Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 09/12/2022, 08:02 WIB

KOMPAS.com - Kejadian traumatis bisa mengubah otak manusia. Peneliti telah melakukan banyak penelitian untuk meneliti apa yang terjadi pada otak. Penelitian menjadi menarik karena yang terjadi pada otak bukanlah kejadian fisik, seperti kecelakaan atau benturan.

Penelitian ini dilakukan di ZVR Lab Del Monte Institute for Neuroscience di University of Rochester dan dipimpin oleh asisten profesor Benjamin Suarez Jimenez, Ph.D.

Penelitian ini fokus memelajari bagaimana otak membedakan mana yang aman dan tidak bagi diri seseorang setelah mengalami trauma, terutama yang melibatkan perasaan.

Hasilnya, otak menunjukkan mekanisme spesifik setelah mengalami trauma dalam merespons suatu hal. Hal ini terbukti dari respons yang terlihat pada saat pemeriksaan MRI.

Nantinya, mekanisme ini bisa membantu untuk meningkatkan perawatan pada orang dengan post traumatic stress disorder (PTSD) agar lebih efektif.

Penelitian dampak trauma pada otak manusia

Dikutip dari Science Daily, Kamis (8/12/2022) peneliti melakukan uji coba pada pasien yang memiliki trauma, baik dengan atau tanpa gangguan psikologis lainnya, seperti PTSD, depresi, dan kecemasan.

Baca juga: Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru Alami Trauma, Ini Kata Psikolog

 

Selanjutnya, dalam studi tentang dampak trauma otak ini, peneliti menunjukkan beberapa lingkaran yang berbeda ukurannya, dengan salah satu ukurannya dihubungkan dengan ancaman atau bahaya. Seluruh proses ini direkam menggunakan MRI.

Hasilnya, pasien yang memiliki PTSD menunjukkan sinyal otak yang lebih rendah antara hipokampus dan mekanisme yang aktif ketika belajar dan bertahan. Hipokampus adalah bagian otak yang bertanggung jawab atas emosi dan ingatan.

Selain itu, sinyal otak pada amigdala dan bagian otak yang aktif ketika seseorang sedang tidak fokus juga sangat rendah.

Hal ini menunjukkan bahwa pasien dengan PTSD tidak memiliki kemampuan untuk membedakan lingkaran yang diberikan.

Pada kehidupan nyata, mereka akan cenderung menyimpulkan semua kejadian sebagai sesuatu yang berbahaya bagi mereka dan harus dihindari.

Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa trauma otak menyebabkan disfungsi otak pada bagian yang bertanggung jawab untuk memproses rasa takut dan respons. Padahal bagian ini sangat penting bagi manusia di kehidupan nyata.

Peneliti juga menyatakan pentingnya melakukan penelitian lebih lanjut di laboratorium untuk menguji coba dampak trauma otak yang berkaitan dengan emosi seseorang.

Baca juga: Hati-hati, Anak Bisa Trauma karena Konstipasi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+