Kompas.com - 15/02/2020, 10:00 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
Penulis Ari Welianto
|

KOMPAS.com - Indonesia tidak hanya memiliki keragamaan budaya, suku bangsa, agama, atau etnis.

Indonesia juga punya keragaman kalender lokal ditiap daerah. Penanggalan yang dilakukan berbeda antara satu etnis dengan etnis lain.

Menariknya kalender-kalender lokal tersebut telah diselesaikan dengan diadopsi sistem tahun masehi sebagai kalender nasional.

Dikutip situs www.Indonesia.go.id, meski secara nasional bangsa Indonesia telah menggunakan sistem tahun masehi sebagai penanda waktu.

Baca juga: Arab Saudi Resmi Gunakan Kalender Masehi

Tapi bukan berati kalender lokal serta merta hilang begitu saja. Bahkan kedua kalender masih hidup berdampingan hingga sekaran.

Masing-masing memiliki fungsi dan makna yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kalender lokal

Ada beberapa kalander lokal berbasis keragaman etnis di Indonesia. Mereka memiliki fungsi dan makna yang berbeda-beda.

Berikut kalender-kalender tersebut:

Kalender Masehi

Kalender masehi digunakan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tujuannya untuk mempermudah komunikasi antar dunia.

Dalam kalender masehi mempunyai perhitungan 12 bulan dalam satu tahun dan tujuh hari dalam satu minggu.

Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), penghitungan hari berdasarkan kalender Matahari ini ditetapkan dan mulai diberlakukan oleh penguasa kerajaan Romawi pada tahun 47 bernama Julius Caesar.

Kalender Masehi dihitung berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari.

Baca juga: Alasan Februari Hanya 28 Hari

Satu tahun dalam kalender masehi adalah lamanya bumi mengelilingi matahari, yaitu 365 hari 5 jam, 48 menit 46 detik.

Kalender Hijriyah

Kalander hijriyah menjadi kalender yang digunakan oleh penganut Agama Islam.

Masyarakat di Indonesia selain memakai kalender masehi juga menggunakan kalender hijriyah.

Itu untuk menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah atau hari-hari penting Islam.

Sistem kalender hijriah dibuat pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab antara tahun 586 M–644 M (Masehi).

Tahun pertama hijriah ditetapkan ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi

Kalender Jawa

Kalender Jawa juga digunakan orang-orang Indonesia, khususnya suku jawa. Kalender jawa mulai digunakan di Pulau Jawa sejak 1625 zaman Kerajaan Mataram yang dipimpin Sultan Agung.

Baca juga: Tahun Barunya Sama, Kalender Jawa dan Islam Ternyata Beda

Kalender Jawa diyakini merupakan perpaduan antara budaya Islam, Hindu-Budha, Jawa, dan budaya barat. Itu membuat penanggalan tersebut memiliki keistimewaan.

Kalender jawa memakai sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya.

Biasanya penanggalan tersebut menjadi basis penghitungan untuk menentukan hari baik dan hari buruk.

Sering juga berfungsi untuk menentukan momentum hari “H” perkawinan berdasar pada penghitungan hari lahir kedua mempelai (dalam bahasa Jawa disebut “weton”).

Kalender Sunda

Kalender Sunda sebenarnya mirip dengan kalander masehi. Bedanya kalender sunda mempunyai nama-nama hari, minggu, dan bulan yang berbeda.

Seperti urutan bulan menurut kalender sunda, yakni Kartika, Margasira, Posya, Maga, Paliguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji.

Baca juga: Kalender Jawa, Akulturasi Budaya Islam-Hindu

Kalender Saka

Kalender saka berasal dari India yang menggabungkan antara penanggalan matahari dan bulan. Kalender tersebut dikenal juga Syamsiah-Kamariah.

Kalender saka dimulai pada 78 masehi. Pada umumnya digunakan oleh masyarakat Indonesia bagian barat sebelum masuk ajaran Islam Nusantara.

Hingga saat ini orang-orang di Indonesia masih ada yang memakai kalender saka.

Kalender Saka Bali

Kalender saka bali pada umumnya digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali.

Kalender tersebut merupakan pengembangan dari kalender saka yang sudah dimodifikasi oleh budaya-budaya kedaerahan.

Fenomena unik

Adanya keragaman kalender di Indonesia sebagai fenomena paling unik. Bahkan antara kalender nasional dan lokal tidak ada masalah dan bisa bersaing.

Jika bicara kalander nasional tentu akan bicara agenda Indonesia modern. Fungsi kalender tersebut dalam ruang kehidupan bangsa Indonesia terlihat dimaknai sebagai lebih bersifat profan ketimbang sakral.

Baca juga: Perbedaan Sebelum Masehi dan Masehi

Kalau bicara soal kesakralan, hari atau bulan,lebih berpedoman pada sistem penanggalan tradisional mereka masing-masing.

Sudah tentu, kalendar nasional ini bukannya tanpa memiliki kelompok kategori “hari sakral”. Proses pembentukan Indonesia dan definisi keindonesiaan jelas saling terjalin berkelidan dalam hadirnya sistem penanggalan nasional.

Bukan tidak mungkin dengan keragaman etnis, suku jawa, atau budaya memiliki sistem kalander lokal masing-masing.

Tapi keanekaragaman kalender lokal itu kini telah disatupadukan oleh sejarah kolonialisme melalui pengadopsian penanggalan sistem tahun Masehi, sekalipun tanpa melalui konsensus atau sebuah sumpah.


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X