BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Sinar Mas Land

Baru Mulai Bekerja? Simak 3 Tips Menabung untuk Pekerja Pemula

Kompas.com - 28/04/2020, 14:39 WIB
Ilustrasi menabung untuk pendidikan anak Dok: duwitmuIlustrasi menabung untuk pendidikan anak

KOMPAS.com -  Menabung adalah hal yang penting untuk dilakukan. Tabungan yang dihasilkan oleh seseorang dapat menunjukkan kemampuan dalam mengatur keuangan pribadi. 

Seringkali para pekerja muda masih mengalami masalah dalam mengatur keuangan yang baik dan benar, termasuk untuk menyisihkan pendapatannya sebagai tabungan.

Anda mungkin sering memiliki keinginan untuk menyisihkan uang sebagai tabungan masa depan atau dana darurat, tetapi semua penghasilan justru habis untuk keperluan konsumsi.

Ada pula kasus di mana seseorang berhasil menghemat suatu jenis kebutuhan, tetapi menggunakannya untuk keperluan di pos lain.

Banyak orang yang terjebak dalam situasi ini karena tidak memahami dasar cara menabung yang benar. 

Baca juga: Manfaat Menabung, Persiapkan Dana Darurat hingga Biaya Pendidikan Anak

Tips menabung bagi pekerja muda

Pada pekerja muda, seringkali terjadi kasus peningkatan peghasilan yang tidak disertai dengan peningkatan jumlah tabungan. 

Perencana Keuangan Prita Hapsari Ghozie menyebut ada tiga hal yang perlu diperhatikan bagi para pekerja muda yang ingin menabung.

"Ada tiga hal yang harus diperhatikan sebagai tips menabung bagi para pekerja muda" tutur Prita saat dihubungi Kompas.com, Minggu (26/4/2020).

Baca juga: Manfaat Menabung, Ternyata Berpengaruh pada Kesehatan Mental

Pertama, tabungan harus dialokasikan dalam bentuk bujet cashflow bulanan.

Kedua, tetapkan jumlah menabung setiap bulannya.

"Misalnya, minimal 10 persen dari penghasilan" terang Prita.

Ketiga, membuat sistem debit otomatis dari rekening gaji ke rekening tabungan terpisah. 

Baca juga: Munculnya Virus Corona Membuat Kita Lebih Rajin Menabung, Apa Iya?

Alokasi gaji

Adapun besar tabungan maupun pos pengeluaran lain sebenarnya dapat disesuaikan dengan gaji.

Pertama, jika penghasilan setara dengan UMP atau berada di bawahnya, pembagiannya adalah 75 persen gaji untuk berbagai pengeluaran penting dan 25 persen dapat digunakan bergantian sebagai dana darurat dan tabungan.

Kemudian, apabila penghasilan sudah berada di atas UMP hingga double digit, alokasi untuk biaya hidup adalah 50 persen.

Sedangkan untuk tabungan adalah 30 persen. Sisanya, yaitu 20 persen dapat dipergunakan untuk dana hiburan.

Baca juga: Mengenal Kakebo, Budaya Menabung Orang Jepang agar Jadi Kaya

Terakhir, jika penghasilan sudah sangat berlebih, misalnya di atas Rp 30 juta per bulan, persentase alokasi pun menjadi berbeda.

5 persen gaji dapat dialokasikan untuk zakat, sedekah, dan sosial, sementara 10 persen untuk dana darurat dan asuransi, 70 persen untuk biaya hidup rutin, cicilan, dan gaya hidup.

Adapun cicilan dapat dilakukan dengan maksimal 30 persen dari pendapatan yang dihasilkan tiap bulannya.

Kemudian, 5 persen dapat digunakan untuk menabung pembelian besar. Sementara, 10 persen dialokasikan untuk investasi masa depan.

Baca juga: Ikut Tantangan Menabung di Medsos demi Punya Rumah, Kenapa Tidak?

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar