Kompas.com - 05/05/2021, 20:08 WIB
[Tangkapan Layar] Rumah Banjar Khas Kalimantan Selatan Youtube/SmartPoint TV[Tangkapan Layar] Rumah Banjar Khas Kalimantan Selatan

KOMPAS.com - Suku Banjar merupakan salah satu subsuku yang mendiami Kalimantan Selatan sebagai kampung halamannya. Suku Banjar merupakan suku percampuran antara Suku Dayak bukit dengan Suku Melayu suku-suku lainnya yang mendatangi Kalimantan Selatan.

Nama banjar memiliki arti meletakkan pancing untuk menangkap ikan, cocok dengan orang Suku Banjar yang pada umumnya menangkap ikan dan bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Suku Banjar Kalimantan Selatan memiliki dua jenis rumah adat yaitu Rumah Bumbungan Tinggi dan Rumah Gajah Baliku.

Keduanya dipengaruhi oleh percampuran budaya dari imigran yang masuk ke Kalimantan Selatan. Hingga saat ini kedua rumah tersebut masih bisa ditemukan dan ditinggali oleh pemiliknya.

Karakteristik Rumah Banjar

Pada umumnya rumah banjar memiliki karakteristik yang serupa. Rumah Banjar adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan ketinggian sekitar 1,5 hinga 2,5 meter diatas permukaan tanah.

Dilansir dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, atap Banjar menjulang dengan kemiringan 45 derajat, atap bagian depan disebut sindang langit dan atap bagian belakang disebut hambin awan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: 65 Nama Tari di Indonesia dan Asal Daerahnya

Pada dasarnya, rumah banjar berbentuk persegi panjang dengan dua buah anjungan disebelah kanan dan kiri rumah. Rumah dilengkapi dengan tangga dengan jumlah anak tangga ganjil.

Dahliani dalam jurnal berjudul Eksistensi Rumah Tradisional Banjar Sebagai Identitas Kawasan Bersejarah di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin menyebutkan Rumah Banjar memiliki dua buah pintu atau pintu kembar yang keduanya dibatasi dengan dinding penghalang bernama tawing halat.

Rumah Banjar dibuat dengan kayu ulin, merupakan kayu yang sangat kuat sehingga disebut dengan kayu besi. Rumah Bubungan Tinggi dibuat dengan konstruksi yang bertujuan agar bisa berdiri kokoh dalam waktu yang sangat lama.

Ira Mentayani dalam jurnal Analisis Asal Mula Arsitektur Banjar, menjelaskan bahwa kunci konstruksinya adalah elemen tiang, balok watun, dan balok pengaku yang saling mengikat dan mengkakukan. Sehingga rumah tersebut dapat bertahan hingga lebih dari satu abad.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X