Salin Artikel

Mengenal Exoplanet dan Kemungkinan Adanya Bumi Lain

KOMPAS.com - Manusia hidup di planet bernama Bumi yang mengelilingi Matahari dalam galaksi yang disebut Bima Sakti.

Saat manusia mulai berpikir tentang apakah ada planet seperti Bumi di tata surya yang lain, berbagai penelitian dan misi perjalanan luar angkasa dijalankan.

Salah satunya mencari kemungkinan adanya planet di luar tata surya atau galaksi Bima Sakti yang mirip dengan Bumi dan dapat dihuni makhluk hidup. 

Apa itu Exoplanet

Dikutip dari spaceplace.nasa, planet yang mengorbit di sekitar bintang lain (Matahari) disebut Exoplanet atau planet ekstrasurya. Atau dengan kata lain Exoplanet adalah planet yang berada di luar tata surya.

Sebagian besar planet mengorbit bintang lain, tetapi Exoplanet yang mengambang bebas, mengorbit pusat galaksi dan tidak terikat pada bintang mana pun.

Exoplanet sangat sulit dilihat langsung dengan teleskop. Mereka tersembunyi oleh cahaya terang dari bintang-bintang yang mereka orbit.

Bagaimana cara mencari Exoplanet?

Para astronom mencari Exoplanet dengan melihat efek planet-planet ini terhadap bintang-bintang yang mereka orbit.

Salah satu cara untuk mencari Exoplanet adalah dengan mencari bintang yang "goyah" atau bergoyang.

Planet yang mengorbit menyebabkan bintang mengorbit sedikit di luar pusatnya. Dari kejauhan, ini membuatnya tampak seperti bintang yang bergoyang-goyang.

Ratusan planet telah ditemukan menggunakan metode ini. Namun, hanya planet besar (seukuran Jupiter atau bahkan lebih besar) yang dapat dilihat dengan cara ini.

Planet mirip Bumi yang ukurannya lebih kecil jauh lebih sulit ditemukan karena mereka hanya menciptakan goyangan kecil yang sulit dideteksi.


Unsur dalam Exoplanet 

Melansir laman Exoplanet Exploration NASA, Exoplanet terdiri atas unsur-unsur yang mirip dengan planet-planet di Bima Sakti. Akan tetapi campuran unsur-unsur itu mungkin berbeda.

Beberapa planet didominasi oleh air atau es, sementara yang lain didominasi oleh besi atau karbon.

NASA telah mendeteksi planet lava yang tertutup lautan cair, planet bengkak dengan kepadatan seperti styrofoam, dan inti padat planet yang masih mengorbit bintangnya.

Bagaimana cara menemukan planet mirip Bumi di tata surya lain?

Pencarian Exoplanet

Pada 2009, NASA meluncurkan pesawat luar angkasa bernama Kepler untuk mencari Exoplanet.

Pesawat luar angkasa Kepler mencari planet dalam berbagai ukuran dan orbit. Planet-planet ini mengorbit di sekitar bintang-bintang yang bervariasi dalam ukuran dan suhu.

Beberapa planet yang ditemukan oleh Kepler adalah planet berbatu yang berada pada jarak yang sangat istimewa dari bintangnya. Titik manis ini disebut zona layak huni, di mana kehidupan mungkin terjadi.

Kepler mendeteksi Exoplanet menggunakan sesuatu yang disebut metode transit. Ketika sebuah planet lewat di depan bintangnya, itu disebut transit.

Saat planet transit di depan bintang, ia menghalangi sedikit cahaya bintang. Itu berarti bintang akan terlihat sedikit kurang terang ketika planet lewat di depannya.

Para astronom dapat mengamati bagaimana kecerahan bintang berubah selama transit. Ini dapat membantu mereka mengetahui ukuran planet.

Dengan mempelajari waktu antar transit, para astronom juga dapat mengetahui seberapa jauh planet ini dari bintangnya.

Itu dapat memberi informasi tentang suhu planet. Jika sebuah planet memiliki suhu yang tepat, ia dapat berisi air dalam bentuk cair yang merupakan bahan penting bagi kehidupan.

Apa yang membuat planet layak huni?


4.000 Exoplanet

Mengutip laman NASA, planet layak huni adalah planet yang dapat menopang kehidupan untuk jangka waktu yang signifikan.

Syarat utamanya menurut para peneliti adalah adanya air yang berbentuk cair. Namun planet yang layak huni dihasilkan dari jaringan interaksi yang kompleks antara planet itu sendiri, sistem yang menjadi bagiannya, dan bintang yang diorbitnya.

Melansir Live Science, 9 Oktober 2020, para astronom telah menemukan lebih dari 4.000 Exoplanet.

Sebagian besar dari ini tidak terlalu kondusif untuk kehidupan. Misalnya, planet KELT-9b sangat panas sehingga atmosfernya terus-menerus mencair.

Tetapi ada juga banyak planet di dalam zona layak huni bintangnya, atau jarak "tepat" yang kondusif untuk suhu permukaan yang tidak terlalu panas atau terlalu dingin untuk berevolusi.

Peneliti Schulze-Makuch dan rekan-rekannya meneliti Exoplanet layak huni. Salah satu syarat layak huni menurut mereka adalah planet yang memiliki bintang dengan ukuran dan rentang hidup yang tepat.

Hal itu karena dibutuhkan kehidupan yang kompleks selama 3,5 miliar tahun untuk berevolusi di Bumi dan 4 miliar tahun untuk kehidupan yang lebih maju seperti manusia untuk muncul.

Selain itu planet yang berukuran besar, sehingga lebih banyak ruang untuk daratan dan habitat. Planet yang lebih besar juga akan memiliki gravitasi yang lebih tinggi serta membuat atmosfer lebih tebal.

Hal itu akan bermanfaat bagi organisme yang melakukan perjalanan dengan penerbangan.

Lalu syarat lainnya planet yang lebih hangat daripada Bumi. Hal itu artinya lebih sedikit daerah kutub yang sebagian besar tandus.

Tetapi planet yang lebih hangat itu juga harus lebih basah daripada Bumi sehingga gurun tidak akan mendominasi daratan.

Diharapkan juga planet itu menyerupai Bumi pada awal Karbon, masa sekitar 359 juta tahun yang lalu, ketika sebagian besar daratan dunia memiliki iklim tropis hutan hujan. Hal itu karena pemanasan global tidak baik untuk kehidupan di Bumi.

https://www.kompas.com/tren/read/2022/01/23/070000565/mengenal-exoplanet-dan-kemungkinan-adanya-bumi-lain

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.