Tata Sosial Masyarakat Desa

Kompas.com - 10/01/2020, 14:00 WIB
Warga Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, Menggelar Tradisi Kirab Budaya Minggu (1/9/2019) KOMPAS.COM/MARKUS YUWONOWarga Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, Menggelar Tradisi Kirab Budaya Minggu (1/9/2019)

KOMPAS.com - Masyarakat desa dikenal erat dan dekat hubungan sesamanya.

Meskipun kini banyak desa yang tak lagi seperti itu, hubungan masyarakat desa masih bisa terasa, apalagi jika dibanding dengan kota.

Surjono Sukamto dalam bukunya Sosiologi: Suatu Pengantar (1982) mengemukakan ciri- ciri masyarakat desa yang membedakan dari masyarakat kota. Berikut ciri-cirinya:

  • Hubungan erat

Masyarakat desa punya hubungan kekerabatan yang erat. Ini dikarenakan penduduknya biasanya berasal dari keturunan sama.

Baca juga: Desa: Arti, Unsur, dan Cirinya

Antara satu warga dengan warga yang lainnya biasanya masih punya hubungan keluarga dan saudara.

  • Agrikultur

Penduduk desa biasa mengandalkan hidup dari agrikultur. Ada yang menggarap sawah, kebun, ternak, hingga melaut.

Kini, banyak warga desa yang hanya bekerja sebagai buruh tani sebab sawahnya dimiliki oleh orang yang tidak tinggal di desa.

Ada juga warga desa yang bekerja di sektor informal seperti tukang kayu, buruh bangunan, tukang genteng, dan sebagainya.

Baca juga: Klasifikasi dan Bentuk Desa

  • Tradisional

Bertani dan pekerjaan lainnya masih dilakukan dengan tradisional. Ini menyebabkan banyak desa yang hanya mampu memenuhi kebutuhannya sendiri atau sering disebut subsistance farming.

  • Adat dan tradisi

Senior atau tetua desa memegang peranan penting dalam masyarakat. Mereka selalu dimintai saran dan pendapat terkait masalah di desa, khususnya masalah pelik.

Generasi yang lebih tua ini juga masih memegang adat dan tradisi dengan kuat. Mereka menurunkannya ke generasi yang lebih muda agar bisa dilestarikan.

Baca juga: Manfaat Desa dan Masalah di Desa

Gemeinschaft

Selain itu, masyarakat desa juga dicirikan dengan hubungan pola komunitas gemeinschaft.

Gemeinschaft dalam bahasa Inggris disebut communal society atau masyarakat komunal. Dalam bahasa Indonesia disebut paguyuban.

Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama, anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat alami dan kekal. Dasar hubungan adalah rasa cinta dan rasa persatuan yang telah dikodratkan.

Biasanya paguyuban lahir dari dalam diri individu ditandai dengan rasa solidaritas dan identitas yang sama. Keinginan untuk berhubungan didasarkan atas kesamaan dalam keinginan dan tindakan.

Kesamaan individu merupakan faktor penguat hubungan sosial, yang kemudian diperkuat dengan hubungan emosional serta interaksi antar individu.

Baca juga: Pengertian dan Perbedaan Gemeinschaft dan Gesellschaft

Di pedesaan, masyarakat tani yang melambangkan gemeinschaft, hubungan pribadi didefinisikan dan diatur berdasarkan aturan sosial tradisional.

Orang-orang memiliki hubungan tatap muka yang sederhana dan langsung satu sama lain yang ditentukan oleh wesenwille (kehendak alami), sebagai emosi alami dan spontan serta ekspresi sentimen.

Ciri-ciri masyarakat desa

Sementara, dikutip dari Tradisi, Agama, dan Akseptasi Modernisasi Pada Masyarakat Pedesaan Jawa (2016), Khairudin menjabarkan ciri desa dari masyarakatnya. Berikut ciri-ciri masyarakat desa:

  1. Pekerjaan bersifat homogen atau sama. Masyarakat desa lebih banyak bergantung pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
  2. Masyarakat berukuran kecil. Jumlah penduduknya tidak sebanyak di kota. Pertumbuhannya juga tidak masif. Ini dikarenakan penduduk desa harus mempertimbangkan keseimbangan potensi alam.
  3. Kepadatan penduduk tergolong rendah. Rasio antara luas wilayah dengan penduduknya kecil. Ini bisa terlihat dari rumah di desa yang masih punya pekarangan dan tidak menempel dengan tetangganya.
  4. Lingkungan fisik, biologis, dan sosial budaya masih terjaga dengan baik.
  5. Diferensiasi sosial rendah. Tak banyak perbedaan antara warga satu dengan lainnya. Penduduknya punya kesamaan dalam hal pekerjaan, adat istiadat, bahasa, bahkan hubungan kekerabatan.
  6. Stratifikasi sosial yang tidak terlalu mencolok. Kelas atau tingkatan sosial masyarakat desa tidak terlalu banyak dan lebar.
  7. Mobilitas sosial masyarakat relatif rendah. Pekerjaan dan ikatan masyarakat yang terbatas membuat masyarakat desa tak butuh kerap bepergian.
  8. Interaksi sosial masyarakat desa lebih intensif. Komunikasinya juga bersifat personal sehingga antara satu dengan yang lainnya saling mengenal.
  9. Solidaritas sosial pada masyarakat pedesaan sangat kuat. Ini karena mereka punya kesamaan ciri, sosial, ekonomi, budaya, dan tujuan hidup.
  10. Kontrol sosial masyarakat pedesaan dilakukan lewat norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Ada sanksi sosial bagi masyarakat yang melanggar.
  11. Tradisi lokal masyarakat desa masih kuat. Tradisi diturunkan dari generasi ke generasi.

Baca juga: Perbedaan Hukum Kebiasaan dan Hukum Adat

(Sumber: KOMPAS.com/Arum Sutrisni Putri)

 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X