Kompas.com - 07/09/2021, 16:30 WIB
Ilustrasi puisi sajak sebatang lisong KOMPAS.com/Gischa PrameswariIlustrasi puisi sajak sebatang lisong

KOMPAS.com - W.S Rendra atau yang dikenal dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra merupakan seorang penyair ternama di Indonesia. Beberapa karyanya yang terkenal adalah puisi, cerpen (cerita pendek), hingga skenario drama.

Dalam dunia sastra, W.S Rendra sangat berjasa dalam pengembangan sastra. Karya-karyanya tidak hanya dikenal di dalam negeri saja, melainkan juga di luar negeri. Salah satu contoh karya sastranya yang cukup terkenal adalah Puisi Sajak Sebatang Lisong.

Dikutip dari buku Kumpulan Esai Apresiasi Puisi (2018) karya Indra Intisa, berikut isi puisi Sajak Sebatang Lisong, karya W.S Rendra:

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Baca juga: Puisi Sapardi Djoko Damono

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Baca juga: 7 Puisi Sapardi Djoko Damono yang Paling Dikenal

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan hanya menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977

Makna puisi Sajak Sebatang Lisong

Dalam jurnal Potret Kesenjangan Pendidikan dalam Puisis “Sajak Seonggok Jagung” Karya W.S Rendra (2015) karya Bernardus T. Beding, puisi Sajak Sebatang Lisong menampilkan realita dunia pendidikan di Indonesia.

Baca juga: Jenis-Jenis Puisi Lama

Dengan jelas, W.S Rendra menampilkan kesenjangan sosial, khususnya pendidikan, dalam puisinya tersebut. Pendidikan di Indonesia dikembangkan berdasarkan status sosial. Hal ini terlihat pada bait pertama dan bait kedua puisi:

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Selain itu, puisi ini juga mengandung kritikan yang ditujukan kepada penguasa, dalam hal ini pemerintah. Kritikan tersebut disampaikan dalam konteks sosial, khususnya pendidikan. Sangat jelas terlihat kesenjangan para penguasa dengan masyarakat.

Penguasa membuat peraturan atau kebijakan yang sewenang-wenang. Sedangkan banyak anak yang tidak mampu menempuh pendidikan, serta masyarakat yang harus kesusahan mencari pekerjaan. Kritik yang disampaikan kepada penguasa pun seolah tidak dihiraukan.

Baca juga: Membaca Puisi Karya Chairil Anwar, Jawaban Soal TVRI 10 September

Bisa disimpulkan jika puisi Sajak Sebatang Lisong ini memiliki dua makna penting, yakni:

  1. Membahas soal kesenjangan sosial, khususnya pendidikan.
  2. Penguasa yang berbuat sewenang-wenang, sedangkan banyak masyarakat kesusahan.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.