Viral Video Anak Divaksin dengan Paksa, Psikolog: Minta Maaf dan Dengarkan Kegelisahan Anak

Kompas.com - 14/01/2022, 18:02 WIB
Ilustrasi vaksin Sinovac diizinkan BPOM untuk digunakan dalam vaksinasi anak di Indonesia, yakni pada kelompok anak usia 12-17 tahun. Hasil uji klinis awal di China menunjukkan, suntikan penguat dosis ketiga vaksin Covid-19 memberikan peningkatan antibodi hingga 10 kali lipat pada anak dalam waktu seminggu. SHUTTERSTOCK/Tatevosian YanaIlustrasi vaksin Sinovac diizinkan BPOM untuk digunakan dalam vaksinasi anak di Indonesia, yakni pada kelompok anak usia 12-17 tahun. Hasil uji klinis awal di China menunjukkan, suntikan penguat dosis ketiga vaksin Covid-19 memberikan peningkatan antibodi hingga 10 kali lipat pada anak dalam waktu seminggu.

KOMPAS.com - Viral di media sosial video seorang anak sekolah dasar yang akan disuntikkan vaksinasi Covid-19 metonta-ronta, karena dipaksa oleh guru dan petugas medisnya.

Seperti diketahui, Indonesia saat ini masih menjalankan progam vaksinasi Covid-19 untuk anak-anak usia 6-11 tahun. Pada umumnya, anak usia ini merupakan mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Video anak yang akan disuntik vaksin Covid-19 secara paksa itu diunggah oleh akun tiktok @leingtaiwong sekitar satu minggu yang lalu, dan telah menyebar di berbagai platform media sosial lainnya seperti Facebook.

Baca juga: Kondisi Anak Usia 6-11 Tahun yang Boleh dan Tidak Boleh Vaksin Covid-19

Dalam video tersebut, terlihat seorang anak yang dipanggil Bento dalam kondisi ketakutan melihat jarum suntik yang akan menyentuh bahunya.

Ia pun menangis sambil berontak untuk tidak disuntik dan beberapa petugas serta guru di sekitarnya harus menahan wajah dan tangan beserta kaki Bento secara paksa.

Karena sangat takutnya, sampai-sampai Bento terlihat sempat menggigit tangan gurunya dan menepis jarum suntik yang siap untuk disuntikkan ke lengannya.

Dalam unggahannya itu, @leingtaiwong tidak menuliskan keterangan atau caption apapun. Tetapi, warganet ramai turut prihatin dan memberikan kritik terhadap pelaksanaan program vaksinasi untuk anak yang dilakukan dengan cara pemaksaan seperti itu.

Meskipun tujuan program vaksinasi Covid-19 pada anak-anak ini untuk menjaga anak, agar tidak mudah terinfeksi virus SARS-CoV-2 dan varian-varian baru yang ada, netizen juga menyayangkan jika anak harus disuntik vaksin dengan cara dipaksa seperti itu.

"Kalau anak takut disuntik jangan dipaksa dong!!! dia sudah takut malam dikasarin gitu. Itu anak orang woy!!!" tulis akun @emon2606

"Saya tahu vaksin itu penting, tapi ga segitunya juga Bu!!! kalo itu anak saya pasti kalian udah saya teriakin," tambah akun @mamahsetengahtua

Sementara, beberapa netizen lainnya mengingatkan bahwa sebenarnya untuk membuat anak-anak yang takut divaksin tidak harus dengan cara dipaksa, karena banyak hal lain yang bisa dilakukan misal dengan merayu, memberikan pengertian ataupun mendampinginya.

"Jangan dipaksa dong.... anak saya aja kemarin mau divaksin di rayu dulu di omongin dulu biar dia tenang dan ngerti... kalo gitu namanya pemaksaan," ucap akun @ratihmmhseptii

Tidak perlu ada pemaksaan terhadap anak

Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani S.Psi., M.Si mengatakan, meskipun tujuan atau target dari vaksinasi ini baik untuk anak tersebut, seharusnya tidak perlu dengan cara dipaksa atau pemaksaan seperti itu.

"Duh kasihan amat. Sebetulnya enggak perlu ada pemaksaan," kata Nina sapaan akran Anna Surti kepada Kompas.com, Jumat (14/1/2022).

Nina menjelaskan, pemaksaan terhadap anak untuk mau melakukan vaksinasi itu tidak perlu dilakukan, jika sejak awal sudah menjalankan pembiasaan selama pravaksin.

Maksudnya adalah anak-anak perlu dikenalkan atau diberikan pemahaman terlebih dahulu mengenai kondisi atau situasi, yang mungkin akan mereka alami saat jadwal vaksinasi mereka tiba.

"Tapi memang pravaksin perlu ada pembiasaan (conditioning) yang agak panjang, dan bagi anak yang sudah pernah mengalami pengalaman buruk saat disuntik sebelumnya, perlu lebih panjang lagi," kata dia.

Namun, pembiasaan pada masa pravaksin itu tidak boleh hanya menakut-nakuti anak, membohongi anak, ataupun mengancam anak agar mau divaksin.

Nina menyarankan untuk memberikan anak pemahaman tentang pentingnya vaksin bagi tubuh mereka, dengan menyampaikan hal-hal yang positif tanpa membohonginya.

"Bisa kita bilang ke anak, kalau mereka mau divaksin artinya mereka hebat dan mereka itu pahlawan. Karena orang yang mau divaksin itu bisa menyelamatkan nyawanya sendiri dan nyawa orang lain juga," saran Nina.

Baca juga: Sekolah Tatap Muka di Tengah Omicron, Ini yang Harus Dilakukan untuk Menjaga Imunitas Anak

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.