Kompas.com - 06/11/2020, 19:11 WIB

KOMPAS.com – Keberagaman suku bangsa dan budaya yang dimiliki oleh Indonesia rentan menimbulkan konflik. Baik konflik vertikal maupun konflik horizontal. Konflik salah satunya timbul akibat adanya diskriminasi.

Diskriminasi biasanya terjadi dalam agama, ras, gender, dan suku. Munculnya tindakan diskriminasi memperlihatkan bahwa tindakan menghargai persamaan kedudukan warga negara Indonesia belum diterapkan secara maksimal.

Padahal dalam UUD NRI Tahun 1945 dijelaskan bahwa semua warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Agar konflik dan diskriminasi tidak terulang kembali, tindakan menghargai persamaan kedudukan warga negara Indonesia wajib dilakukan.

Baca juga: Persamaan Kedudukan Warga Indonesia dalam Kehidupan Bernegara

Dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dijelaskan bahwa ada beberapa cara menghargai persamaan kedudukan warga negara, antara lain:

Indonesia memiliki beragam ras, antara lain malayan mongoloid, melanosoid, kaukasoid, dan asiatic mongoloid. Semua ras tersebut merupakan warga negara Indonesia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Jadi, perbedaan ras seharusnya tidak dijadikan masalah. Justru dijadikan pemicu terbentuknya integrasi nasional.

  • Menghargai persamaan kedudukan warga negara tanpa membedakan agama

Pasal 29 UUD NRI Tahun 1945 telah mengatur bahwa semua warga negara memiliki hak untuk memeluk agamanya masing-masing. Berdasarkan aturan tersebut, setiap warga negara Indonesia tidak boleh memaksa orang lain untuk memeluk agama tertentu.

Agar kehidupan antar umat beragama bisa berjalan dengan lancar tanpa terjadi diskriminasi, maka perlu diterapkan sikap toleransi antar umat bergama.

Baca juga: Warga Negara dan Pewarganegaraan di Indonesia

  • Menghargai persamaan kedudukan warga negara tanpa membedakan gender

Dalam dari buku Gender dalam Hubungan Internasional Indonesia – Australia (2019) karya Abubakar Eby Hara, gender merupakan perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang mengalami konstruksi dalam proses sosial dan kultural yang panjang.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.