Kompas.com - 25/10/2021, 19:00 WIB
Pantun, salah satu jenis-jenis puisi lama Dok. Abdul RahmatPantun, salah satu jenis-jenis puisi lama

Oleh: Abdul Rahmat, Guru SDN 011 Balikpapan Tengah, Balikpapan, Kalimantan Timur

 

KOMPAS.com - Puisi merupakan salah satu bentuk dari karya sastra yang memakai rangkaian kata bermakna dan indah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Dalam pengertian sekarang, puisi biasanya menjadi bentuk ekspresi dan ungkapan hati dari si penulis yang ditulisnya secara bebas, tetapi tetap mengandung ciri yang khas.

Pada umumnya, puisi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu puisi lama dan puisi baru. Berikut penjelasannya:

Puisi lama

Pada puisi lama terdapat ciri-ciri yang harus dipenuhi, di antaranya:

  • Pada setiap bait terkait oleh banyak baris.
  • Dalam tiap baris terkait oleh banyak kata atau suku kata.
  • Terdapat rima atau sajak. Rima dapat diartikan sebagai pengulangan bunyi, baik di dalam baris ataupun di akhir baris puisi yang berdekatan.
  • Mengandung irama atau ritme atau alunan bunyi.

Baca juga: Makna Puisi Sajak Sebatang Lisong Karya W.S Rendra

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Contohnya:

Ke Balikpapan bersama Caca 
Kota indah juga berseri
Ayo galakan budaya membaca
Menuju sekolah cinta literasi 

Pada contoh di atas, terdapat empat baris dalam satu bait. Setiap baris terdiri dari empat kata. Bersajak a-b-a-b. Ritme atau rima akan nampak pada saat kita membacanya.

Jenis-jenis puisi lama

Yang termasuk jenis-jenis puisi lama adalah:

  1. Mantra, yaitu rangkaian kata yang memiliki unsur puisi dari rima dan iramanya, dan biasanya dianggap mengandung kekuatan gaib atau doa.
  2. Nazam, yaitu puisi yang berasal dari Parsi, terdiri dari dua belas baris, ada rima dua-dua atau empat-empat, isinya tentang hamba sahaya istana yang setia dan budiman.
  3. Bidal, adalah peribahasa atau pepatah yang isinya merupakan nasihat, sindiran, peringatan, dan sebagainya.
  4. Gazal ialah puisi dari Persia, biasanya terdiri dari delapan baris, setiap bait berisi perihal asmara atau cinta serta pada tiap baris berakhiran kata yang sama.
  5. Karmina atau pantun kilat, yaitu pantun yang terdiri dari dua baris.
  6. Gurindam, yaitu puisi dua baris yang mengandung petuah atau nasihat.
  7. Syair, adalah salah satu jenis puisi lama yang pada setiap baitnya terdiri dari empat baris atau larik yang berakhiran bunyi yang sama.
  8. Pantun, termasuk bentuk puisi Indonesia/Melayu, pada setiap bait pada umumnya terdapat empat baris yang bersajak a-b-a-b atau a-a-a-a. Setiap baris terdiri atas empat kata, baris pertama dan kedua disebut sampiran, dan baris ketiga dan keempat disebut dengan isi.
  9. Seloka, adalah jenis puisi yang memuat ajaran berupa sindiran dan sebagainya. Biasanya terdiri atas 4 larik yang bersajak a-a-a-a, mengandung sampiran dan isi.
  10. Talibun adalah salah satu bentuk puisi lama dalam kesusastraan masyarakat Indonesia (atau Melayu) yang jumlah barisnya lebih dari 4. Talibun memiliki baris antara 16-20, serta mempunyai persamaan bunyi pada akhir baris. Baris pada Talibun ada juga yang mirip seperti pantun, dengan jumlah baris genap, seperti 6, 8, atau 12.

Baca juga: Musikalisasi Puisi: Pengertian, Unsur, Bentuk dan Langkahnya

Puisi baru

Puisi baru umumnya tidak terikat pada aturan tertentu seperti puisi lama. Namun, tetap memiliki ciri khas pada setiap karya sastra tersebut. Puisi baru juga lebih menekankan pada isi atau makna daripada struktur atau bentuknya.

Contoh:

Sajak Bermakna

Karya: Abdul Rahmat

Kutulis lembar-lembar sajak bermakna
Terangkai indah saat kulamunkan dirinya 
Sembari mengingat senyumnya selalu tercitra
Bibir ini tak henti menuturkan indah parasnya
Dan penaku terus menggoreskan rangkaian aksara
Ditemani lesung di pipi bagai hiasan permata
Karena, setiap otakku memutar memori wajahnya
Saat itu juga larik-larik bermajas tercipta
Dia, ibarat inspirasi kata nan renjana 
Bersanding dengan rembulan bercahaya
Berbinar elok ketika datang purnama
Bagiku, indahnya jua setara bintang di angkasa 

Pada puisi di atas, tidak ada aturan dalam jumlah barisnya. Semua barisnya merupakan isi dari puisi tersebut. Namun, tetap ada ciri khas yang ditampilkan pada puisi tersebut, yaitu bahasa yang padat. 

Baca juga: Jenis-Jenis Tema Puisi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.