Air Diplomacy: Embargo Suku Cadang oleh AS

Kompas.com - 26/08/2020, 14:20 WIB
Ilustrasi KOMPAS/DIDIE SWIlustrasi

Tahun 2002, saya menerima undangan untuk mengikuti Pacific Rim Air Chief Conference (PRACC) di Amerika Serikat.

Oleh karena baru saja terjadi peristiwa 911 di tahun 2001, maka pihak penyelenggara sangat paham bahwa tidak akan banyak peserta yang antusias untuk datang ke Amerika Serikat. Hal itu berkenaan dengan sistem prosedur baru dalam pemerikasaan keamanan (additional security check procedures) di airport Amerika Serikat yang super ketat sekaligus menjengkelkan serta memakan waktu yang lama.

Untuk itu kemudian disiasati oleh penyelenggara agar para peserta datang ke Hawai saja dulu dan kemudian dari Hawai menuju Washington DC dijemput oleh pesawat terbang angkut strategis milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) Boeing C-17 Globe Master III.

Undangan diterima lebih kurang 3 minggu sebelum tanggal pelaksanaan. Acara ini adalah untuk pertamakalinya bagi saya, karena baru beberapa bulan menjabat sebagai Air Chief.

Saya pelajari rundown acara yang sangat singkat dan padat itu, yang ternyata adalah sebuah perhelatan rutin diselenggarakan setiap 2 tahun sekali.

Dari daftar acara yang demikian bergengsi dan padat itu ternyata Angkatan Udara (AU) Indonesia tidak memperoleh kesempatan apapun dalam seluruh rangkaian acara.

Beberapa AU negara tertentu misalnya memperoleh kesempatan memaparkan tentang salah satu kesatuannya yang unik atau menonjol. Beberapa lainnya memperoleh giliran untuk memimpin ziarah misalnya dan lain-lain.

Menghadapi kenyataan ini, sebenarnya saya sudah memahami. Selain memang diberikan secara bergilir, posisi Indonesia sendiri saat itu sedang dilanda isu pelanggaran HAM yang antara lain mengakibatkan diembargonya suku cadang pesawat terbang AU kita oleh Amerika Serikat.

Dengan berbagai pertimbangan, saya tetap memutuskan untuk menerima undangan dan turut serta dalam rangkaian acara PRACC tersebut. Saya segera mengatur strategi untuk dapat turut serta tetapi tidak sebagai “zombie“ alias “peserta pelengkap” semata.

Saya segera membuat rekaman lagu-lagu tahun 1960-an dan juga lagu-lagu instrumental saxophone. Saya siapkan 2 CD untuk souvenir dengan membuat rekaman mengajak beberapa musisi beken seperti Jopie Item, Johnny Swadie dan teman-teman.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X