Saat Lockdown dan Pengujian Disebut Tak Efektif Tekan Angka Kematian akibat Covid-19...

Kompas.com - 24/07/2020, 20:03 WIB
Sepatu putih dipajang dalam aksi yang dilakukan Perawat Teregistrasi dan Uni Perawat Nasional (NNU) untuk mengenang rekan mereka yang gugur karena Covid-19 di Gedung Capitol, Washington DC, Amerika Serikat (AS) pada 21 Juli 2020. REUTERS/TOM BRENNERSepatu putih dipajang dalam aksi yang dilakukan Perawat Teregistrasi dan Uni Perawat Nasional (NNU) untuk mengenang rekan mereka yang gugur karena Covid-19 di Gedung Capitol, Washington DC, Amerika Serikat (AS) pada 21 Juli 2020.

KOMPAS.com - Sebuah hasil penelitian yang dirlis oleh jurnal medis Inggris, Lancet, menemukan bahwa lockdown dan pengujian secara luas tidak efektif menekan angka kematian akibat Covid-19 di Amerika Serikat.

Mengutip Fox News, Kamis (23/7/2020), empat ilmuwan di Kanada, Yunani, dan lembaga AS di Texas menggunakan data dari 50 negara negara bagian AS untuk menilai efektivitas kebijakan lockdown.

Penelitian ini muncul setelah sejumlah gubernur negara bagian AS memutuskan untuk tetap menutup pusat bisnis dan sekolah selama pandemi.

"Tindakan pemerintah seperti penutupan perbatasan, lockdown, dan tes Covid-19 yang luas tidak memberikan pengurangan yang signifikan dalam jumlah kasus kritis atau kematian secara keseluruhan," kata perwakilan peneliti.

Baca juga: Pakar WHO: Jangan Berharap Vaksinasi Covid-19 Dapat Dilakukan Awal 2021

Mengutip Washington Times, Kamis (23/7/2020), hasil penelitian ini kemungkinan akan mendorong pemerintah untuk kembali memberlakukan kebijakan penanganan Covid-19 yang lebih bebas layaknya di Eropa.

Di Swedia misalnya, pemerintah di sana tidak menerapkan program lockdown atau penutupan wilayah, bahkan tidak melakukan uji Covid-19 secara luas.

Setelah sampai pada fase tertinggi pada musim semi lalu, kini jumlah kematian harian di Swedia berangsur menurun. Pada pertengahan Juli ini jumlahnya hanya menyentuh angka satu digit.

"Meskipun upaya lockdown dan yang lainnya di negara seperti China, Korea Selatan, dan Taiwan telah mengurangi lebih dari 90 persen kasus baru, tapi hal ini gagal diterapkan di negara seperti Italia, Spanyol, dan Amerika Serikat," ungkap Lancet.

Baca juga: Bukan China, India Jadi Episentrum Baru Virus Corona di Asia

Halaman:
Baca tentang

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X