Pengamanan Pelantikan Jokowi-Ma'ruf Amin Dinilai Berlebihan

Kompas.com - 20/10/2019, 15:43 WIB
Sehari jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joko Widodo-Maruf Amin, lingkungan di sekitar Gedung DPR/MPR dijaga ketat oleh aparat kepolisian dan TNI. KOMPAS.com/DYLAN APRIALDO RACHMANSehari jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joko Widodo-Maruf Amin, lingkungan di sekitar Gedung DPR/MPR dijaga ketat oleh aparat kepolisian dan TNI.

KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengkritik pengamanan yang dilakukan saat pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2019-2024.

Menurut Usman, pengamanan yang dilakukan kali ini, berbeda dengan pengamanan saat pelantikan pada 2014 lalu.

"Pengamanan pelantikan presiden dan wakil presiden saat ini berlebihan, pada 2014 Jokowi diarak rakyat dan tidak ada jarak antara pemimpin dan masyarakat," ujar Usman saat dihubungi Kompas.com, Minggu (20/10/2019).

Padahal menurut Usman, pengamanan berlebihan itu berlangsung di tengah tingginya partisipasi masyarakat di dalam urusan publik, khususnya di dalam kehidupan politik pemerintahan.

"Mengawal jalannya pemerintahan agar tidak menyimpang melalui demonstrasi-demonstrasi yang dalam dalih pengamanan pelantikan presiden, hal itu (demonstrasi) dihentikan," kata Usman.

"Dan kita tahu, di berbagai sudut kota Jakarta, disebarluaskan spanduk yang seolah-olah setiap kali ada demonstrasi itu pasti tujuannya untuk menggagalkan pelantikan presiden dan wapres," sambung Usman.

Padahal, tuntutan yang berkembang dalam demonstrasi mahasiswa dan pelajar itu tidak ada hubungannya dengan keinginan untuk menggagalkan pelantikan.

"Mereka menuntut presiden, iya, dengan meminta presiden untuk mengembalikan undang-undang KPK, karena undang-undang revisinya secara substansi bermasalah, dan berpotensi melemahkan KPK," terang Usman.

Baca juga: 5 Visi Jokowi untuk Indonesia...

Unjuk kekuasaan

Kemudian, pengamanan ini juga lebih memperlihatkan suatu unjuk kekuatan dari kekuasaan negara dengan mobilisasi berbagai alat-alat utama sistem persenjataan kita, termasuk panser-panser.

Hal tersebut menurut Usman, alih-alih menghasilkan satu perasaan nyaman dan aman. Justru orang didorong untuk berpikir bahwa ini ada sesuatu yang besar, yang justru merasa tidak aman dan nyaman.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X