Luhut, Kepercayaan Presiden Jokowi dan Ujian 30 September 2020

Kompas.com - 21/09/2020, 11:48 WIB
Umat Hindu beribadah saat merayakan hari raya Galungan di Pura Amerta Jati, Jakarta Selatan, Rabu (16/9/2020). Persembayangan Hari Raya Galungan dilakukan di tengah pandemi COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan menggunakan masker dan menjaga jarak. ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHAUmat Hindu beribadah saat merayakan hari raya Galungan di Pura Amerta Jati, Jakarta Selatan, Rabu (16/9/2020). Persembayangan Hari Raya Galungan dilakukan di tengah pandemi COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan menggunakan masker dan menjaga jarak.

KOMPAS.com - Hai, apa kabarmu sepekan lalu? Semoga kabar baik dalam rupa sehat pikiran, jiwa, dan raga selalu menyertaimu.

Dalam situasi penyebaran Covid-19 makin meluas yang tercermin dari terus meningkatnya jumlah kasus positif, mendapati kesehatan kita terawat adalah kondisi yang patut kita syukuri.

Untuk banyak orang, mungkin juga kamu, ini adalah jawaban atas doa-doa. Doa dipanjatkan karena kita sadar, banyak hal terjadi di luar kendali kita, di luar upaya kita semata-mata.

Tentu, kita juga berdoa untuk saudara-saudara kita yang saat ini tengah dalam perawatan untuk sembuh dari virus ini. Lingkaran yang terkonfirmasi posifif Covid-19 makin dekat.

Ada pejabat publik yang populer karena sering tampil di media, ada teman kantor yang biasa bekerja bersama kita, ada tetangga, atau bahkan keluarga dekat kita sendiri.

Jumlah pasien aktif, atau mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan masih dirawat karena belum sembuh per 20 September 2020 adalah 57.796 pasien.

Jumlah akumulasi kasus Covid-19 di Indonesia sendiri sejak kasus pertama diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020 hingga Kamis ini, yakni berjumlah 244.676.

Angka itu tercatat setelah ada penambahan kasus positif sebanyak 3.989 dalam 24 jam terakhir pada 20 September 2020.

Kita doakan juga semua tenaga kesehatan sebagai benteng terakhir pertahanan kita melawan Covid-19.

Selain berdoa, kita bisa berkontribusi dengan memperkuat benteng terdepan pertahanan kita dari virus ini dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terlihat sepele, tetapi ini pertahanan paling kuat agar tidak terpapar virus ini.

Kontribusi kita akan membantu para tenaga kesehatan di benteng terkahir pertahanan kita melawan Covid-19. 

Batin Menjerit dan Terguncang

Syafii MaarifKOMPAS/YUNIADHI AGUNG Syafii Maarif
Untuk tenaga kesehatan yang telah berguguran karena berjuang di benteng terakhir ini,  mantan Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengirimkan pesan khusus kepada Presiden Joko Widodo.

Dalam pesan tersebut, Syafii mengaku menjerit dan terguncang batinnya mendapati berita kematian para dokter.

Saat pesan Syafii dikirim ke Presiden, Minggu, 13 September 2020, 115 dokter gugur. Catatan kematian tertinggi di Asia. Di Indonesia, rasio dokter dengan warga adalah yang terendah di Asia Tenggara. Dari 10.000 warga, rata-rata hanya dilayani empat dokter. 

Jeritan Syafii tentu saja mewakili jeritan keluarga dokter, tenaga kesehatan, pasien dan warga kebanyakan yang kehilangan potensi ditolong tenaga kesehatan saat ancaman penyebaran Covid-19 terus meluas.

Syafii tidak melihat upaya maksimal Kementerian Kesehatan untuk menolong nyawa para dokter secara maskimal.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X