bumi.

Baca juga: Ramai soal Semburan Gas Campur Lumpur di Blora Disebut Mud Volcano, Apa Itu?


Sementara itu, melansir dari Harian Kompas , 2 Oktober 2020, Kepala Seksi energi Cabang Dinas ESDM Provinsi Jateng Wilayah Kendeng Selatan Sinung Sugeng Arianto menyampaikan sekitar 150-200 meter dari api abadi Mrapen terjadi semburan gas bercampur air sejak beberapa waktu lalu.

Hingga Jumat (2/10/2020) siang, gas masih muncul.

Gas sendiri muncul dari aktivitas warga mengebor tanah untuk mencari air.

Baca juga: 7 Semburan Lumpur yang Pernah Ada di Indonesia

Halaman Selanjutnya
Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X