Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Siswa SMAN di Konawe Terpilih Jadi Paskibraka tapi Tiba-tiba Diganti Orang Lain, Ini Penjelasan Kesbangpol

KOMPAS.com - Sosok Doni Amansa, siswa SMAN 1 Unaaha Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) baru-baru ini diperbincangkan warganet.

Sebab, tersiar kabar bahwa Doni yang sudah terpilih calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional di Istana Merdeka, Jakarta pada 17 Agustus 2023 diganti oleh orang lain.

Ia mengaku sudah mengikuti pembekalan selama tiga hari dan akan berangkat ke Cibubur pada 15 Juli 2023. Namun, ia tidak jadi berangkat.

Buntut kasus tersebut, Doni merasa kecewa setelah tidak jadi diberangkatkan ke Jakarta untuk bertugas sebagai Paskibraka di Istana Negara.

Melalui kuasa hukumnya, Andre Darmawan, Doni juga melaporkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sultra ke Polda Sultra.

Awal mula Doni Amansa terpilih sebagai Paskibraka

Andre menjelaskan awal mula Doni yang sudah terpilih sebagai Paskibraka batal diberangkatkan ke Jakarta.

Hal itu bermula ketika Doni mengikuti seleksi Paskibraka Nasional wilayah Sultra pada 15-18 Mei 2023.

Seleksi tersebut, kata Doni, digelar oleh panitia dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Setelah seleksi selesai digelar, muncul empat nama yang rencananya dikirim ke Jakarta yang terdiri dari dua siswa sebagai pasukan inti dan dua siswa sebagai pasukan cadangan.

"Di akhir seleksi sudah diumumkan peringkat satu sampai empat. Untuk peringkat pertama Nadhira, kedua Doni, ketiga Wira, dan keempat Aini," ujar Andre, dikutip dari Tribunnews.

Dari peringkat tersebut, urutan nomor satu dan dua menjadi pasukan inti sementara urutan tiga dan empat menjadi pasukan cadangan.

Sudah diwawancarai sebagai calon Paskibraka perwakilan Sultra

Lebih lanjut, Andre juga mengatakan, kliennya juga sudah diwawancarai RRI sebagai calon Paksibraka yang mewakili Sultra setelah panitia memberi pengumuman.

Ia menambahkan, pengumuman tersebut disaksikan oleh banyak peserta dan panitia lain.

"Setelah diumumkan Doni dan Wira dibawa ke RRI untuk diwawancarai bahwa mereka inilah yang mewakili Sultra jadi Paskibraka Nasional," imbuhnya.

"Hasil tulisan panitia dari BPIP atau panitia pusat dan memang ada panitia pusat yang memantau," sambung Andre.

Sudah masuk grup WhatsApp calon Paskibraka

Andre membeberkan, kliennya sudah dimasukkan grup WhatsApp Capanas 2023 oleh panitia bernama Ayu.

Grup tersebut berisi tiga orang, yakni Ayu, Doni, dan Nadhira, untuk komunikasi keberangkatan dua siswa itu ke Jakarta.

Namun, Doni dan Nadhira dipanggil kembali untuk mengikuti pembekalan pada 6 dan 9 Juni 2023.

Doni dan Nadhira kemudian mendapat informasi bahwa mereka belum pasti dikirim ke Jakarta karena masih ada satu tahap seleksi.

"Klien saya mengatakan, karena kita mau seleksi lagi di tanggal 6 dan 9 masih ada tes peraturan baris berbaris, tes speaking mengenai Sulawesi Tenggara," jelas Andre.

"Kemudian setelah hasil seleksi ini mereka akan melakukan pembekalan, tapi pembekalan ini dengan seleksi," sambungnya.

Batal berangkat ke Jakarta

Andre mengatakan, setelah Doni mengikuti pembekalan, kliennya justru dikeluarkan dari grup WhatsApp tanpa diberi penjelasan oleh panitia.

Doni kemudian menunggu kepastian kapan dirinya diberangkatkan ke Jakarta, namun namanya justru diganti oleh Wiradanata Setya Persada.

Wiradanata yang berasal SMAN 1 Baubau diketahui berangkat ke Jakarta bersama Nadhira.

Penjelasan Kesbangpol

Kesbangpol Sultra yang terlibat dalam seleksi Paskibraka buka suara usai Doni dikabarkan batal berangkat ke Jakarta.

Kepala Kesbangpol Sultra Harmin Ramba mengonfirmasi bahwa ada empat siswa yang ikut pembekalan Paskibraka.

Dari keempat nama yang masuk, Doni merupakan salah satu peserta pembekalan.

Meski begitu, Harmin mengaku pada saat itu Gubernur Sultra belum mengumumkan siapa perwakilan Paskibraka yang akan diberangkatkan ke Jakarta.

"Itu adalah pembekalan. Kenapa kita panggil empat? Kan kita belum tahu siapa mau dikirim. Seandainya kita sudah tahu yang mau dikirim ya kita ambil dua," katanya, dikutip dari Tribunnews.

Keputusan tidak curang

Harmin mengatakan, empat nama yang diberangkatkan ke Jakarta punya nilai masing-masing merujuk hasil seleksi dari 80 peserta ke 52 peserta yang digelar beberapa waktu lalu.

Nilai yang diperoleh peserta menjadi acuan dalam penetapan nama calon anggota Paskibraka yang akan dibuatkan SK Gubernur Sultra.

Namun, dalam SK Gubernur Sultra Nomor 371 Tahun 2023 tentang Penetapan Calon Paskibraka Utusan Sultra, nama Doni tidak ada.

SK tersebut hanya memuat Nadira dan Wiradanata yang kebetulan keduanya berasal dari Kota Baubau sebagai calon Paskibraka mewakili Sultra.

Ia menegaskan, keputusan yang dikeluarkan tidak mengandung kecurangan terkait penentuan nama yang akan diberangkatkan.

Kepala Kesbangpol Sultra dilaporkan ke polisi

Terkait batalnya Doni berangkat ke Jakarta, Andre mengatakan pihaknya melaporkan Harmin ke Polda Sultra atas dugaan tidak pidana memyiarkan berita bohong yang menimbulkan keonaran.

Laporan itu terkait dengan pernyataan Harmin di beberapa media, baik itu YouTube atau di media online, yang dinilai tidak benar dan tidak sesuai dengan fakta sehingga menimbulkan polemik.

Kompas.com sudah berusaha menghubungi Kepala BPIP Yudian Wahyudi, Polda Sultra, dan Kesbangpol Sultra soal kasus Doni, namun tidak mendapat respons.

https://www.kompas.com/tren/read/2023/07/20/160000965/siswa-sman-di-konawe-terpilih-jadi-paskibraka-tapi-tiba-tiba-diganti-orang

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke